Loading

Dalam kitab nashoihul Ibad, Syaikh Nawawi Banten menukil sebuah peringatan tajam dari Abu Bakr Ash-Shiddiq RA tentang manusia yang memasuki alam akhirat tanpa bekal amal. Ia berkata:
مَنْ دَخَلَ الْقَبْرَ بِغَيْرِ زَادٍ كَمَنْ رَكِبَ الْبَحْرَ بِلَا سَفِينَةٍ
Artinya:
Barang siapa masuk ke dalam kubur tanpa bekal, maka ia seperti orang yang mengarungi lautan tanpa perahu.

Ungkapan ini bukan sekadar nasihat tentang kematian, tetapi kritik mendalam tentang cara manusia menjalani kehidupan. Kubur adalah gerbang pertama akhirat, dan amal adalah satu-satunya bekal yang ikut masuk. Tanpa amal, manusia tidak benar-benar sampai, melainkan hanyut. Dalam dunia usaha, peringatan ini terasa sangat relevan. Banyak orang bekerja keras, berani mengambil risiko, dan berlari mengejar target, tetapi lupa menyiapkan perahu keselamatan. Bisnis bergerak, omzet bertambah, namun arah hidup justru kehilangan makna.

Abu Bakr Ash-Shiddiq RA memahami bahwa kehidupan ini ibarat lautan luas. Dunia menawarkan peluang, tetapi juga menyimpan badai. Usaha dan bisnis adalah layar yang membuat perjalanan cepat, tetapi iman dan amal saleh adalah perahu yang menentukan apakah seseorang sampai ke tujuan atau tenggelam di tengah jalan. Dalam konteks pengusaha Muslim, perahu itu adalah kejujuran, amanah, keadilan, dan kebermanfaatan sosial. Tanpanya, keberhasilan duniawi justru dapat menjadi sebab kehancuran akhirat.

Temuan lapangan dalam penelitian saya menunjukkan pola yang berulang. Banyak pengusaha memulai usaha dengan niat baik, tetapi di tengah jalan orientasi bergeser. Kejujuran mulai dinegosiasikan, hak pekerja dikompromikan, dan kebermanfaatan sosial dianggap beban. Mereka tetap bergerak, bahkan semakin cepat, tetapi tanpa sadar telah melepas perahu nilai. Ketika krisis datang, yang runtuh bukan hanya bisnis, melainkan juga ketenangan jiwa.
Syaikh Nawawi Banten menguatkan pesan ini dengan menukil hikmah dari Umar bin Khattab RA:

عِزُّ الدُّنْيَا بِالْمَالِ، وَعِزُّ الْآخِرَةِ بِصَالِحِ الْأَعْمَالِ
Artinya:
Kemuliaan dunia ditopang oleh harta, sedangkan kemuliaan akhirat ditopang oleh amal saleh.

Harta memang penting dalam bisnis, tetapi ia hanya memberi kemuliaan sementara. Amal saleh adalah bekal abadi. Pengusaha yang hanya mengandalkan keuntungan finansial sejatinya sedang berlayar cepat tanpa perahu keselamatan. Saat ombak datang, tidak ada yang menahan mereka dari tenggelam.

Makna bekal dalam atsar Abu Bakr RA tidak berhenti pada ritual ibadah. Bekal itu hadir dalam praktik usaha sehari-hari. Tidak menzalimi mitra, tidak memeras tenaga kerja, tidak menipu konsumen, dan tidak merusak tatanan sosial. Data lapangan menunjukkan bahwa pengusaha yang memegang nilai-nilai ini mungkin tidak selalu menjadi yang paling cepat kaya, tetapi mereka lebih tahan menghadapi badai. Kepercayaan pelanggan, loyalitas karyawan, dan ketenangan batin menjadi modal yang tidak tercatat dalam laporan keuangan, tetapi nyata menopang keberlangsungan usaha.

Bisnis tanpa perahu bukan berarti anti kerja keras atau menolak kekayaan. Ia adalah kritik terhadap usaha yang kehilangan orientasi akhirat. Ia mengajak pengusaha Muslim berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri. Apakah bisnis ini sedang membangun bekal, atau justru menghabiskannya. Apakah setiap keputusan mendekatkan pada keselamatan, atau hanya mempercepat perjalanan tanpa tujuan.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, pertanyaan ini menjadi semakin penting. Jika suatu hari perjalanan ini harus berhenti dan kita dipanggil memasuki pelabuhan terakhir, perahu apa yang akan kita gunakan. Apakah amal-amal kita cukup kuat untuk menyeberangkan, atau selama ini kita hanya mengandalkan arus keuntungan dan harapan kosong. Bisnis boleh terus berjalan, tetapi bekal tidak boleh dilupakan. Sebab lautan dunia luas, dan tanpa perahu, tidak ada yang benar-benar sampai.