Loading

Dunia modern bergerak cepat, tetapi kegelisahan manusia justru semakin dalam. Konflik, pertengkaran identitas, dan kegamangan makna sering kali tidak berangkat dari kekurangan pengetahuan, melainkan dari kerusakan batin.

Di tengah situasi inilah Nashoihul Ibad karya Syaikh Nawawi Banten menghadirkan peringatan yang sederhana namun menentukan arah hidup. Pada maqolah ke-18 bab Tsanai, beliau tidak berbicara tentang strategi sosial atau politik, tetapi tentang dua fondasi paling dasar dalam diri manusia yaitu, hati dan pikiran.

Syaikh Nawawi menuliskan sebuah kaidah yang sangat singkat, tetapi mengandung peta jalan keselamatan batin dan sosial:

وَقِيلَ: مَنْ تَرَكَ الذُّنُوبَ رَقَّ قَلْبُهُ، وَمَنْ أَكَلَ الْحَلَالَ صَفَتْ فِكْرَتُهُ

Artinya: “Dikatakan: barang siapa meninggalkan dosa, hatinya akan menjadi lembut; dan barang siapa memakan yang halal, pikirannya akan menjadi jernih.” (halaman 14)

Maqolah ini menegaskan bahwa sumber ketegangan hidup bukan pertama-tama terletak pada perbedaan pandangan, tetapi pada kondisi batin yang mengeras dan pikiran yang keruh. Hati yang lembut cenderung mampu menahan diri, mendengar dengan empati, dan menghindari kezaliman, bahkan ketika berbeda. Sebaliknya, hati yang terbiasa dengan dosa akan kehilangan kepekaan. Ia mudah curiga, cepat marah, dan gemar membenarkan kekerasan dengan dalil. Pada titik inilah agama berubah dari jalan rahmat menjadi alat pembenaran.

Bagian kedua maqolah ini menautkan langsung antara kehalalan rezeki dan kejernihan cara berpikir. Ini bukan sekadar nasihat fikih, melainkan psikologi spiritual. Pikiran yang jernih lahir dari rezeki yang bersih. Orang yang terbiasa mengambil jalan halal akan terlatih menimbang akibat, sabar dalam proses, dan tidak tergesa mencari jalan pintas. Sebaliknya, ketika yang haram dinormalisasi, cara berpikir ikut rusak. Rasionalitas berubah menjadi alat pembenaran, bukan alat penimbang kebenaran.

Di titik inilah, saya pernah mendengarkan ceramah Kiai Ahmad Muwaffiq dapat dibaca sebagai penjelasan konteks manusia Nusantara, bukan sebagai ruh utama tulisan. Beliau menjelaskan bahwa manusia Indonesia tumbuh dalam tradisi simbolik, kultural, dan bertahap. Manusia semacam ini tidak dibentuk dengan benturan frontal, melainkan dengan penanaman makna yang pelan namun dalam.

Penjelasan ini membantu kita memahami mengapa kelembutan hati dan kejernihan pikir menjadi kunci keberagamaan di Nusantara, bukan karena orang Indonesia kurang tegas, tetapi karena struktur batinnya dibangun melalui rasa dan makna.

Namun inti persoalan tetap kembali pada maqolah Syaikh Nawawi. Lembutnya hati tidak lahir dari metode dakwah semata, tetapi dari keberanian meninggalkan dosa.

Jernihnya pikir tidak lahir dari kecerdasan intelektual belaka, tetapi dari komitmen menjaga halal dalam hidup sehari-hari. Inilah sebabnya mengapa kerukunan sosial dan keberagamaan yang sehat tidak bisa dipaksakan lewat aturan saja, tetapi harus dibangun dari dalam diri manusia.

Jika maqolah ini dibaca secara jujur, ia sekaligus menjadi cermin. Banyak kegaduhan hari ini bukan karena kurangnya kajian atau dalil, tetapi karena dosa yang dibiarkan menumpuk dan keharaman yang dinormalisasi. Ketika hati mengeras dan pikiran keruh, manusia mudah memelintir agama untuk melayani kepentingannya. Sebaliknya, ketika dosa dikurangi dan halal dijaga, agama kembali menjadi sumber ketenangan, bukan ketegangan.

Walhasil, apakah hati kita masih cukup lembut untuk menerima kebenaran meski datang dari arah yang tidak kita sukai. Apakah pikiran kita masih cukup jernih untuk membedakan antara maslahat dan ambisi. Sebab keutuhan hidup, keutuhan masyarakat, bahkan keutuhan bangsa, selalu bermula dari keutuhan batin manusia itu sendiri.

_________

Dr. Sismanto, M.Pd.

*Ketua Tanfidziah PCNU Kutai Timur