![]()
Sabtu, 10 Januari 2026, saya mendapat undangan untuk mewakili PCNU Kutai Timur dalam pembukaan pelatihan dai yang diselenggarakan oleh IKADI Kutai Timur di Teras Balad. Di ruang pertemuan yang sederhana itu, saya duduk di antara para dai dengan latar belakang yang beragam. Tema pelatihan terasa aktual, tetapi yang paling mengusik batin justru bukan materi presentasi, melainkan satu pertanyaan yang terus berputar di kepala saya bahwa dalam realitas dakwah, bisnis, dan kehidupan hari ini, siapa yang sebenarnya memimpin diri kita, akal atau hawa nafsu.
Dari kegelisahan itulah ingatan saya kembali pada satu maqolah tajam dalam Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Jawi.
Dalam maqolah ke-17 bab Tsanai, Syaikh Nawawi mengutip ungkapan yang singkat, tetapi sangat menentukan arah hidup manusia. Beliau menulis:
طُوبَى لِمَنْ كَانَ عَقْلُهُ أَمِيرًا وَهَوَاهُ أَسِيرًا، وَوَيْلٌ لِمَنْ كَانَ هَوَاهُ أَمِيرًا وَعَقْلُهُ أَسِيرًا
Beruntunglah orang yang akalnya menjadi pemimpin dan hawa nafsunya menjadi tawanan. Dan celakalah orang yang hawa nafsunya menjadi pemimpin sementara akalnya menjadi tawanan.
Maqolah ini tidak berbicara tentang kecerdasan akademik, gelar pendidikan, atau kepandaian berargumentasi. Yang dibicarakan Syaikh Nawawi adalah struktur kekuasaan di dalam diri manusia. Siapa yang diberi legitimasi untuk memimpin, dan siapa yang harus dikendalikan. Akal yang menjadi amir bukan sekadar akal yang cerdas, tetapi akal yang tunduk pada nilai, mampu menimbang akibat jangka panjang, dan berani mengatakan tidak pada sesuatu yang merusak, meskipun terlihat menguntungkan.
Sebaliknya, ketika hawa nafsu menjadi amir, akal tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Ia tetap aktif, tetapi fungsinya berubah. Akal tidak lagi memimpin, melainkan melayani. Ia dipakai untuk menyusun alasan, membangun narasi, dan mencari legitimasi bagi dorongan nafsu. Inilah yang menjadikan maqolah ini sangat relevan untuk membaca realitas kontemporer. Banyak keputusan besar tampak rasional, sistematis, bahkan ilmiah, tetapi jika ditelusuri lebih dalam, ia lahir dari nafsu yang dibungkus logika.
Dalam konteks ini, akal berperan sebagai alat legitimasi. Segala sesuatu dicari pembenarannya. Kezaliman diberi istilah efisiensi, keserakahan disebut ambisi, dan pengabaian nilai dibungkus dengan dalih realitas. Akal tidak mati, tetapi dipenjara. Ia tahu arah yang benar, namun tidak lagi diberi kuasa untuk menentukan langkah. Inilah yang oleh Syaikh Nawawi disebut sebagai keadaan celaka, bukan hanya di akhirat, tetapi juga dalam kehidupan dunia.
Syaikh Nawawi menjelaskan bahwa orang yang akalnya menjadi amir mampu mengarahkan keinginan, bukan meniadakannya. Nafsu tidak dimatikan, tetapi ditundukkan. Ia ditempatkan sebagai tawanan yang dijaga ketat. Akal semacam ini berkata cukup ketika nafsu berkata tambah. Ia berkata tahan ketika nafsu berkata ambil. Dalam tradisi tasawuf, kekuatan semacam ini justru menjadi tanda kedewasaan spiritual. Bukan kemampuan memuaskan semua keinginan, melainkan kemampuan menahan diri demi tujuan yang lebih bermakna.
Sebaliknya, orang yang hawa nafsunya menjadi amir hidup dalam ilusi kebebasan. Ia merasa merdeka karena bisa melakukan apa yang diinginkan, padahal sesungguhnya sedang diperbudak oleh dorongan yang tidak pernah selesai. Setiap pencapaian melahirkan tuntutan baru. Setiap keberhasilan menimbulkan kecemasan berikutnya. Akal yang terpenjara tidak lagi mengajak merenung tentang makna, batas, dan tujuan akhir. Hidup bergerak cepat, tetapi arah semakin kabur.
Jika maqolah ini dibaca dengan jujur, kita akan menyadari bahwa banyak kegelisahan manusia modern berakar dari legitimasi batin yang keliru. Nafsu diberi tahta, sementara akal yang tercerahkan disingkirkan. Manusia bekerja keras, berdakwah dengan penuh aktivitas, mengejar target dan capaian, tetapi kehilangan ketenangan. Bukan karena kurang usaha, melainkan karena yang memimpin bukan lagi akal yang jernih.
Untuk itu, segera lakukan audit batin dalam setiap keputusan siapa yang sedang kita beri legitimasi. Apakah akal yang menimbang nilai dan akibat, atau hawa nafsu yang hanya ingin dipuaskan. Apakah akal kita benar-benar menjadi amir, atau hanya penjaga pintu bagi ambisi yang tak pernah selesai. Dan jika hari ini hawa nafsu masih duduk di singgasana, pertanyaannya bukan lagi apakah kita salah, tetapi apakah kita berani mulai menurunkannya sebelum hidup benar-benar kehilangan arah.
_______
Dr. Sismanto, M.Pd.
*Ketua Tanfidziah PCNU Kutai Timur