Loading

Setiap kali mengingat makam Sunan Kudus, satu nama selalu muncul lebih dulu dalam batin saya: KH. Turaichan Adjhuri. Bukan semata karena beliau alim atau karena saya pernah nyantri kepadanya, tetapi karena pada diri beliau saya menemukan satu hal yang jarang dibicarakan dalam dunia pendidikan dan keilmuan modern, yaitu ilmu yang selalu mengingatkan pada waktu pulang.

Dalam Kitab Tanbihul Ghafilin, Imam Abu Laits as-Samarqandi membuka bab tentang datangnya kematian dan dahsyatnya dengan nada yang tenang, tetapi menghunjam. Kematian tidak digambarkan sebagai ancaman, melainkan sebagai alat ukur kejujuran hidup. Apakah ilmu, amal, dan kesibukan manusia benar-benar mengarah pada Allah, atau justru menjauh secara perlahan tanpa disadari.

Rasulullah SAW bersabda:

أكثروا ذكر هادم اللذات

يعني الموت

Perbanyaklah kalian mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian

(As-Samarqandī, 2003, hlm. 20,)

Hadis ini dikutip Imam Abu Laits bukan untuk menumbuhkan ketakutan patologis, tetapi untuk mengembalikan orientasi hidup. Dalam Tanbihul Ghafilin, orang yang sering mengingat kematian justru digambarkan sebagai pribadi yang paling rasional dalam mengelola hidupnya. Ia tidak mudah silau oleh dunia, tidak tergesa mengejar ambisi, dan tidak menunda amal.

Kesadaran semacam inilah yang saya rasakan ketika hidup bersama Mbah Turaichan di Langgar Dalem Kudus. Pesantren beliau tidak megah. Hanya satu kamar kecil dengan belasan santri. Tetapi di tempat itulah saya belajar bahwa ilmu falak bukan sekadar ilmu menghitung waktu, melainkan ilmu yang mengajarkan keterbatasan manusia di hadapan ketetapan Allah.

Dalam Tanbihul Ghafilin disebutkan:

قال بعض الحكماء

ثلاثة ليس للعاقل أن ينساها

فناء الدنيا

وتصرف أحوالها بالموت

والآفات التي لا يأمن منها

Sebagian ahli hikmah berkata

Ada tiga hal yang tidak pantas dilupakan oleh orang berakal

Kefanaan dunia

Perubahan keadaan dunia oleh kematian

Dan berbagai bencana yang tidak pernah aman darinya

(As-Samarqandī, 2003, hlm. 18)

Ilmu falak yang dikuasai Mbah Turaichan justru mempertebal kesadaran ini. Menghitung lintasan bulan dan matahari setiap hari adalah latihan batin untuk memahami bahwa waktu tidak pernah berhenti, dan hidup selalu bergerak menuju batas akhir. Kalender yang beliau susun hingga ratusan tahun ke depan tidak membuat beliau merasa menguasai masa depan, tetapi semakin tunduk pada keteraturan kosmik ciptaan Allah.

Imam Abu Laits menegaskan bahwa ilmu akan kehilangan makna jika tidak mengantar pada amal dan kesiapan akhir:

قال النبي ﷺ

الكيس من دان نفسه

وعمل لما بعد الموت

والعاجز من أتبع نفسه هواها

وتمنى على الله الأماني

Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian

Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah

(As-Samarqandī, 2003, hlm. 25)

Kalimat ini terasa hidup ketika saya mengingat kesederhanaan Mbah Turaichan. Di tengah keahliannya yang diakui secara nasional, beliau tetap hidup dalam batas yang cukup. Tidak mengejar popularitas, tidak sibuk membangun simbol kebesaran diri. Ilmu beliau bekerja dalam diam, tetapi manfaatnya luas dan berjangka panjang.

Tanbihul Ghafilin juga menekankan bahwa mengingat kematian adalah cara paling efektif untuk mengendalikan syahwat dan ambisi:

قال سفيان الثوري

ذكر الموت يفسد الشهوات

Sufyan ats-Tsauri berkata

Mengingat kematian akan merusak syahwat

(As-Samarqandī, 2003, hlm. 20)

Dalam konteks ini, ilmu falak justru menjadi sarana tazkiyatun nafs. Setiap perhitungan waktu adalah pengingat bahwa manusia tidak pernah benar-benar berkuasa atas detik yang sedang berjalan. Barangkali inilah sebabnya mengapa Mbah Turaichan tampak selalu tenang. Beliau hidup berdampingan dengan waktu, bukan melawannya.

Ziarah saya ke makam Sunan Kudus dan sowan batin kepada guru saya bukan sekadar nostalgia masa lalu. Ia adalah praktik nyata dari pesan Tanbihul Ghafilin bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang membuat seseorang siap dipanggil kapan saja, tanpa panik, tanpa penyesalan besar, dan tanpa beban dunia yang berlebihan.

Hadir dan ziarah ke maqbarah mengajarkan satu hal penting bahwa

Kematian bukan akhir dari ilmu, tetapi cermin untuk menilai kejujuran ilmu.

Bukan seberapa luas pengetahuan yang kita kuasai, melainkan ke mana ilmu itu menuntun langkah hidup kita. Mari belajar falak lagi, bukan hanya untuk membaca langit, tetapi untuk menakar kesiapan pulang manusia.

_______

Dr. Sismanto

Ketua Tanfidziah PCNU Kutai Timur