Loading

Dalam Nashoihul Ibad, Syaikh Nawawi al-Bantani pada maqolah ke-24 bab tsanai menyingkap akar kesalahan manusia yang sering luput dari kesadaran. Beliau mengingatkan bahwa kehancuran moral dan spiritual tidak selalu diawali oleh dosa besar, tetapi oleh keterikatan batin pada dunia yang melahirkan penundaan amal dan pembiaran nilai.

نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ حُبِّ الدُّنْيَا، وَهِيَ أَصْلُ جَمِيعِ الْخَطَايَا، وَمَا زَادَ عَنِ الْحَاجَةِ، وَأَصْلُ جَمِيعِ الْفِتَنِ مَنْعُ الْعُشْرِ وَالزَّكَاةِ

Kami berlindung kepada Allah dari cinta dunia, karena ia adalah asal dari seluruh kesalahan. Dan segala sesuatu yang melebihi kebutuhan adalah akar dari berbagai fitnah, termasuk enggan menunaikan kewajiban sepersepuluh dan zakat.

Maqolah ini tidak sekadar berbicara tentang harta, tetapi tentang cara pandang hidup. Cinta dunia di sini adalah kondisi ketika manusia merasa aman menunda kewajiban, menunda berbagi, dan menunda kebaikan, seolah waktu selalu tersedia dan kesempatan tidak akan pernah habis.

Syaikh Nawawi kemudian menambahkan peringatan penting tentang sikap batin terhadap kekurangan amal.

وَقِيلَ: الْمُقِرُّ بِالتَّقْصِيرِ أَبَدًا مَحْمُودٌ، وَالْإِصْرَارُ بِالتَّقْصِيرِ عَلَامَةُ الْقَبُولِ

Dikatakan: orang yang selalu mengakui kekurangannya adalah terpuji, sedangkan terus-menerus bertahan dalam kelalaian merupakan tanda rusaknya penerimaan amal.

Pesan ini mengajarkan bahwa kesadaran atas keterbatasan diri adalah pintu keselamatan. Yang berbahaya bukan kekurangan, tetapi rasa nyaman dalam kekurangan. Bukan kegagalan, tetapi kebiasaan menunda perbaikan.

Peringatan tersebut dipertegas oleh syair yang menggugah dan sangat manusiawi.

يَا مَنْ بِدُنْيَاهُ اشْتَغَلْ

قَدْ غَرَّهُ طُولُ الْأَمَلْ

أَوْ لَمْ يَزَلْ فِي غَفْلَةٍ

حَتَّى دَنَا مِنْهُ الْأَجَلْ

Wahai orang yang sibuk dengan dunianya,

telah diperdaya oleh panjangnya angan-angan,

ia terus berada dalam kelalaian,

hingga ajal mendekatinya.

الْمَوْتُ يَأْتِي بَغْتَةً

وَالْقَبْرُ صُنْدُوقُ الْعَمَلْ

اصْبِرْ عَلَى أَهْوَالِهَا

لَا مَوْتَ إِلَّا بِالْأَجَلْ

Kematian datang secara tiba-tiba,

dan kubur adalah peti amal,

bersabarlah menghadapi kedahsyatannya,

tidak ada kematian kecuali pada waktu yang telah ditentukan.

Syair ini menampar kesadaran modern yang terbiasa hidup dalam rencana, target, dan agenda, tetapi sering lupa bahwa kubur tidak menyimpan niat, hanya amal. Tidak ada ruang untuk penundaan, tidak ada tempat bagi rencana yang belum diwujudkan.

Dalam temuan disertasi saya tentang pengusaha Muslim, maqolah ini menemukan relevansi yang sangat nyata. Banyak pelaku usaha mengakui bahwa kegelisahan terbesar bukan berasal dari persaingan pasar, melainkan dari kebiasaan menunda nilai. Menunda keadilan pada karyawan, menunda kejujuran kecil pada konsumen, menunda berbagi ketika sudah mampu. Semua tampak rasional, tetapi perlahan mengikis ketenangan batin.

Sebaliknya, pengusaha yang memutus mata rantai penundaan menunjukkan daya tahan spiritual yang lebih kuat. Mereka tidak menunggu usaha besar untuk berzakat, tidak menunggu lapang untuk berbagi, dan tidak menunggu sempurna untuk berbuat baik. Dalam bahasa Nashoihul Ibad, mereka menyelamatkan amal sebelum ajal memutus kesempatan.

Marilah kita menata ulang relasi dengan waktu. Dunia bukan musuh, tetapi penundaan nilai adalah awal kehancuran. Pertanyaannya bukan lagi seberapa sibuk kita hari ini, tetapi apakah jika ajal datang tiba-tiba, kubur akan terisi oleh amal, atau hanya oleh angan yang terlalu panjang.

Penulis: Dr. Sismanto