Loading

Jumat, 2 Januari 2026, saya ikut rombongan napak tilas isyarah pendirian Nahdlatul Ulama dan singgah di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Pesantren besar yang lahir dari mata air keilmuan dan adab para masyayikh.

Sukorejo saya datangi bukan sekadar sebagai pesantren, tetapi sebagai simpul sejarah besar jam’iyah. Dari tempat inilah KHR. As’ad Syamsul Arifin, kakek dari pengasuh saat ini, pernah mengemban amanah agung dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Amanah itu bukan perkara ringan yakni membawa tasbih dan tongkat untuk disampaikan kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari sebagai isyarah ruhani untuk mendirikan jam’iyah Nahdlatul Ulama. Sebuah mandat yang tidak lahir dari rapat atau naskah tertulis, tetapi dari kedalaman kasyaf para wali, dari bahasa adab yang hanya dipahami oleh mereka yang hatinya bersih dan ilmunya matang.

Hari ini, pesantren ini diasuh oleh KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, pengasuh keempat yang meneruskan estafet kepemimpinan para pendahulunya dengan keteduhan, kewibawaan, dan keteladanan. Di bawah asuhan beliau, Sukorejo tetap berdiri sebagai pesantren yang kokoh dalam tradisi, tetapi lentur menghadapi zaman.

Di sela-sela kunjungan itu, saya menyaksikan satu pemandangan yang barangkali luput dari perhatian banyak orang, para santri dengan tenang dan cekatan menata sandal para tamu. Tidak ada teriakan, tidak ada komando. Sandal-sandal itu disusun rapi, menghadap ke luar, seolah sudah menjadi naluri bersama. Pemandangan yang sederhana, tetapi mengandung pelajaran yang dalam. Di situlah saya teringat ungkapan pesantren yang sejak lama hidup di telinga santri noto sandal.

Ungkapan ini bukan sekadar pepatah lisan. Ia adalah peta adab. Pesan bahwa keteraturan batin tidak pernah lahir dari kekacauan lahir. Menata sandal adalah syariat paling dasar dari latihan ruhani. Dari keteraturan kecil lahir ketenangan. Dari ketenangan tumbuh kekhusyukan. Pesantren tidak mengajarkan kekhusyukan lewat teori, tetapi lewat kebiasaan yang dilatih setiap hari.

Di pesantren, hal-hal kecil dikerjakan dengan kesungguhan. Santri belajar bahwa khidmah mendahului ilmu, adab mendahului kecerdasan. Menata sandal bukan tentang siapa yang paling terlihat berjasa, tetapi siapa yang paling tulus melayani. Di situlah tawadhu’ dibentuk, bukan lewat ceramah panjang, tetapi lewat kerja sunyi yang tidak menuntut pengakuan.

Tradisi menata sandal juga merupakan simbol penghormatan. Bukan hanya sandal kiai yang ditata, tetapi sandal siapa pun yang datang. Pesantren mengajarkan bahwa memuliakan tamu adalah bagian dari memuliakan ilmu. Setiap orang yang datang membawa niat baik harus dipermudah langkahnya, diperingan bebannya, dan dihormati kehadirannya.

Saya teringat pengalaman lama ketika nyantri di Langgar Dalem Kudus. Suatu hari, kiai meminta saya menata sandal para jamaah pengajian. Saya menata semuanya rapi, menghadap ke luar, lalu melapor bahwa tugas telah selesai. Kiai bertanya pelan, “Berapa jumlah sandal yang kamu tata?” Saya terdiam. Saya tidak menghitungnya. Dari situlah saya belajar, menata sandal bukan sekadar soal rapi, tetapi juga kepedulian. Dengan menghitung sandal, tuan rumah bisa memperkirakan berapa gelas dan piring yang harus disiapkan untuk menjamu tamu.

Sejak saat itu saya paham, adab selalu memiliki lapisan makna. Menata sandal memudahkan pemiliknya, menghitung sandal membantu persiapan tuan rumah, dan semuanya bermuara pada satu nilai: melayani dengan hati. Pesantren mengajarkan bahwa kebaikan yang paling bernilai sering kali justru lahir dari hal-hal yang paling sederhana.

Di Pesantren Sukorejo, menata sandal bukan ritual kosong. Ia adalah latihan kesadaran. Kesadaran bahwa hidup disusun dari perkara-perkara kecil yang jika diabaikan akan mengacaukan yang besar. Bahwa orang yang terbiasa merapikan yang kecil, kelak akan lebih bijak ketika harus menata perkara besar. Dari sandal yang tertata rapi, semoga lahir santri yang tertata jiwanya. Dari adab yang dijaga, tumbuh ilmu yang berkah. Dan dari khidmah yang sederhana, Allah titipkan kemanfaatan yang panjang bagi umat.

_______

Dr. Sismanto, M.Pd.

*Ketua Tanfidziah PCNU Kutai Timur