Loading

Salah satu patologi sosial paling menonjol dalam masyarakat kontemporer adalah hilangnya rasa cukup. Di tengah kemajuan ekonomi, akses digital, dan kemudahan hidup, justru muncul kegelisahan kolektif yang tidak pernah selesai. Banyak orang bekerja tanpa henti, memiliki lebih dari cukup, tetapi selalu merasa kurang.

Fenomena ini melahirkan kecemburuan sosial, keluhan kronis, kemarahan simbolik di ruang publik, hingga sikap sinis terhadap kehidupan. Dalam kondisi seperti ini, nikmat tidak lagi dipandang sebagai karunia, melainkan sebagai standar yang harus selalu dilampaui.

Realitas sosial semacam ini sejatinya telah dibaca secara tajam oleh Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Nashoihul Ibad. Pada maqolah ke-26 bab tsanai, beliau mengingatkan bahwa sumber kehancuran batin manusia bukan terletak pada kekurangan nikmat, melainkan pada sikap kufur terhadap nikmat itu sendiri.

وَقِيلَ: كُفْرَانُ النِّعْمَةِ لُؤْمٌ، وَصُحْبَةُ الْأَحْمَقِ شُؤْمٌ

Dikatakan bahwa kufur terhadap nikmat adalah kehinaan, dan berteman dengan orang bodoh adalah kesialan.

Kufur nikmat yang dimaksud di sini bukan semata-mata penolakan lisan terhadap karunia Allah, tetapi sikap batin yang tidak mampu mengelola nikmat dengan adab dan kesadaran. Dalam kehidupan sosial hari ini, kufur nikmat tampak dalam banyak bentuk. Ada orang yang sehat tetapi terus mengeluh.

Ada yang memiliki pekerjaan layak tetapi merasa hidupnya gagal karena membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Ada pula pengusaha yang telah mapan, namun hidup dalam kecemasan berlebihan karena takut kalah bersaing, sehingga rela menempuh jalan tidak etis. Semua ini adalah wajah kufur nikmat yang halus, tetapi dampaknya merusak.

Syaikh Nawawi kemudian memperkuat peringatan ini dengan hadis Nabi SAW yang diriwayatkan secara jelas. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-‘Ash رضي الله عنه.

وَرَوَى التِّرْمِذِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ

خَصْلَتَانِ مَنْ كَانَتَا فِيهِ كَتَبَهُ اللَّهُ شَاكِرًا صَابِرًا، وَمَنْ لَمْ تَكُونَا فِيهِ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ شَاكِرًا وَلَا صَابِرًا

Nabi SAW bersabda, ada dua perkara. Barang siapa memiliki keduanya, Allah mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan bersabar. Dan barang siapa tidak memiliki keduanya, Allah tidak mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan bersabar.

Nabi SAW kemudian menjelaskan dua perkara tersebut dengan ukuran yang sangat realistis dan relevan sepanjang zaman.

مَنْ نَظَرَ فِي دِينِهِ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَهُ فَاقْتَدَى بِهِ، وَنَظَرَ فِي دُنْيَاهُ إِلَى مَنْ هُوَ دُونَهُ فَحَمِدَ اللَّهَ عَلَى مَا فَضَّلَهُ بِهِ كَتَبَهُ اللَّهُ شَاكِرًا صَابِرًا

Barang siapa melihat dalam urusan agamanya kepada orang yang lebih baik darinya lalu meneladaninya, dan melihat dalam urusan dunianya kepada orang yang berada di bawahnya lalu memuji Allah atas karunia yang diberikan kepadanya, maka Allah mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan bersabar.

Sebaliknya, Nabi SAW memberikan gambaran patologi batin yang sangat sering terjadi hari ini.

وَمَنْ نَظَرَ فِي دِينِهِ إِلَى مَنْ هُوَ دُونَهُ، وَنَظَرَ فِي دُنْيَاهُ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَهُ فَأَسِفَ عَلَى مَا فَاتَهُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَكُنْ شَاكِرًا وَلَا صَابِرًا

Dan barang siapa melihat dalam urusan agamanya kepada orang yang lebih rendah darinya, dan melihat dalam urusan dunianya kepada orang yang lebih tinggi darinya lalu bersedih atas apa yang luput darinya, maka ia tidak dicatat sebagai orang yang bersyukur dan bersabar.

Hadis ini seperti peta patologi sosial masyarakat modern. Dalam urusan agama, merasa paling benar, paling saleh, dan paling tahu. Dalam urusan dunia, merasa selalu tertinggal, kalah, dan dizalimi keadaan. Pola pandang semacam ini melahirkan banyak penyakit sosial, seperti budaya menyalahkan, krisis empati, maraknya ujaran kebencian, hingga pembenaran atas perilaku tidak jujur demi mengejar standar hidup semu.

Syaikh Nawawi juga menyebut bahwa berteman dengan orang bodoh adalah kesialan. Kebodohan yang dimaksud bukan rendahnya pendidikan formal, tetapi kebodohan batin yang menormalisasi keluhan, menganggap iri sebagai hal wajar, dan menjadikan ketidakpuasan sebagai identitas.

Dalam konteks kekinian, kebodohan ini sering hadir dalam bentuk ekosistem sosial yang gemar memprovokasi rasa kurang, menertawakan kesederhanaan, dan meremehkan rasa syukur.

Untuk itu, tuntutan fenomena di atas mengajarkan kepada kita bahwa syukur dan sabar bukanlah sikap pasif, melainkan keterampilan batin dalam mengelola nikmat. Ketika nikmat tidak disyukuri, ia berubah menjadi sumber kehinaan. Ketika nikmat disyukuri, ia melahirkan ketenangan, kejernihan akal, dan kesehatan sosial.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah hidup kita penuh nikmat, tetapi apakah nikmat itu telah membentuk jiwa yang bersyukur, atau justru melahirkan patologi sosial yang semakin dalam dan melelahkan.

_________

Dr. Sismanto

Ketua PCNU Kutai Timur