Loading

Di awal Januari 2026, dunia dikejutkan oleh kabar besar dari Amerika Latin. Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke Venezuela dan dalam operasi tersebut Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya ditangkap. Serangan ini disertai ledakan di sejumlah titik strategis Caracas dan diikuti pernyataan resmi pemerintah AS bahwa tindakan tersebut dilakukan demi stabilitas dan keamanan kawasan.

Peristiwa ini memicu kecaman luas dari komunitas internasional karena dianggap melanggar kedaulatan negara dan hukum internasional, sekaligus menimbulkan korban sipil dan ketegangan geopolitik baru. Fenomena global ini tidak hanya layak dibaca sebagai peristiwa politik dan militer, tetapi juga sebagai cermin krisis batin dalam pengelolaan kekuasaan.

Dalam kitab nashoihul ibad karya Syaikh Nawawi Banten, terdapat maqolah ke-16 yang sangat relevan untuk membaca peristiwa semacam ini. Beliau menuliskan sebuah ungkapan hikmah yang dalam:

قِيلَ إِنَّ الشَّهْوَةَ تُصَيِّرُ الْمَلِكَ عَبْدًا وَالصَّبْرُ يُصَيِّرُ الْعَبْدَ مَلِكًا

Artinya, dikatakan bahwa syahwat menjadikan seorang raja sebagai budak, dan kesabaran menjadikan seorang hamba sebagai raja.

Ungkapan ini terdapat dalam nashoihul ibad pada bagian tsani, sebagaimana tampak dalam naskah.

Maqolah ini berbicara tentang kekuasaan batin, bukan sekadar kekuasaan politik. Seorang raja, pemimpin, atau negara adidaya bisa tampak merdeka secara lahir, namun sesungguhnya terbelenggu secara batin ketika keputusan diambil atas dasar syahwat dominasi, ambisi, dan ketakutan kehilangan pengaruh.

Dalam konteks serangan ke Venezuela, logika kekuatan militer, kontrol sumber daya, dan narasi keamanan nasional dapat menjadi ekspresi dari syahwat kekuasaan yang kehilangan rem batin. Ketika kesabaran dan pertimbangan etis disingkirkan, kekuasaan berubah menjadi beban moral yang menyeret banyak pihak ke dalam penderitaan.

Sebaliknya, Syaikh Nawawi menempatkan kesabaran sebagai sumber kemuliaan sejati. Kesabaran di sini bukan berarti pasif atau lemah, melainkan kemampuan mengendalikan diri, menunda dorongan agresif, dan menimbang dampak jangka panjang dari sebuah tindakan.

Pada titik ini, seorang hamba yang bersabar justru menjadi raja atas dirinya sendiri. Ia tidak dikuasai oleh dorongan sesaat, tetapi memimpin dirinya dengan kesadaran nilai dan tanggung jawab. Inilah bentuk kedaulatan batin yang dalam tradisi tasawuf dipandang lebih tinggi daripada dominasi lahiriah.

Imam al Ghazali dalam Ihya Ulumiddin sejalan dengan pesan ini. Al Ghazali menegaskan bahwa kekuasaan lahir tanpa kendali hati hanya akan melahirkan kezaliman baru, sedangkan kekuatan yang dibingkai oleh tazkiyatun nafs melahirkan keadilan dan ketenangan batin. Dalam perspektif ini, krisis geopolitik bukan sekadar konflik kepentingan, tetapi tanda kegagalan mengelola nafsu kolektif dan ambisi kekuasaan.

Jika maqolah ini ditarik ke level yang lebih luas, ia akan mengajukan pertanyaan mendasar tentang arah peradaban global. Apakah dunia sedang dipimpin oleh kesabaran yang menumbuhkan keadilan, atau oleh syahwat kekuasaan yang memperbudak para pemiliknya sendiri.

Dalam peristiwa Venezuela, kita melihat bagaimana kekuatan besar mampu bertindak cepat dan tegas, namun justru menimbulkan kegelisahan internasional, penderitaan rakyat, dan krisis legitimasi moral. Maqolah ke-16 tidak hanya relevan bagi individu, tetapi juga bagi negara dan pemimpin dunia. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa kesabaran adalah penjara batin, sedangkan kesabaran adalah sumber kemerdekaan sejati.

Pertanyaannya bukan lagi siapa yang menang secara militer atau politik, tetapi siapa yang mampu menjaga kejernihan batin di tengah godaan kekuasaan. Apakah kekuatan yang ditampilkan hari ini benar benar melahirkan kemaslahatan, atau justru memperpanjang lingkaran perbudakan nafsu dalam skala global.

_______

Dr. Sismanto, M.Pd.

*Ketua Tanfidziah PCNU Kutai Timur