![]()

Menulis, bagi sebagian orang, adalah momok yang menakutkan. Tapi bagi sebagian lainnya, ia justru menjadi pelarian yang menyenangkan. Ada yang merasa menulis itu rumit perlu aturan ini-itu, perlu inspirasi, perlu waktu tenang, bahkan perlu kopi panas dan hujan gerimis. Namun kenyataannya, menulis bisa jadi sesederhana bercerita. Menulis bisa jadi semudah menuangkan isi pikiran kita ke dalam bentuk tertulis. Tapi, agar tulisan kita tidak sekadar menjadi untaian kalimat tanpa arah, ada baiknya kita mengenal dulu: tulisan macam apa sih yang sedang kita buat? Karena memahami kategori tulisan adalah langkah pertama untuk membuat tulisan kita menjadi lebih jelas, lebih kuat, dan lebih sampai ke pembaca.Pertama-tama, mari kita bahas perbedaan yang paling mendasar: fiksi dan nonfiksi. Fiksi adalah tulisan yang lahir dari imajinasi. Ia boleh saja terinspirasi dari kejadian nyata, tetapi tidak menjadikannya kebenaran faktual. Novel, cerpen, dongeng, dan naskah drama masuk ke dalam kategori ini. Ambillah contoh karya Agatha Christie penuh teka-teki, detail, dan karakter kuat, tetapi semuanya adalah hasil imajinasi. Di sisi lain, nonfiksi adalah tulisan berdasarkan fakta nyata. Berita di surat kabar, artikel ilmiah, biografi, hingga laporan perjalanan termasuk ke dalamnya. Nonfiksi menuntut keakuratan dan bisa diverifikasi. Jadi, saat ingin menulis, tanyakan dulu ke diri sendiri: “Apakah ini cerita rekaan, atau kejadian nyata yang ingin saya sampaikan?” Jawaban itu akan menuntunmu menentukan gaya bahasa, struktur, dan pendekatan menulis yang sesuai.
Lalu ada pula perbedaan antara berita dan feature. Dua-duanya merupakan bentuk tulisan nonfiksi, tapi pendekatannya sangat berbeda. Berita adalah laporan kejadian faktual yang disajikan secepat dan sejelas mungkin. Fokusnya pada “apa yang terjadi, kapan, di mana, siapa yang terlibat, dan bagaimana kronologinya.” Tapi kalau feature, walaupun tetap berdasarkan fakta, lebih mengedepankan sisi kemanusiaan. Feature mencoba menyentuh hati pembaca, membawa mereka lebih dalam, dan biasanya disajikan dalam bentuk yang lebih naratif seperti cerita. Dua orang wartawan bisa meliput peristiwa yang sama, tapi hasil tulisannya bisa sangat berbeda jika yang satu menulis berita dan yang lain menulis feature. Intinya, kalau berita itu “apa yang terjadi”, maka feature adalah “mengapa dan bagaimana hal itu terasa dan bermakna.”
Selanjutnya, ada pembeda besar antara tulisan ilmiah dan tulisan populer. Keduanya sama-sama bisa mengangkat tema pengetahuan, tetapi audiens dan bahasanya berbeda. Tulisan ilmiah seperti jurnal, skripsi, atau disertasi ditujukan untuk kalangan akademik, dengan struktur yang baku dan data yang harus bisa dipertanggungjawabkan. Tulisan ini biasanya berisi hipotesis, metodologi, data, dan analisis. Sebaliknya, tulisan populer bertujuan menjangkau khalayak umum. Misalnya, kamu ingin menulis tentang bahaya mikroplastik. Dalam tulisan ilmiah, kamu akan bicara tentang struktur kimianya, dampaknya terhadap kesehatan berdasarkan studi, dan hasil pengamatan. Tapi dalam tulisan populer, kamu bisa menyajikan itu sebagai cerita tentang seorang anak yang menderita karena air tercemar, lalu di akhir disisipkan fakta ilmiahnya. Gaya populer memungkinkan kita berbagi ilmu tanpa harus membuat pembaca berkerut kening.
Ada juga pembeda menarik antara tulisan faktual ilmiah dan fiksi kreatif. Tulisan faktual, apalagi yang berbasis ilmiah, biasanya punya struktur yang tetap: pendahuluan, pembahasan, data, kesimpulan. Kamu akan menemukan pola ini di jurnal, laporan penelitian, atau artikel opini berbasis riset. Sementara fiksi kreatif seperti novel, cerpen, atau naskah film justru menolak kekakuan struktur. Ia bisa dibuka dari tengah, diakhiri dengan kejutan, atau bahkan tanpa alur kronologis. Penulis fiksi punya kebebasan penuh untuk menentukan dunia dalam ceritanya. Tapi jangan salah, kebebasan itu datang bersama tanggung jawab: bahwa pembaca tetap harus bisa mengikuti dan menikmati alur cerita.
Artikel, opini, atau kolom juga termasuk kategori penting. Tulisan-tulisan ini biasanya muncul di media massa seperti surat kabar atau majalah. Topiknya bisa sangat beragam—dari politik, ekonomi, sosial, pendidikan, hingga hal-hal sepele seperti hobi atau pengalaman pribadi. Yang penting, artikel-opini harus aktual dan ditulis oleh orang yang kompeten atau punya sudut pandang menarik. Karena formatnya yang terbatas ruang (biasanya 600–1000 kata), maka penulis harus bisa menyampaikan ide dengan padat, tajam, dan jelas. Kalau kamu suka menulis pendapat atau sudut pandang terhadap isu terkini, ini jenis tulisan yang cocok untukmu. Dan kalau tulisanmu berhasil dimuat, kamu bisa disebut sebagai kolumnis.
Berikutnya adalah tulisan panduan atau referensi, jenis tulisan yang sangat fungsional. Isinya biasanya berupa petunjuk, langkah-langkah, atau penjelasan sistematis. Contohnya adalah buku resep, tutorial, buku how to, kamus, ensiklopedia, dan peta. Tulisan seperti ini harus akurat dan jelas. Tidak boleh asal tulis, karena orang akan mengandalkannya sebagai rujukan. Ciri khas tulisan panduan adalah sistematis, berurutan, dan bebas dari interpretasi pribadi. Kamu boleh menyampaikan dengan gaya yang menyenangkan, tapi isi dan urutannya harus bisa diikuti siapa saja yang membacanya.
Lalu bagaimana dengan surat dan buku harian? Meski sering dianggap “tidak resmi”, sebenarnya keduanya juga merupakan bentuk tulisan. Bedanya, surat dan buku harian lebih bersifat personal. Kita tidak perlu berpikir soal struktur atau keindahan bahasa. Yang penting, jujur dan mengalir. Tapi tetap, surat harus bisa dipahami oleh pembacanya. Sedangkan buku harian bisa jadi ruang paling jujur untuk mengungkapkan isi hati. Banyak penulis besar memulai kariernya dari kebiasaan menulis diari. Jadi, jangan remehkan tulisan pribadi. Kadang justru dari sana kita belajar mengenali suara kita sendiri sebagai penulis.
Jenis tulisan lain yang sering ditemukan dalam sastra adalah puisi dan esai. Puisi adalah seni menata kata yang padat, puitis, dan penuh makna. Ia bisa pendek, bisa panjang, tapi selalu mengandung irama batin dan keindahan bunyi. Menulis puisi butuh perasaan yang halus dan intuisi terhadap bahasa. Sementara esai, meskipun lebih bebas, tetap punya kedalaman gagasan dan gaya bahasa yang reflektif. Esai sering membahas tema-tema sastra, budaya, atau refleksi sosial. Tidak semua tulisan bisa disebut esai. Sebuah artikel bola misalnya, tidak akan disebut esai, meski ditulis panjang lebar. Esai adalah tulisan yang memadukan kedalaman isi dan keindahan cara menyampaikan.
Dan tentu, masih banyak kategori lainnya: sejarah, pidato, laporan, biografi, autobiografi, undang-undang, khutbah, skenario film, hingga pelajaran sekolah. Setiap jenis tulisan punya kekhasan sendiri. Penulisan sejarah, misalnya, harus berdasarkan sumber yang valid. Pidato harus menyentuh dan terstruktur. Laporan harus objektif. Biografi harus naratif sekaligus faktual. Dan skenario film? Ia harus menggabungkan dialog, situasi, dan arahan visual yang lengkap. Semakin banyak kategori tulisan yang kita kenali, semakin kaya referensi kita dalam menulis.
Akhirnya, tulisan yang bagus itu bukan soal panjang atau pendek, bukan juga soal serius atau santai. Tulisan yang bagus adalah yang sampai ke pembaca. Ia menyentuh, menginspirasi, atau minimal—memberi informasi yang jelas. Tak peduli kamu sedang menulis puisi, artikel, feature, atau surat kepada diri sendiri, selama kamu tahu tujuannya dan menuliskannya dengan jujur serta terstruktur, maka tulisanmu punya makna.
