Breaking News

Antara Dua Alam

Loading

Kubur adalah tempat pertama yang akan didatangi manusia setelah berpisah dari dunia. Ia bukan sekadar lubang tanah, tetapi awal dari kehidupan baru yang sama sekali berbeda dari apa yang selama ini dikenal. Banyak manusia mempersiapkan hidupnya dengan sungguh-sungguh, namun lupa mempersiapkan tempat perhentian pertama setelah kematian.

Imam Abu al-Layts as-Samarqandi membuka bab ini dengan peringatan tentang dahsyatnya azab kubur bagi orang yang lalai. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Artinya, “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur.” (as-Samarqandi, hlm. 26)

Imam as-Samarqandi kemudian meriwayatkan sebuah kisah yang menggambarkan secara nyata apa yang terjadi ketika seorang hamba dimasukkan ke dalam kuburnya. Disebutkan bahwa ketika seorang mukmin dikebumikan, malaikat turun kepadanya dengan wajah yang bercahaya. Ia didudukkan dengan lembut dan ditanya tentang Tuhannya, agamanya, dan nabinya. Ketika ia menjawab dengan benar, kuburnya dilapangkan sejauh mata memandang, dibukakan pintu surga, dan diperlihatkan tempatnya kelak.

Sebaliknya, ketika seorang kafir atau munafik dikebumikan, malaikat turun dengan wajah yang gelap dan suara yang menggetarkan. Ia tidak mampu menjawab pertanyaan dengan benar. Kuburnya disempitkan, dibukakan pintu neraka, dan ia merasakan siksa yang tidak terbayangkan.

Imam as-Samarqandi meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan keadaan ruh setelah kematian. Ruh orang beriman disambut dengan kasih sayang, sementara ruh orang yang durhaka dihardik dan disiksa. Malaikat bertanya, “Siapakah Tuhanmu, apakah agamamu, dan siapakah nabimu?” Jawaban-jawaban inilah yang menjadi penentu kenyamanan atau kesengsaraan di alam kubur.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْقَبْرَ إِمَّا رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ

Artinya, “Sesungguhnya kubur itu bisa menjadi taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka.” (as-Samarqandi, hlm. 27).

Peringatan ini bukan dimaksudkan untuk menanamkan ketakutan yang mematikan harapan, tetapi untuk membangunkan kesadaran. Kubur adalah tempat kejujuran mutlak. Di sana tidak ada lagi kepura-puraan, tidak ada kesempatan memperbaiki amal, dan tidak ada ruang untuk beralasan. Semua yang dibawa ke sana hanyalah iman, amal, dan kejujuran niat.

Imam as-Samarqandi menegaskan bahwa orang yang sadar akan siksa kubur akan lebih berhati-hati dalam hidupnya. Ia tidak meremehkan dosa kecil, tidak menunda tobat, dan tidak tertipu oleh kelapangan dunia. Kesadaran ini membuat seseorang hidup dengan kewaspadaan, bukan dengan keputusasaan.

________

Dr. Sismanto

Kitab

Tanbih al-Ghafilin, Hlm 26 – 27

About sismanto

Check Also

Ujian Keikhlasan

Manusia dapat menjalani hidup dengan sangat sibuk, tetapi tetap merasa kosong. Hari-hari diisi dengan kerja …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading