Amal yang Menyala

Loading

Asy-Syakiri, pengarang kitab Durrotun Nasihin, ketika memasuki pembahasan tentang keutamaan ilmu, tidak memulainya dengan pendapat manusia, tetapi langsung mengembalikan pembaca kepada fondasi pertama ilmu dalam sejarah manusia. Allah sendiri yang mengajarkan ilmu kepada Adam. Karena itu, ia mengutip firman Allah Ta‘ala dalam Surah Al-Baqarah:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan (benda-benda) itu kepada para malaikat, lalu berfirman, ‘Sebutkan kepada-Ku nama semua benda itu, jika kamu memang benar.’”

(QS. Al-Baqarah: 31)

Ayat ini menegaskan bahwa ilmu adalah anugerah ilahi yang menuntun amal. Ilmu tidak diturunkan untuk berhenti di kepala, tetapi untuk menggerakkan tangan dan menundukkan hati.

Pada suatu masa di Madinah, Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam duduk di tengah para sahabatnya. Masjid sederhana itu menjadi tempat turunnya nasihat-nasihat besar tentang hidup, ilmu, dan amal. Dalam suasana tenang, beliau mengingatkan bahwa tidak semua amal bernilai sama di sisi Allah. Ada amal yang tampak kecil tetapi menyelamatkan, dan ada amal besar yang runtuh karena niat yang rusak.

Kitab Durrotun Nasihin pada halaman-halaman ini mengumpulkan kisah-kisah tentang ilmu dan amal, bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk direnungkan. Diceritakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang manusia yang paling utama amalnya. Bukan yang paling banyak berbicara, bukan pula yang paling dikenal, melainkan orang yang ilmunya melahirkan amal, dan amalnya menjaga ilmunya.

Dalam sebuah kisah yang diriwayatkan, Rasulullah menjelaskan keadaan manusia pada hari kiamat. Saat itu, amal-amal ditimbang, dan ilmu yang tidak diamalkan justru menjadi hujjah yang memberatkan pemiliknya. Ilmu yang dahulu dibanggakan di dunia berubah menjadi penyesalan karena tidak pernah diwujudkan dalam perbuatan nyata.

Kitab ini kemudian menyebut kisah para ulama salaf. Di antaranya seorang ulama di Madinah yang apabila ditanya tentang suatu ilmu, ia menangis sebelum menjawab. Ketika murid-muridnya heran, ia berkata, “Aku takut Allah bertanya kepadaku: mengapa engkau mengajarkan sesuatu yang belum sepenuhnya engkau amalkan.” Kisah semacam ini hidup di kalangan ulama generasi awal, di kota-kota ilmu seperti Madinah, Kufah, dan Basrah.

Diceritakan pula tentang seorang alim yang dikenal luas ilmunya. Suatu malam, di rumahnya yang sederhana, ia bermimpi berdiri di padang mahsyar. Ketika ditanya tentang ilmunya, ia tidak ditanya seberapa banyak hafalan, tetapi sejauh mana ilmunya mengubah perilakunya. Ia terbangun dengan tubuh gemetar dan sejak itu memperbanyak amal-amal sunyi, menjauhi pujian manusia.

Durrotun Nasihin juga memuat kisah tentang majelis ilmu. Para malaikat mengelilinginya seperti cincin yang rapat, menaungi para penuntut ilmu dengan sayap-sayapnya. Mereka naik ke langit membawa kabar tentang hamba-hamba Allah yang duduk untuk belajar dan berzikir. Ketika Allah bertanya tentang mereka, para malaikat menjawab bahwa mereka duduk karena cinta kepada ilmu dan mengingat Allah.

Allah pun berfirman bahwa Dia mengampuni mereka semua, termasuk orang yang hadir karena keperluan dunia.

Kisah ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah. Bahkan niat yang belum sempurna pun dapat disempurnakan oleh kasih sayang-Nya selama seseorang berada di jalan kebaikan.

Namun kitab ini juga menghadirkan peringatan keras. Diceritakan tentang orang-orang yang menuntut ilmu bukan untuk Allah, melainkan untuk dipuji dan dipandang tinggi. Ilmu seperti ini diibaratkan api: tampak terang di dunia, tetapi membakar pemiliknya di akhirat.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingatkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang ikhlas dan terus-menerus, meskipun sedikit. Amal kecil yang dijaga akan terus menyala, sementara amal besar yang tidak dijaga niatnya akan padam dengan cepat.

Orang yang paling beruntung adalah mereka yang ketika ilmunya bertambah, tawaduknya bertambah. Ketika amalnya bertambah, rasa takutnya kepada Allah semakin besar. Ia tidak sibuk menghitung amal orang lain, karena ia sadar hisabnya sendiri belum tentu ringan.

Di akhir pembahasan majelis, Durrotun Nasihin mengajak pembaca berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, apakah ilmu yang kita miliki telah membuat kita lebih jujur, lebih lembut, dan lebih takut kepada Allah? Ataukah justru menjauhkan kita dari kesederhanaan dan keikhlasan?

Ilmu tanpa amal adalah cahaya yang tidak menghangatkan. Amal tanpa ilmu adalah langkah yang mudah tersesat. Tetapi ketika ilmu dan amal bersatu, lahirlah ibadah yang menyala, tenang, dan menyelamatkan hingga akhir perjalanan.

__________

Dr. Sismanto

Kitab: Durrotun Nasihin

Halaman: 14–17

About sismanto

Check Also

Quo Maxime Best Aquia Equam Gimpedit Raut Amnis Coccaecati.

Eum atque nostrum in eos. Voluptas dicta similique perferendis nihil tenetur necessitatibus. Quo maxime est …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading