Undangan Langit

Loading

Dua minggu lagi, Ramadan akan datang. Ia hadir tanpa menunggu kesiapan manusia, mengetuk setiap hati di tengah kesibukan yang berbeda-beda. Tidak semua waktu datang dengan makna yang sama. Ada hari yang berlalu begitu saja, dan ada waktu yang dipilih Allah untuk menguji kepekaan jiwa. Ramadan adalah undangan sunyi dari langit, tidak berteriak dan tidak memaksa, tetapi membawa rahmat bagi yang bersiap dan penyesalan bagi yang lalai.

Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri dalam kitab Durrotun Nasihin memulai nasihatnya dengan mengarahkan pandangan pembaca kepada keutamaan bulan ini. Allah Taala berfirman:

Ψ΄ΩŽΩ‡Ω’Ψ±Ω Ψ±ΩŽΩ…ΩŽΨΆΩŽΨ§Ω†ΩŽ Ψ§Ω„ΩŽΩ‘Ψ°ΩΩŠ Ψ£ΩΩ†Ω’Ψ²ΩΩ„ΩŽ ΩΩΩŠΩ‡Ω الْقُرْؒنُ هُدًى Ω„ΩΩ„Ω†ΩŽΩ‘Ψ§Ψ³Ω ΩˆΩŽΨ¨ΩŽΩŠΩΩ‘Ω†ΩŽΨ§Ψͺٍ Ω…ΩΩ†ΩŽ Ψ§Ω„Ω’Ω‡ΩΨ―ΩŽΩ‰Ω° ΩˆΩŽΨ§Ω„Ω’ΩΩΨ±Ω’Ω‚ΩŽΨ§Ω†Ω

Artinya, β€œBulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan tentang petunjuk dan pembeda antara yang benar dan yang batil.” (Asy-Syakiri, hlm. 7)

Ayat ini mengingatkan bahwa kemuliaan Ramadan tidak terletak semata pada puasa, tetapi pada peristiwa besar yang terjadi jauh sebelum manusia menjadikannya rutinitas tahunan. Pada malam yang hening di Mekah, di sebuah gua di Jabal Nur, Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam menerima wahyu pertama. Peristiwa itu terjadi ketika beliau berusia sekitar empat puluh tahun. Sejak saat itu, Ramadan menjadi bulan turunnya cahaya yang membimbing manusia keluar dari gelapnya kebingungan hidup.

Asy-Syakiri kemudian menukil berbagai riwayat tentang bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyambut Ramadan. Diceritakan bahwa ketika bulan ini datang, Rasulullah meningkatkan ibadahnya. Beliau lebih banyak berdiam di masjid, memperpanjang shalat malam, dan memperbanyak sedekah. Di Madinah, beliau hidup lebih sederhana agar dapat lebih merasakan keadaan orang-orang yang kekurangan.

Dalam sebuah hadis yang disebutkan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan peringatan tentang seseorang yang mendapati Ramadan tetapi tidak mendapatkan ampunan Allah. Hadis ini tidak disampaikan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menyadarkan. Sebab Ramadan adalah waktu ketika pintu rahmat dibuka, dosa diampuni, dan kesempatan kembali terbentang luas. Jika pada waktu selapang itu seseorang tetap berpaling, maka kerugiannya bukan kerugian kecil.

Asy-Syakiri juga menggambarkan suasana Ramadan dengan bahasa yang penuh harap. Pada malam pertama Ramadan, para malaikat turun membawa seruan kebaikan. Setiap malamnya, Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka. Pada sepuluh malam terakhir, Allah membuka pintu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Semua ini bukan janji kosong, tetapi undangan bagi hati yang ingin kembali.

Namun kitab ini dengan tegas mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah latihan kejujuran. Lisan dijaga dari dusta dan ghibah, mata ditundukkan dari pandangan yang diharamkan, dan hati dibersihkan dari niat yang kotor. Puasa yang hanya menahan makan dan minum, tetapi membiarkan perilaku tetap liar, digambarkan sebagai puasa yang kehilangan ruhnya.

Ramadan juga disebut sebagai madrasah jiwa. Apa yang dibiasakan di bulan ini seharusnya tidak berhenti ketika hilal Syawal terlihat. Orang yang kembali sepenuhnya pada kebiasaan lama setelah Ramadan dikhawatirkan hanya memanfaatkan waktunya, bukan menghormatinya. Ramadan tidak datang untuk menghibur, tetapi untuk membentuk.

Bulan ini digambarkan seperti tamu agung yang datang membawa cahaya. Ia tidak menuntut sambutan mewah, hanya meminta kesungguhan. Ketika ia pergi, tidak ada yang bisa memanggilnya kembali. Yang tertinggal hanyalah keadaan hati orang yang pernah disinggahinya.

Dan ketika Ramadan benar-benar berlalu, ia tidak meninggalkan suara perpisahan. Ia pergi diam-diam, meninggalkan bekas pada jiwa yang disentuhnya. Pada sebagian orang, bekas itu menjadi cahaya yang menetap. Pada sebagian yang lain, ia berubah menjadi rasa kehilangan yang sulit dijelaskan, seakan pernah diajak bicara oleh langit, tetapi memilih untuk tidak menjawab.

________

Dr. Sismanto

Kitab: Durrotun Nasihin, hlm 7 – 10

About sismanto

Check Also

Quo Maxime Best Aquia Equam Gimpedit Raut Amnis Coccaecati.

Eum atque nostrum in eos. Voluptas dicta similique perferendis nihil tenetur necessitatibus. Quo maxime est …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading