![]()
Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakiri dalam Kitab Durrotun Nasihin mengawali pembahasan tentang bulan Ramadan dengan mengingatkan satu perkara mendasar, yaitu kedekatan Allah dengan hamba-Nya. Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi bulan ketika hubungan antara langit dan bumi terasa lebih dekat, lebih terbuka, dan lebih jujur.
Beliau mengutip firman Allah Taala:
ΩΩΨ₯ΩΨ°ΩΨ§ Ψ³ΩΨ£ΩΩΩΩΩ ΨΉΩΨ¨ΩΨ§Ψ―ΩΩ ΨΉΩΩΩΩΩ ΩΩΨ₯ΩΩΩΩΩ ΩΩΨ±ΩΩΨ¨Ω Ϋ Ψ£ΩΨ¬ΩΩΨ¨Ω Ψ―ΩΨΉΩΩΩΨ©Ω Ψ§ΩΨ―ΩΩΨ§ΨΉΩ Ψ₯ΩΨ°ΩΨ§ Ψ―ΩΨΉΩΨ§ΩΩ Ϋ ΩΩΩΩΩΩΨ³ΩΨͺΩΨ¬ΩΩΨ¨ΩΩΨ§ ΩΩΩ ΩΩΩΩΩΩΨ€ΩΩ ΩΩΩΩΨ§ Ψ¨ΩΩ ΩΩΨΉΩΩΩΩΩΩΩ Ω ΩΩΨ±ΩΨ΄ΩΨ―ΩΩΩΩ
Artinya:
βDan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapatkan petunjuk.β
Ayat di atas menegaskan bahwa Allah tidak jauh dari hamba-Nya, terlebih pada bulan Ramadan. Kedekatan Allah bukan hanya janji, tetapi kepastian. Doa yang dipanjatkan dengan iman dan kejujuran tidak akan sia-sia. Ramadan menjadi waktu ketika pintu rahmat dibuka dan kesempatan kembali kepada Allah diberikan seluas-luasnya.
Dalam Durrotun Nasihin dijelaskan bahwa setiap malam di bulan Ramadan memiliki kemuliaan yang berbeda-beda. Malam pertama dibukakan rahmat Allah. Malam-malam pertengahan dilimpahkan ampunan. Dan pada malam-malam terakhir, Allah mengumumkan pembebasan hamba-hamba-Nya dari api neraka. Penjelasan ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan bulan yang datar, tetapi perjalanan ruhani yang bertahap dan penuh makna (hlm. 19).
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, ketika Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang fadilah salat tarawih, beliau menjawab:
Malam ke-1: Diampuni dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya.
Malam ke-2: Diampuni dosa-dosanya dan dosa kedua orang tuanya jika keduanya beriman.
Malam ke-3: Malaikat menyeru dari bawah βArsy agar ia memperbarui amalnya, karena dosa-dosanya telah dihapus.
Malam ke-4: Diberi pahala seperti membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qurβan.
Malam ke-5: Diberi pahala seperti orang yang salat di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsa.
Malam ke-6: Diberi pahala seperti thawaf di Baitul Maβmur.
Malam ke-7: Seakan-akan hidup sezaman dengan Nabi Musa ΨΉΩΩΩ Ψ§ΩΨ³ΩΨ§Ω dan membantunya melawan Firβaun dan Haman.
Malam ke-8: Diberi pahala seperti pahala Nabi Ibrahim ΨΉΩΩΩ Ψ§ΩΨ³ΩΨ§Ω .
Malam ke-9: Diberi pahala seperti orang yang beribadah kepada Allah sepanjang hidupnya.
Malam ke-10: Dikabulkan hajat dunia dan akhiratnya.
Malam ke-11: Keluar dari dunia dalam keadaan beriman.
Malam ke-12: Dibangkitkan pada hari kiamat dengan wajah bercahaya seperti bulan purnama.
Malam ke-13: Aman dari segala ketakutan pada hari kiamat.
Malam ke-14: Para malaikat bersaksi atas salat tarawihnya.
Malam ke-15: Mendapat salam dari para malaikat dan para nabi.
Malam ke-16: Dicatat sebagai orang yang selamat dari neraka dan masuk surga.
Malam ke-17: Diberi pahala seperti pahala para nabi.
Malam ke-18: Malaikat menyeru bahwa Allah telah meridai dirinya dan kedua orang tuanya.
Malam ke-19: Diangkat derajatnya di surga Firdaus.
Malam ke-20: Diberi pahala para syuhada dan orang-orang saleh.
Malam ke-21: Dibangunkan baginya sebuah rumah dari cahaya.
Malam ke-22: Dibangkitkan bersama para nabi dan rasul.
Malam ke-23: Malaikat menyeru agar ia memperbanyak amal karena dosanya telah diampuni.
Malam ke-24: Diberi 24 doa yang mustajab.
Malam ke-25: Diangkat azab kubur darinya.
Malam ke-26: Diberi pahala ibadah selama 40 tahun.
Malam ke-27: Melewati shirath dengan kecepatan seperti kilat.
Malam ke-28: Diangkat 1.000 derajat baginya.
Malam ke-29: Diberi pahala 1.000 ibadah yang diterima.
Malam ke-30: Allah berfirman, βWahai hamba-Ku, Aku telah mengampunimu. Mintalah, niscaya Aku kabulkan.β
Fadhilah Ramadan, diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam senantiasa beritikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadan hingga beliau wafat. Barang siapa beritikaf dengan iman dan penuh pengharapan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Hal ini menunjukkan bahwa puncak Ramadan bukan hanya pada banyaknya ibadah, tetapi pada kesungguhan mencari ridha Allah hingga akhir bulan.
Ramadan adalah bulan rahmat, ampunan, dan pembebasan. Ia bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi undangan besar dari Allah bagi siapa saja yang ingin kembali dan diselamatkan.
____________
Dr. Sismanto
Kitab: Durrotun Nasihin
Halaman 18 β 20
Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .