![]()
Pembahasan tentang iman dalam kitab Tanqihul Qaul, tidak disajikan sebagai definisi kering, melainkan sebagai bangunan kesadaran yang hidup dan bekerja dalam diri manusia. Iman diposisikan bukan sekadar keyakinan batin yang statis, tetapi struktur nilai yang mengikat cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak.
Kitab ini menegaskan bahwa iman memiliki dimensi yang utuh dan tidak terpisah antara batin dan lahir. Hal itu ditegaskan melalui rumusan klasik Ahlussunnah yang dikutip dalam kitab:
الايمان هو التصديق بالقلب
والاقرار باللسان
والعمل بالاركان
Iman adalah pembenaran dengan hati, pengakuan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan (Tanqihul Qaul, hlm. 12).
Redaksi ini memperlihatkan bahwa iman adalah sistem terpadu. Hati menjadi pusat kesadaran, lisan menjadi medium artikulasi, dan anggota badan menjadi ruang aktualisasi. Ketiganya tidak berdiri sendiri. Ketika salah satu terlepas, iman kehilangan fungsinya sebagai pengarah hidup. Karena itu, iman tidak cukup dihadirkan sebagai pengakuan batin, tetapi harus menjelma menjadi pola tindakan yang konsisten.
Tanqihul Qaul kemudian memperluas pemahaman iman sebagai realitas yang dinamis. Iman tidak bersifat beku, melainkan bergerak naik dan turun mengikuti kualitas relasi manusia dengan ketaatan dan maksiat. Kitab ini menegaskan dengan sangat lugas:
يزيد بالطاعة
وينقص بالمعصية
Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan (Tanqihul Qaul, hlm. 13).
Penegasan ini membawa implikasi penting. Iman tidak hanya diuji pada momen-momen ritual, tetapi dalam keputusan-keputusan harian yang tampak sepele. Setiap pilihan etis, setiap penundaan maksiat, dan setiap kesediaan menahan diri berkontribusi pada penguatan iman. Sebaliknya, pembiaran terhadap pelanggaran nilai secara perlahan menggerogoti struktur iman itu sendiri.
Dalam konteks kehidupan sosial dan ekonomi, konsep ini menjadi sangat relevan. Temuan disertasi saya menunjukkan bahwa banyak pengusaha Muslim memiliki pengetahuan agama yang memadai, tetapi tidak selalu diiringi oleh iman yang aktif sebagai pengendali tindakan. Ketika iman tidak diperlakukan sebagai realitas dinamis, keputusan bisnis cenderung bergerak ke arah rasionalitas teknis semata. Iman hadir sebagai identitas, tetapi tidak bekerja sebagai sistem nilai.
Tanqihul Qaul juga menegaskan bahwa iman adalah fondasi sahnya amal. Amal, betapapun tampak baik secara sosial, tidak memperoleh bobot ukhrawi tanpa iman yang melandasinya. Kitab ini menegaskan relasi tersebut dengan jelas:
ولا يصح العمل الا بالايمان
Tidak sah amal kecuali dengan iman (Tanqihul Qaul, hlm. 13).
Dengan rumusan ini, iman berfungsi sebagai kerangka evaluatif. Ia menentukan apakah suatu tindakan bernilai ibadah atau sekadar aktivitas duniawi. Dalam dunia usaha, ini berarti bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari pertumbuhan omzet atau ekspansi pasar, tetapi dari sejauh mana praktik ekonomi tersebut tetap berada dalam koridor nilai yang dibenarkan iman.
Lebih jauh, Tanqihul Qaul mengaitkan iman dengan orientasi sosial. Iman yang benar tidak berhenti pada relasi vertikal dengan Allah, tetapi tercermin dalam akhlak, keadilan, dan amanah dalam hubungan antarmanusia. Iman yang hidup akan melahirkan kehati-hatian dalam mengambil keuntungan, kepekaan terhadap dampak sosial, serta kesediaan membatasi diri meskipun peluang terbuka lebar. Inilah iman yang bekerja sebagai struktur kesadaran sekaligus struktur tindakan.
Jika dirangkai secara utuh, pemetaan iman dalam Tanqihul Qaul menunjukkan bahwa iman adalah arsitektur kehidupan. Ia menyusun fondasi batin, menata orientasi nilai, dan mengarahkan tindakan konkret. Iman bukan sekadar dimiliki, tetapi dijalani dan dipelihara. Ia bisa menguat atau melemah, tergantung sejauh mana manusia bersedia menundukkan kehendaknya pada nilai-nilai yang diyakininya sendiri.
Pertanyaannya kemudian menjadi reflektif. Dalam kehidupan kita hari ini, apakah iman masih benar-benar bekerja sebagai struktur kesadaran yang mengarahkan pilihan, ataukah ia telah menyempit menjadi identitas simbolik yang kehilangan daya kendalinya.
__________
Dr. Sismanto
Senin, 19 Januari 2026 / 30 Rajab 1447 H
Kitab: Tanqihul Qaul
Halaman 12–14