![]()
Tidak semua akhir adalah kegelapan. Di antara manusia, ada yang dijemput kematian dengan ketakutan dan penyesalan, tetapi ada pula yang disambut dengan ketenangan dan kabar gembira. Perbedaan itu bukan ditentukan oleh panjang pendeknya usia, melainkan oleh keadaan hati dan arah hidup yang dijalani sebelum kematian datang.
Imam Abu al-Layts as-Samarqandi menjelaskan bahwa orang yang hidup dalam kesadaran iman akan mendapatkan kabar gembira dari Allah saat menjelang wafatnya. Allah Taala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka para malaikat turun kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kalian takut dan jangan bersedih. Bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian.’” (as-Samarqandi, hlm. 23)
Ayat ini dipahami oleh para ulama sebagai gambaran tentang saat-saat menjelang kematian orang beriman. Pada waktu itulah malaikat datang membawa ketenangan, menghapus rasa takut, dan menyampaikan kabar gembira tentang akhir perjalanan hidup yang penuh rahmat.
Imam as-Samarqandi kemudian menjelaskan bahwa kabar gembira ini tidak diberikan secara sembarangan. Ia diberikan kepada orang-orang yang menjaga istiqamah dalam iman dan amal. Istiqamah bukan hanya diukur dari ucapan, tetapi dari konsistensi dalam menjalankan kewajiban, menjauhi larangan, dan menjaga hati dari niat yang rusak.
Disebutkan bahwa para malaikat berkata kepada mereka, “Janganlah kalian takut terhadap apa yang akan kalian hadapi, dan janganlah bersedih atas apa yang kalian tinggalkan.” Kalimat ini mencakup dua kegelisahan terbesar manusia, yaitu ketakutan akan masa depan dan kesedihan terhadap dunia yang ditinggalkan.
Imam as-Samarqandi juga menyebutkan bahwa kabar gembira ini memiliki tingkatan, sesuai dengan keadaan hamba. Bagi orang-orang yang ikhlas, mereka diberi ketenangan karena amal mereka diterima. Bagi orang-orang yang bertobat, mereka diberi kabar bahwa dosa-dosa mereka telah diampuni. Bagi orang-orang zuhud, mereka diberi kabar bahwa tidak ada lagi hisab yang berat bagi mereka.
Imam as-Samarqandi mengingatkan bahwa orang yang benar-benar sadar akan kematian akan menata hidupnya dengan lebih serius. Ia tidak menunda kebaikan, tidak meremehkan dosa, dan tidak menggantungkan harapan pada dunia. Hidupnya dijalani sebagai persiapan, bukan sekadar penantian yang kosong.
Disebutkan pula tanda-tanda orang yang terjaga dari kelalaian. Di antaranya adalah mampu mengatur urusan dunia tanpa melalaikan akhirat, bersungguh-sungguh dalam kebaikan, rendah hati dalam pergaulan, dan selalu siap menghadapi kematian kapan pun ia datang.
Kesadaran ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menenangkan. Sebab orang yang siap menghadapi kematian tidak akan gelisah dalam hidup. Ia tahu ke mana akan kembali dan apa yang sedang dipersiapkannya.
_________
Dr. Sismanto
Ketua PCNU Kutai Timur
Kitab:
Tanbih al-Ghafilin, hlm. 23 -24