![]()
Manusia dapat menjalani hidup dengan sangat sibuk, tetapi tetap merasa kosong. Hari-hari diisi dengan kerja keras, tanggung jawab, dan berbagai bentuk amal kebaikan. Namun di balik semua aktivitas itu, hati sering kali tidak benar-benar tenang. Ada keberhasilan yang diraih, tetapi kegelisahan tidak hilang. Ada amal yang dilakukan, tetapi kepuasan batin tidak hadir.
Di sinilah muncul pertanyaan mendasar yang jarang diajukan dengan jujur. Apakah yang sedang diuji oleh Allah adalah banyaknya amal, atau kemurnian niat di baliknya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ
قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
قَالَ الرِّيَاءُ
Artinya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Perkara yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.” (as-Samarqandī, hlm. 7)
Hadis ini diletakkan oleh Imam as-Samarqandī pada bagian awal pembahasan sebagai peringatan bahwa bahaya terbesar dalam amal bukan selalu dosa besar yang tampak, melainkan penyimpangan niat yang sangat halus dan sering kali tidak disadari oleh pelakunya.
Dalam kitab ini diriwayatkan sebuah kisah. Seorang lelaki datang menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku melakukan suatu amal karena mengharap wajah Allah, tetapi aku juga senang jika amal itu diketahui orang lain.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan semata-mata mengharap wajah-Nya.” (hlm 9)
Imam as-Samarqandi menyampaikan kisah ini sebagai peringatan bahwa riya tidak selalu hadir dalam bentuk kepura-puraan yang kasar. Ia sering bersembunyi di balik keinginan yang tampak wajar, bahkan di dalam amal yang secara lahir tampak baik dan benar.
Dari peringatan ini dapat dipahami bahwa yang diuji oleh Allah bukanlah semata-mata amal lahiriah. Yang diuji adalah ke mana hati menggantungkan tujuan dan harapannya. Amal yang besar dapat kehilangan nilainya ketika niatnya terpecah, sementara amal yang kecil dan tersembunyi dapat menjadi sangat bernilai ketika dilakukan dengan keikhlasan yang utuh. Riya bukan hanya tentang keinginan untuk dipuji, tetapi juga tentang kegelisahan ketika amal tidak diperhatikan dan kekecewaan ketika pengakuan tidak datang sebagaimana yang diharapkan.
Dalam konteks pengusaha Muslim, ujian keikhlasan ini hadir dalam bentuk yang nyata dan berlapis. Dunia usaha menuntut reputasi, kepercayaan publik, transparansi, dan pengakuan sosial. Keberhasilan ekonomi sering kali berjalan beriringan dengan sorotan, pujian, serta simbol-simbol prestasi. Aktivitas usaha, sedekah, dan peran sosial yang dilakukan secara terbuka dapat menjadi ladang amal yang besar, tetapi pada saat yang sama juga menyimpan potensi ujian batin yang tidak ringan.
Pesan dari kitab ini tidak melarang keberhasilan dan tidak mencela keterkenalan. Ia juga tidak menafikan pentingnya kepercayaan publik dalam dunia usaha. Namun kitab ini mengajukan satu pertanyaan sunyi yang menentukan arah nilai seluruh aktivitas tersebut, yaitu untuk siapa semua itu dijalankan. Bagi pengusaha Muslim, pertanyaan ini menjadi fondasi agar aktivitas ekonomi tetap berada dalam koridor ibadah dan pengabdian kepada Allah, bukan sekadar sarana pencarian pengakuan diri atau legitimasi sosial.
Tidak semua amal harus terlihat dan tidak semua kebaikan harus disaksikan. Kadang, justru amal yang paling sunyi itulah yang paling jujur di hadapan Allah.
_____
Dr. Sismanto
Ketua PCNU Kutai Timur
Kajian kitab: Tanbih al-Ghafilin (hlm. 7–10).
Sangatta, 28 Januari 2026