Loading

Kematian adalah satu-satunya kepastian yang tidak pernah berubah, tetapi justru paling sering dilupakan. Manusia dapat merencanakan banyak hal tentang hidupnya, namun tidak pernah benar-benar siap menghadapi saat berakhirnya hidup itu sendiri.

Padahal, dalam pandangan para ulama, lupa kepada kematian bukan sekadar kelalaian biasa, melainkan sumber dari banyak kelengahan lain yang menyertainya.

Imam Abu al-Layts as-Samarqandi membuka bab ini dengan peringatan tentang berat dan dahsyatnya sakaratul maut. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

Artinya, “Barang siapa mencintai perjumpaan dengan Allah, maka Allah mencintai perjumpaan dengannya. Dan barang siapa membenci perjumpaan dengan Allah, maka Allah membenci perjumpaan dengannya.”(as-Samarqandi, hlm. 17).

Para sahabat merasa heran dan berkata bahwa setiap orang pasti membenci kematian. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa yang dimaksud bukanlah membenci kematian itu sendiri, melainkan keadaan seorang hamba ketika ajal mendatanginya. Orang beriman yang disambut dengan kabar gembira akan mencintai perjumpaan dengan Allah, sedangkan orang kafir yang disambut dengan ancaman akan membencinya.

Pada halaman-halaman berikutnya, Imam as-Samarqandi menghadirkan kisah-kisah yang menggambarkan betapa beratnya sakaratul maut, bahkan bagi orang-orang saleh. Disebutkan bahwa penderitaan sakaratul maut bagi seorang mukmin dapat menjadi penghapus dosa dan penyempurna penyucian sebelum bertemu Allah. Sementara bagi orang yang lalai, sakaratul maut justru menjadi awal dari penyesalan yang tidak lagi berguna.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ شِدَّةَ الْمَوْتِ أَشَدُّ مِنْ أَلْفِ ضَرْبَةٍ بِالسَّيْفِ

Artinya, “Sesungguhnya dahsyatnya kematian itu lebih berat daripada seribu kali tebasan pedang.” (as-Samarqandi, hlm. 19)

Peringatan ini tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti secara kosong, tetapi untuk membangunkan kesadaran. Imam as-Samarqandi menegaskan bahwa orang yang meyakini kematian sebagai sesuatu yang pasti, namun tidak diketahui waktunya, seharusnya mempersiapkan diri dengan amal saleh dan menjauhi perbuatan maksiat, sebab tidak seorang pun mengetahui kapan ia akan dipanggil.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdialog dengan seorang lelaki yang bertanya tentang inti ilmu. Rasulullah menjawab bahwa inti ilmu adalah mengenal Allah dan mengenal kematian. Sebab, siapa yang benar-benar mengenal kematian, ia akan mempersiapkan dirinya sebelum datang waktu yang tidak bisa ditunda.

Kematian, dalam perspektif kitab ini, bukanlah akhir perjalanan, melainkan pintu menuju alam yang lebih jujur. Di sana tidak ada lagi ruang untuk memperbaiki niat, menambah amal, atau menebus kelalaian. Semua kesempatan itu hanya tersedia selama manusia masih hidup.

Dalam kehidupan modern, manusia cenderung menunda. Menunda tobat, menunda kebaikan, menunda kesungguhan dalam beribadah, seolah waktu selalu berpihak kepadanya. Bab ini hadir sebagai teguran lembut namun tegas bahwa waktu bukan milik manusia. Ia adalah titipan yang setiap saat bisa diambil kembali oleh Pemiliknya.

Kesadaran akan kematian bukan untuk mematikan semangat hidup, tetapi justru untuk menata hidup dengan lebih jujur dan bermakna. Orang yang mengingat kematian akan lebih berhati-hati dalam berbuat, lebih ringan dalam melepaskan dunia, dan lebih serius dalam mempersiapkan bekal akhirat.

___________

Dr. Sismanto

Sangatta, 30 Januari 2026

Kitab: Tanbih al-Ghafilin, Hlm. 17 – 20