![]()
Manusia sering mengira bahwa amal dinilai dari apa yang tampak. Semakin besar pengorbanan, semakin tinggi posisi di mata manusia. Semakin luas pengaruh, semakin mulia dianggapnya sebuah perbuatan.
Namun Kitab Tanbih al-Ghafilin mengingatkan bahwa di hadapan Allah, ukuran itu bisa terbalik sama sekali. Amal yang tampak agung dapat runtuh seketika, sementara amal yang tidak pernah diperhitungkan manusia justru menjadi penentu keselamatan.
Pada bagian lanjutan Bab Ikhlas, Allah Taala berfirman tentang orang-orang yang beramal bukan karena akhirat:
مَنۡ كَانَ يُرِيۡدُ الۡحَيٰوةَ الدُّنۡيَا وَ زِيۡنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيۡهِمۡ اَعۡمَالَهُمۡ فِيۡهَا وَهُمۡ فِيۡهَا لَا يُبۡخَسُوۡنَ
اُولٰٓٮِٕكَ الَّذِيۡنَ لَـيۡسَ لَهُمۡ فِىۡ الۡاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُ ۖ
Artinya, “Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. .” (QS Hud 15-16)
Ayat ini menjadi pengantar bagi kisah besar yang kemudian disampaikan Imam as-Samarqandi, yaitu tentang tiga golongan manusia pertama yang diadili pada hari kiamat.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan bahwa pada hari kiamat, pertama kali yang dihisab adalah seorang yang mati syahid, seorang alim yang membaca Al-Qur’an, dan seorang yang gemar bersedekah. Masing-masing dihadirkan dengan amal besar yang secara lahir tampak sangat mulia. Namun ketika ditanya oleh Allah tentang tujuan amalnya, semuanya dijawab dengan alasan yang tampak benar. Lalu Allah Taala menyingkap niat terdalam mereka.
Tentang orang yang berperang, Allah berfirman bahwa ia berdusta karena berperang agar disebut pemberani. Tentang orang alim, Allah berfirman bahwa ia berdusta karena belajar dan membaca Al-Qur’an agar disebut alim dan qari. Tentang orang yang bersedekah, Allah berfirman bahwa ia berdusta karena bersedekah agar disebut dermawan. Ketiganya kemudian diperintahkan untuk diseret ke neraka.
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam as-Samarqandi dengan panjang dan detail sebagai peringatan keras bahwa amal yang paling mengagumkan di mata manusia dapat menjadi sebab kebinasaan jika niatnya rusak sejak awal (as-Samarqandi, hlm. 11–12).
Peringatan ini dilanjutkan dengan penjelasan para ulama tentang tanda-tanda amal yang tidak ikhlas. Di antaranya adalah semangat beramal ketika dilihat manusia, tetapi malas ketika sendiri, giat ketika dipuji, tetapi melemah ketika dicela, serta bertambah amalnya karena kehadiran manusia dan berkurang ketika tidak ada yang menyaksikan.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu menyebutkan bahwa riya memiliki tanda-tanda yang halus, di antaranya malas ketika sendirian dan bersemangat ketika bersama manusia.
Imam as-Samarqandi kemudian menukil perkataan para hukama bahwa keikhlasan hanya dapat dijaga dengan empat hal, yaitu ilmu sebelum amal, niat yang lurus sejak awal, kesabaran dalam proses, dan menjaga amal setelah dilakukan agar tidak dirusak oleh riya dan ujub.
Semua peringatan ini mengarah pada satu kesimpulan batin yang tidak diucapkan secara eksplisit, tetapi sangat terasa. Bahwa amal bukan hanya diuji saat dilakukan, tetapi juga sebelum dan sesudahnya. Niat diuji sebelum amal dimulai, kesabaran diuji ketika amal dijalankan, dan keikhlasan diuji setelah amal selesai.
Dalam kehidupan pengusaha Muslim, pesan ini menjadi sangat relevan. Dunia usaha adalah ruang di mana reputasi, citra, dan kepercayaan publik menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas ekonomi. Keberhasilan sering disertai pujian, dan kedermawanan sering dilakukan di ruang terbuka. Semua ini sah dan dibutuhkan, tetapi kitab ini mengingatkan bahwa nilai amal tidak ditentukan oleh seberapa luas ia diketahui, melainkan oleh siapa yang menjadi tujuan utamanya.
Bagi pengusaha Muslim, menjaga keikhlasan bukan berarti menolak keberhasilan atau menghindari pengaruh sosial. Keikhlasan berarti memastikan bahwa semua itu tidak menjadi tujuan, melainkan sarana. Usaha, kepemimpinan, dan kontribusi sosial tetap berjalan, tetapi hati tidak bergantung pada penilaian manusia. Sebab yang menimbang amal bukan pasar, bukan masyarakat, dan bukan sejarah, melainkan Allah semata.
Jika amal dilakukan untuk manusia, maka balasannya berhenti pada manusia. Namun jika amal dilakukan untuk Allah, maka nilainya melampaui dunia dan tidak akan sirna.
____________
Dr. Sismanto
Sangatta, 29 Januari 2026
Ngaji Kitab: Tanbih al-Ghafilin, hlm 11-16