Loading

Dalam kitab Tanqihul Qaul, pembahasan tentang fadhilah basmalah tidak diletakkan sebagai wirid teknis semata, melainkan sebagai fondasi kesadaran amal. Sejak awal, kitab ini menegaskan bahwa Bismillahirrahmanirrahim bukan sekadar pembuka kalimat, tetapi pintu nilai yang menentukan arah dan kualitas perbuatan manusia. Basmalah berfungsi sebagai penanda bahwa sebuah aktivitas diletakkan dalam relasi transendental dengan Allah Ta‘ala.

Penegasan ini disampaikan melalui riwayat yang dinukil dengan redaksi sanad khas tradisi keilmuan klasik. Dalam Tanqihul Qaul disebutkan:

وروي عن عطاء عن جابر رضي الله عنه قال

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

بسم الله الرحمن الرحيم اسم من أسماء الله تعالى

ما وضع على شيء إلا بارك فيه

Diriwayatkan dari ‘Aṭha’, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, Bismillahirrahmanirrahim adalah salah satu nama dari nama-nama Allah Ta‘ala. Tidaklah ia diletakkan pada sesuatu kecuali Allah memberkahinya (Tanqihul Qaul, hlm. 10).

Penggunaan redaksi ruwiya dan penyebutan jalur ‘an ‘Atha’ ‘an Jabir menunjukkan gaya transmisi riwayat yang lazim dalam tradisi pesantren, di mana otoritas makna tidak dilepaskan dari mata rantai periwayatan. Dengan demikian, basmalah diposisikan bukan hanya sebagai teks doa, tetapi sebagai amalan yang memiliki legitimasi sanad dan kedalaman makna.

Dalam perspektif ini, keberkahan tidak dipahami sebagai hasil instan atau efek magis, melainkan sebagai konsekuensi dari penempatan amal dalam horizon ketuhanan. Meletakkan basmalah berarti menautkan niat, proses, dan tujuan kepada Allah. Amal yang diawali basmalah bukan hanya “dimulai dengan nama Allah”, tetapi diarahkan untuk tunduk pada nilai-nilai yang bersumber dari-Nya.

Temuan lapangan disertasi saya tentang pengusaha Muslim memperlihatkan relevansi prinsip ini secara konkret. Banyak pelaku usaha secara verbal mengucapkan basmalah di awal aktivitas bisnis, namun tidak selalu diikuti dengan kesadaran etis dalam proses pengambilan keputusan. Dalam situasi semacam ini, basmalah berisiko tereduksi menjadi simbol linguistik, bukan struktur kesadaran. Padahal, sebagaimana ditegaskan Tanqihul Qaul, keberkahan hanya hadir ketika basmalah benar-benar “diletakkan” pada sesuatu, yakni diintegrasikan dalam niat dan tindakan.

Kitab ini juga menempatkan basmalah dalam konteks praksis keseharian. Disebutkan bahwa para ulama terdahulu membiasakan basmalah dalam setiap aktivitas, dari pekerjaan besar hingga perkara remeh. Hal ini menunjukkan bahwa basmalah berfungsi sebagai mekanisme internalisasi nilai, bukan sekadar ritual verbal. Ia membentuk habitus religius, di mana setiap tindakan disadari sebagai bagian dari pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Dalam konteks kewirausahaan Muslim, basmalah dapat dipahami sebagai pengikat etis yang menahan dorongan eksploitatif. Ketika basmalah diucapkan dengan kesadaran penuh, ia menegaskan bahwa keuntungan tidak boleh dicapai dengan mengorbankan keadilan, amanah, dan kemaslahatan. Basmalah, dalam pengertian ini, berfungsi sebagai struktur pengendali batin yang mengarahkan rasionalitas ekonomi agar tetap berada dalam koridor nilai.

Bab ini tidak memaparkan basmalah sebagai formula sakral yang berdiri sendiri, tetapi sebagai pintu masuk menuju keberkahan amal yang bersifat menyeluruh. Keberkahan tidak dilekatkan pada teksnya semata, melainkan pada kesadaran yang menyertainya. Basmalah menjadi penanda bahwa sebuah perbuatan diorientasikan kepada Allah, sekaligus cermin dari kualitas batin pelakunya.

Dalam realitas kontemporer yang serba cepat dan instrumental, pertanyaannya bukan lagi seberapa sering basmalah diucapkan, melainkan sejauh mana ia benar-benar menjadi kerangka nilai yang mengarahkan cara berpikir, cara bekerja, dan cara mengambil keputusan.

_________

Dr. Sismanto

Ketua PCNU Kutai Timur

Kitab: Tanqihul Qaul

Halaman 10–11

18 Januari 2026 / 29 Rajab 1447 H