Loading

Dalam Tanqihul Qaul, pembahasan tentang fadhilah sholawat ditempatkan sebagai lanjutan logis dari basmalah. Jika basmalah adalah pintu amal, maka sholawat adalah jalan kedekatan. Kitab ini menegaskan bahwa sholawat bukan sekadar amalan lisan, melainkan medium spiritual yang menghubungkan manusia dengan Nabi Muhammad SAW, sekaligus sarana turunnya rahmat dan pengangkatan derajat.

Penegasan ini disampaikan melalui riwayat yang dinukil dengan redaksi khas sanad pesantren. Dalam Tanqihul Qaul disebutkan:

وقال النبي صلى الله عليه وسلم

من صلى علي صلاة واحدة

صلى الله عليه بها عشرا

Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali (Tanqihul Qaul, hlm. 11).

Riwayat ini tidak diposisikan sekadar sebagai janji pahala kuantitatif, tetapi sebagai penegasan relasi spiritual. Sholawat satu kali dibalas sepuluh kali bukan sekadar hitungan matematis, melainkan simbol limpahan rahmat yang melampaui kemampuan manusia untuk membalas kebaikan Nabi SAW. Dalam logika kitab ini, sholawat adalah amal yang efeknya kembali kepada pelakunya, baik dalam bentuk ketenangan batin, kelapangan urusan, maupun kejernihan arah hidup.

Tanqihul Qaul kemudian menambahkan penegasan lain yang menunjukkan posisi strategis sholawat dalam kehidupan seorang mukmin:

وقال صلى الله عليه وسلم

أولى الناس بي يوم القيامة

أكثرهم علي صلاة

Rasulullah SAW bersabda: Manusia yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku (Tanqihul Qaul, hlm. 11).

Kedekatan di sini tidak dimaknai sebagai jarak fisik, melainkan kedekatan maknawi dan spiritual. Sholawat membentuk ikatan batin antara umat dan Nabinya. Ia melatih cinta, keteladanan, dan loyalitas nilai. Dalam perspektif ini, sholawat bukan amalan pasif, tetapi proses internalisasi akhlak Nabi SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi pesantren dan komunitas Muslim Nusantara membaca sholawat dalam bentuk tirakatan yang beragam. Kitab-kitab sholawat seperti Dalailul Khairat, Burdah, Barzanji, Simthud Durar, hingga Sholawat Nariyah tidak hanya berfungsi sebagai bacaan kolektif, tetapi sebagai disiplin spiritual. Para pengamalnya sering menjalani laku tirakat berupa pembacaan rutin, pengendalian diri, dan penjagaan adab.

Dalam praktik Dalailul Khairat, misalnya, sholawat dibaca dengan jadwal tertentu, disertai kesucian lahir batin, konsistensi waktu, dan bahkan tirakat dengan puasa. Dalam Burdah, sholawat dibingkai dalam syair pujian yang menggugah rasa cinta dan kerinduan kepada Rasulullah SAW. Sementara Barzanji hidup sebagai tradisi sosial yang merajut sholawat dengan sejarah kehidupan Nabi, sehingga cinta kepada Rasul tidak berhenti sebagai emosi individual, tetapi menjadi memori kolektif umat.

Dalam temuan lapangan tentang pengusaha Muslim, praktik sholawat memiliki implikasi yang menarik. Pengusaha yang menjadikan sholawat sebagai amalan rutin cenderung memiliki ketahanan psikologis yang lebih stabil. Mereka tidak mudah goyah oleh fluktuasi ekonomi, lebih sabar menghadapi konflik, dan relatif lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Sholawat, dalam konteks ini, berfungsi sebagai mekanisme penenang batin dan penyeimbang ambisi. Ia mengalihkan pusat orientasi dari sekadar hasil duniawi menuju keteladanan Nabi SAW sebagai figur etis.

Sholawat bukan sekadar amalan sunnah tambahan, tetapi instrumen pembentuk karakter. Sholawat melatih kerendahan hati, kesadaran akan keterbatasan diri, dan pengakuan bahwa jalan keselamatan tidak ditempuh sendirian, melainkan dengan meneladani Rasulullah SAW. Dalam dunia yang kompetitif dan sarat tekanan, sholawat menjadi ruang jeda spiritual yang mengembalikan manusia pada orientasi nilai.

Dalam konteks kehidupan modern, pertanyaannya bukan lagi apakah sholawat diamalkan, tetapi bagaimana sholawat benar-benar membentuk cara berpikir, cara bekerja, dan cara memaknai keberhasilan. Apakah sholawat hanya menjadi bacaan rutin, atau benar-benar menjadi jalan kedekatan yang mengubah kualitas hidup dan arah tindakan kita.

Dr. Sismanto

Ketua PCNU Kutai Timur

Ahad, 18 Januari 2026 / 29 Rajab 1447 H

Kitab: Tanqihul Qaul

Halaman 11–12