![]()
Pada titik tertentu dalam perjalanan spiritual, manusia tidak lagi sibuk memperbanyak amalan lahir, tetapi mulai resah dengan jarak batinnya sendiri kepada Allah. Kegelisahan ini bukan tanda kelemahan iman, melainkan isyarat bahwa jiwa sedang dipanggil menuju kedekatan yang lebih jujur dan lebih sunyi.
Di bagian akhir Bab Tsani, maqolah ke-29 dan 30 Syaikh Nawawi al-Bantani menutup rangkaian nasihatnya dengan maqolah yang tidak lagi menekankan kuantitas amal, melainkan kualitas kehadiran hati di hadapan Allah.
Beliau menukil ungkapan Abu Bakr al-Shibli yang sangat singkat namun mengandung makna kedalaman batin yang luar biasa:
اذا اردت ان تستأنس بالله فاستوحش من نفسك
Ungkapan ini mengandung pesan bahwa keintiman dengan Allah tidak mungkin tercapai selama seseorang masih terlalu nyaman dengan dirinya sendiri. Selama ego masih menjadi pusat rasa aman, maka kehadiran Allah akan selalu terasa jauh.
Kesendirian bersama Allah justru lahir dari keberanian merasa asing terhadap hawa nafsu, ambisi, dan kepuasan diri.
Syaikh Nawawi kemudian menguatkan makna ini dengan maqolah berikutnya dari al-Shibli:
لو ذقتم حلاوة الوصلة لعرفتم مرارة القطيعة
Maqolah ini menegaskan bahwa siapa pun yang pernah merasakan manisnya kedekatan dengan Allah, akan segera menyadari betapa pahitnya keterputusan dari-Nya. Putus di sini bukan semata maksiat lahir, tetapi kondisi batin yang sibuk dengan selain Allah, meskipun dibungkus oleh aktivitas keagamaan.
Penutup Bab Tsani semakin hidup ketika Syaikh Nawawi menukil kisah al-Shibli setelah wafatnya. Dalam mimpinya, ia ditanya tentang sebab ampunan Allah kepadanya. Bukan shalat, puasa, haji, atau pengembaraan spiritual yang menjadi sebab utama, melainkan satu tindakan rahmat yang sangat sederhana. Ketika berjalan di jalan Baghdad, ia menemukan seekor kucing kecil yang menggigil kedinginan. Ia mengangkatnya, memasukkannya ke dalam bajunya, dan melindunginya dari dingin. Karena rahmat itulah Allah berfirman kepadanya:
برحمتك لتلك الهرة رحمتك
Kisah ini menutup Bab Tsani dengan satu penegasan mendasar bahwa jalan menuju Allah tidak selalu megah, tidak selalu keras, dan tidak selalu berat secara lahir. Ia sering kali terbuka melalui rahmat kecil yang dilakukan dengan hati yang jujur. Amal yang bersih lebih berat timbangannya daripada ibadah yang dipenuhi rasa bangga.
_________
Dr. Sismanto
Ketua PCNU Kutai Timur
Kitab: Nashoihul ‘Ibad
Bab 2 maqolah 29-30