![]()
Dalam Tanqihul Qaul, pembahasan tentang La Ilaha Illa Allah tidak ditempatkan sekadar sebagai lafaz zikir, melainkan sebagai fondasi eksistensial kehidupan manusia. Kalimat tauhid ini diposisikan sebagai pusat orientasi batin, sumber ketenangan, dan kunci keselamatan. Sejak awal bab, kitab ini menggarisbawahi keutamaan kalimat tauhid dengan redaksi yang tegas:
لا إله إلا الله أفضل الذكر
Tiada tuhan selain Allah adalah zikir yang paling utama (Tanqihul Qaul, hlm. 9).
Penegasan ini menunjukkan bahwa keutamaan La Ilaha Illa Allah bukan terletak pada kuantitas pengucapan semata, melainkan pada posisinya sebagai struktur kesadaran. Ia bukan sekadar bacaan lisan, tetapi kerangka berpikir dan kerangka nilai yang membentuk cara seseorang memandang dunia, mengambil keputusan, dan memaknai hidup.
Dalam perspektif fenomenologi sosial Alfred Schutz, kesadaran manusia selalu bekerja melalui stock of knowledge, yakni kumpulan makna, keyakinan, dan pengalaman yang diwarisi dan diinternalisasi, lalu digunakan sebagai rujukan dalam menafsirkan realitas.
La Ilaha Illa Allah dalam kerangka ini berfungsi sebagai inti dari stock of knowledge yang paling fundamental. Ia menata horizon makna sebelum seseorang bertindak. Realitas ekonomi, sosial, dan politik tidak lagi hadir sebagai medan bebas nilai, melainkan sebagai dunia kehidupan (lifeworld) yang telah disaring oleh kesadaran tauhid. Dengan demikian, tauhid tidak bekerja di permukaan tindakan, tetapi di lapisan terdalam kesadaran yang menentukan apa yang dianggap penting, layak, dan patut diperjuangkan.
Kitab ini kemudian mengaitkan tauhid dengan keselamatan akhirat. Rasulullah SAW bersabda sebagaimana dinukil dalam Tanqihul Qaul:
من قال لا إله إلا الله دخل الجنة
Barang siapa mengucapkan La Ilaha Illa Allah, maka ia akan masuk surga (Tanqihul Qaul, hlm. 9).
Namun para ulama menjelaskan bahwa “mengucapkan” di sini tidak berdiri sendiri sebagai aktivitas verbal. Ia menuntut pembenaran batin dan implikasi etis. Tauhid yang sejati menuntut peniadaan segala bentuk ketergantungan selain kepada Allah, baik dalam bentuk kekuasaan, harta, jabatan, maupun ego diri. Di sinilah tauhid menjadi kerja batin yang berat, bukan sekadar slogan spiritual.
Tanqihul Qaul juga menukil hadis tentang kekuatan tauhid dalam menghadapi kematian:
لقنوا موتاكم لا إله إلا الله
Talqinkanlah orang-orang yang akan meninggal di antara kalian dengan La Ilaha Illa Allah (Tanqihul Qaul, hlm. 10).
Hadis ini menunjukkan bahwa kalimat tauhid bukan hanya bekal hidup, tetapi juga bekal terakhir ketika semua penopang duniawi runtuh. Pada titik paling rapuh dalam kehidupan manusia, yang diminta hadir adalah tauhid. Ini menunjukkan bahwa La Ilaha Illa Allah adalah inti keberanian eksistensial manusia menghadapi kefanaan.
Kitab ini bahkan menempatkan tauhid sebagai pembeda nilai amal. Disebutkan bahwa amal sebesar apa pun akan kehilangan maknanya jika tidak berdiri di atas tauhid, sementara dosa sebesar apa pun masih memiliki pintu harapan jika tauhid tetap terjaga. Tauhid menjadi poros yang menentukan arah seluruh amal, bukan sekadar salah satu unsur di antara banyak unsur lainnya.
Dalam konteks kehidupan kontemporer, terutama dalam temuan disertasi saya tentang pengusaha Muslim, tauhid sering kali hadir secara simbolik tetapi tidak operasional. Kalimat La Ilaha Illa Allah dibaca, dipajang, dan dirayakan, tetapi dalam praktik ekonomi, ketergantungan justru berpindah kepada modal, pasar, relasi kuasa, dan angka keuntungan. Pada titik ini, tauhid kehilangan daya transformatifnya dan berhenti sebagai identitas.
Padahal, jika tauhid benar-benar berfungsi sebagaimana digambarkan Tanqihul Qaul, ia akan melahirkan keberanian etis. Keberanian menolak keuntungan yang zalim, keberanian membatasi ekspansi yang merusak, dan keberanian berkata cukup ketika nafsu meminta lebih. Tauhid sejati selalu berwajah pembebasan, membebaskan manusia dari perbudakan selain kepada Allah.
Bab ini tidak sedang menawarkan romantisme zikir, tetapi mengajukan tuntutan hidup. Tauhid bukan hanya kunci surga, tetapi juga alat penjernih orientasi hidup. Ia memurnikan niat, menata ulang prioritas, dan mengembalikan manusia pada pusat ketergantungan yang benar.
Pertanyaannya kemudian bukan seberapa sering kita melafalkan La Ilaha Illa Allah, tetapi sejauh mana kalimat itu benar-benar menyingkirkan “ilah-ilah kecil” yang diam-diam menguasai keputusan dan arah hidup kita.
_______
Dr. Sismanto
Ketua PCNU Kutai Timur
Kitab: Tanqihul Qaul
Bab Fadhilah La Ilaha Illa Allah halaman 9-10
17 Januari 2026 / 28 Rajab 1447 H