![]()
Salah satu krisis paling serius dalam kehidupan modern adalah krisis kejujuran batin. Banyak orang tampak religius di ruang publik, aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, namun rapuh ketika sendirian. Kesalehan sering diukur dari citra, bukan dari kejernihan jiwa. Di titik inilah maqolah ke-28 dalam Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani hadir sebagai koreksi yang tajam sekaligus lembut.
Syaikh Nawawi menukil sebuah kaidah yang menggugah kesadaran terdalam manusia:
وَقَالَ: إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تُقَاسِيسَ بِاللَّهِ فَاقْتَسِسْ مِنْ نَفْسِكَ.
Apabila engkau ingin menilai hubunganmu dengan Allah, maka nilailah dirimu sendiri.
Kaidah ini menegaskan bahwa kualitas hubungan dengan Allah tidak diukur dari seberapa sering seseorang berbicara tentang Tuhan, melainkan dari seberapa jujur ia membaca kondisi batinnya. Ukuran spiritual bukanlah tepuk tangan manusia, tetapi kemampuan menilai diri dengan adil. Dalam konteks sosial hari ini, pesan ini terasa sangat relevan ketika agama sering dipakai sebagai identitas luar, bukan sebagai proses batin yang terus dibenahi.
Maqolah ini diperkuat dengan peringatan lanjutan:
وَقَالَ: لَوْ ذُقْتُمْ حَلَاوَةَ الْوَصْلَةِ، لَمْ تَقُمْ مِرَارَةُ الْقَطِيعَةِ.
Seandainya kalian merasakan manisnya kedekatan dengan Allah, niscaya pahitnya keterputusan tidak akan kalian rasakan.
Maknanya sangat dalam. Banyak kegelisahan manusia modern sesungguhnya lahir dari keterputusan batin dengan Allah. Ketika relasi spiritual dangkal, manusia mudah merasa hampa, cepat marah, mudah iri, dan sulit bersyukur. Sebaliknya, orang yang pernah merasakan kelezatan kedekatan dengan Allah akan memiliki daya tahan batin yang kuat, bahkan ketika menghadapi tekanan hidup.
Dalam penjelasan lanjutan, diceritakan kisah tentang Abu Bakar asy-Syibli, seorang sufi besar Baghdad, yang dikenal dengan kejujuran spiritualnya. Dikisahkan bahwa beliau selalu menjaga salat fardunya secara lahir dan batin. Ketika ditanya tentang amalnya, beliau tidak menunjuk kepada keistimewaan, tetapi justru pada rasa takut dan harap yang seimbang. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah menegaskan tentang orang-orang yang menjaga kewajiban dengan kesungguhan batin, bukan sekadar rutinitas lahir.
Pesan utama maqolah ini mengarah pada satu titik penting. Bahwa keterhubungan dengan Allah tidak bisa dipalsukan. Ia tidak tumbuh dari simbol, tetapi dari muhasabah. Patologi sosial seperti kemunafikan, manipulasi agama, kekerasan atas nama iman, dan penghakiman moral sering berakar dari kegagalan mengukur diri sendiri. Orang sibuk menilai kesalahan orang lain, tetapi lupa menimbang kondisi hatinya sendiri.
Dalam realitas masyarakat hari ini, kita menyaksikan bagaimana agama kadang menjadi alat pembenaran, bukan sarana penyucian. Seseorang bisa rajin beribadah, tetapi tetap zalim dalam relasi sosial. Bisa lantang berbicara moral, tetapi abai terhadap keadilan. Maqolah ke-28 ini hadir untuk membalik arah pandang. Ukur dulu dirimu, sebelum engkau mengukur orang lain.
Syaikh Nawawi ingin menanamkan kesadaran bahwa manisnya iman hanya bisa dirasakan oleh jiwa yang jujur pada dirinya sendiri. Ketika seseorang mulai berani melihat kekurangan dirinya tanpa mencari kambing hitam, di situlah pintu kedekatan dengan Allah mulai terbuka. Dan ketika kedekatan itu tumbuh, pahitnya hidup tidak lagi menghancurkan, tetapi justru mendewasakan.
Jika setiap individu sibuk memperbaiki diri, bukan menghakimi sesama, maka banyak konflik akan mereda. Jika setiap orang mengukur hubungannya dengan Allah melalui kejujuran batin, bukan melalui sorotan publik, maka agama akan kembali menjadi sumber ketenangan, bukan sumber kegaduhan.
Pertanyaannya kini beralih kepada kita. Sudahkah kita benar-benar mengukur diri sebelum mengklaim kedekatan dengan Allah. Sudahkah kita merasakan manisnya hubungan spiritual, atau justru sibuk menutupi pahitnya keterputusan dengan simbol-simbol lahiriah. Karena pada akhirnya, Allah tidak membutuhkan pembelaan kita, tetapi kejujuran kita.
_________
Dr. Sismanto
Ketua PCNU Kutai Timur
Kitab: Nashoihul ‘Ibad
Bab 2 maqolah 28