![]()
Dalam kehidupan sosial hari ini, kita menyaksikan paradoks yang semakin terasa. Kemudahan hidup bertambah, akses ekonomi terbuka, teknologi memanjakan, tetapi kegelisahan justru meluas. Banyak orang bekerja keras, memiliki penghasilan, bahkan dipuji berhasil, namun batinnya rapuh, mudah mengeluh, dan cepat menyalahkan keadaan.
Syaikh Nawawi al-Bantani mengutip sebuah peringatan keras tentang sikap manusia terhadap nikmat dan waktu hidup:
النَّعِيمُ لَا يَدُومُ، وَكُفْرَانُهُ يُزِيلُهُ، وَالصَّبْرُ عَلَى الْأَهْوَالِ أَسْلَمُ.
Nikmat tidaklah kekal, mengingkarinya akan menghilangkannya, dan bersabar atas segala kesulitan adalah jalan paling selamat.
Pesan ini menempatkan manusia pada realitas yang sering dilupakan. Nikmat bukanlah kondisi permanen, melainkan titipan yang diuji melalui sikap batin. Ketika nikmat dianggap hak mutlak, bukan amanah, maka keluhan menjadi bahasa harian, dan kesyukuran terasa asing. Inilah yang oleh Syaikh Nawawi dibaca sebagai awal dari kufur nikmat, bukan sekadar tidak mengucap syukur, tetapi kegagalan membaca makna pemberian Allah.
Fenomena ini sangat nyata dalam problem sosial kontemporer. Kita melihat patologi sosial berupa gaya hidup berlebihan, budaya pamer, utang konsumtif, kecanduan validasi, hingga kemarahan kolektif ketika keinginan tidak terpenuhi. Banyak orang hidup dalam kecukupan, tetapi merasa paling kekurangan. Dalam perspektif maqolah ini, problemnya bukan pada sedikitnya nikmat, melainkan pada cara jiwa memperlakukan nikmat tersebut.
Syaikh Nawawi memperkuat makna ini dengan syair yang menyentuh kesadaran eksistensial manusia:
يَا مَنْ بِدُنْيَاهُ اشْتَغَلَ
قَدْ غَرَّهُ طُولُ الْأَمَلِ
الْمَوْتُ يَأْتِي بَغْتَةً
وَالْقَبْرُ صُنْدُوقُ الْعَمَلِ
Wahai orang yang sibuk dengan dunianya
Telah tertipu oleh panjangnya angan
Kematian datang secara tiba-tiba
Dan kubur adalah kotak penyimpanan amal
Syair ini bukan sekadar peringatan tentang kematian, tetapi kritik terhadap ilusi keberlanjutan dunia. Panjangnya angan membuat manusia merasa aman dari perubahan, lupa bahwa nikmat bisa hilang, jabatan bisa runtuh, usaha bisa jatuh, dan kesehatan bisa lenyap tanpa pemberitahuan. Dalam konteks sosial, ini menjelaskan mengapa banyak orang gagap menghadapi krisis. Mereka terbiasa hidup dalam zona nyaman tanpa kesiapan batin.
Patologi sosial seperti korupsi kecil hingga besar, manipulasi, eksploitasi, dan normalisasi ketidakadilan sering lahir dari mentalitas kufur nikmat. Ketika seseorang tidak mampu mensyukuri yang cukup, ia akan selalu merasa berhak mengambil lebih, meskipun harus merugikan orang lain. Di sinilah maqolah ke-27 menjadi sangat relevan sebagai kritik moral terhadap struktur sosial yang rusak dari dalam.
Dalam Nashoihul ‘Ibad, sabar bukan dipahami sebagai sikap pasif, tetapi kecerdasan spiritual dalam mengelola realitas. Sabar menghadapi kesempitan menjaga manusia dari keputusasaan, sementara syukur menjaga manusia dari keserakahan. Keduanya adalah sistem keseimbangan batin. Ketika syukur hilang, nikmat berubah menjadi beban. Ketika sabar runtuh, ujian berubah menjadi kehancuran.
Apakah keluhan yang sering kita ucapkan lahir dari kebutuhan nyata, atau dari jiwa yang tidak pernah merasa cukup. Apakah kegelisahan kolektif yang kita lihat hari ini berasal dari kurangnya sumber daya, atau dari kegagalan merawat kesadaran batin. Dan lebih jauh, apakah nikmat yang kita genggam sedang kita rawat dengan syukur, atau perlahan kita hancurkan dengan pengingkaran.
Dalam dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, maqolah ke-27 hadir sebagai pengingat sunyi. Bahwa yang paling berbahaya bukanlah hilangnya nikmat, tetapi hilangnya kesadaran saat nikmat masih ada. Dan bahwa keselamatan manusia bukan ditentukan oleh seberapa banyak yang ia miliki, tetapi oleh bagaimana ia memaknai apa yang telah Allah titipkan kepadanya.
Jika hari ini nikmat masih bersama kita, pertanyaannya bukan lagi apa yang kurang, tetapi apakah jiwa kita masih mampu bersyukur sebelum nikmat itu pergi tanpa pamit.
_________
Dr. Sismanto
Ketua PCNU Kutai Timur
Kitab: Nashoihul ‘Ibad
Bab 2 maqolah 27