Loading

Hari Jumat kerap datang setiap pekan, tetapi tidak selalu hadir sebagai peristiwa kesadaran. Ia sering berlalu sebagai rutinitas datang, duduk, lalu pulang tanpa benar-benar menggerakkan batin. Padahal, dalam referensi kitab kuning, Jumat diposisikan sebagai poros waktu yang menghubungkan langit, bumi, dan nasib manusia.

Dalam Tanqihul Qaul, Nawawi al-Bantani menegaskan bahwa Jumat bukan sekadar hari berkumpul, melainkan hari dengan bobot kosmik dan etis yang tinggi. Di antara kutipan kunci yang ditegaskan adalah sabda Nabi SAW:

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ فِيهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ

Hari terbaik yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat

(Nawawi al-Bantani, hlm. 19).

Redaksi ini menunjukkan bahwa Jumat adalah hari puncak dalam siklus waktu mingguan. Keutamaannya terhubung dengan peristiwa besar penciptaan Adam, wafatnya, tiupan sangkakala, dan terjadinya kiamat. Dengan demikian, Jumat menyimpan kesadaran asal-usul, batas akhir, dan pertanggungjawaban manusia. Ia bukan hari netral, melainkan hari evaluatif.

Makna ini diperluas dalam Tanbihul Ghafilin karya Imam Abu Laits as-Samarqandi yang menegaskan adanya saat mustajabah pada hari Jumat serta anjuran memperbanyak shalawat karena salam umat pasti disampaikan kepada Nabi SAW. Jumat dengan demikian adalah hari komunikasi vertikal, doa naik dan rahmat turun, sementara pintu langit dibuka lebih lebar daripada hari-hari lainnya.

Sementara itu Durratun Nasihin karya Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri al-Khubawi menekankan dimensi sosial Jumat. Perintah bersegera menuju dzikir Allah dimaknai sebagai kewajiban mendahulukan khutbah dan shalat Jumat di atas seluruh transaksi duniawi. Jumat menjadi mekanisme penghentian sementara logika pasar dan pemulihan orientasi akhirat.

Penegasan Al-Qur’an tentang Jumat mencapai puncaknya dalam Surat Al-Jumu‘ah ayat 9, ketika Allah secara eksplisit memerintahkan agar seluruh aktivitas muamalah ditinggalkan. Seruan untuk meninggalkan jual beli bukan sekadar larangan ekonomi, melainkan latihan ketundukan. Dunia diminta berhenti sejenak agar iman kembali memimpin. Dalam pembacaan kitab-kitab targhib, perintah ini adalah ujian prioritas, bukan ancaman kemiskinan.

Dalam konteks kehidupan hari ini, pesan Jumat menjadi sangat relevan. Banyak manusia hidup dalam percepatan ekonomi dan kebisingan informasi. Jumat hadir sebagai jeda sakral, ruang untuk melambat, mendengar, dan menata ulang arah hidup. Keberkahan Jumat tidak terletak pada keramaian semata, tetapi pada kesiapan meninggalkan kesibukan demi memenuhi panggilan Ilahi.

Maka pertanyaannya bukan lagi apakah kita hadir di hari Jumat, melainkan apa yang sungguh-sungguh kita tinggalkan ketika Jumat memanggil.

__________

Dr. Sismanto

Ketua PCNU Kutai Timur

Kajian Kitab Tanqihul Qaul

Jumat, 23 Januari 2026 / 4 Syakban 1447 H

Referensi:

Nawawi al-Bantani. (t.t.). Tanqihul Qaul.

as-Samarqandi, A. L. (t.t.). Tanbihul Ghafilin.

Asy-Syakiri al-Khubawi, U. b. H. b. A. (t.t.). Durratun Nasihin.