![]()
Di kalangan Nahdliyin, ada ungkapan satir yang sering dilontarkan sambil tersenyum, “iso kumpul, ora iso baris” . Mudah diajak hadir, pengajian ramai, tahlilan penuh, haul sesak. Tetapi ketika diajak berbaris rapi dalam satu shaf, satu komando, satu disiplin, sering kali terasa berat.
Ungkapan ini bukan sindiran kosong, melainkan potret jujur tentang tantangan kolektif umat dalam menerjemahkan kebersamaan menjadi keteraturan. Dalam Tanqihul Qaul, Nawawi al-Bantani menempatkan sholat berjamaah bukan sekadar ibadah yang dikerjakan bersama, tetapi latihan spiritual untuk membangun barisan. Nabi SAW bersabda:
صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة
Sholat berjamaah lebih utama daripada sholat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat keutamaan (Nawawi al-Bantani, hlm. 18).
Keutamaan ini tidak hanya terletak pada jumlah pahala, tetapi pada prosesnya. Dalam sholat berjamaah, orang belajar datang tepat waktu, mengikuti imam, merapatkan shaf, dan menahan ego. Tidak ada yang berdiri lebih maju karena status, tidak ada yang mengambil tempat sesuka hati. Semua tunduk pada satu aturan, satu arah, satu tujuan. Di sinilah sholat berjamaah menjadi pendidikan sosial yang sangat halus tetapi mendalam.
Durratun Nasihin memperluas makna ini dengan menjelaskan bahwa orang yang menjaga sholat berjamaah memperoleh perlindungan hidup dan keselamatan akhirat (Asy-Syakiri, hlm. 31–34). Artinya, keteraturan dalam ibadah berjamaah beresonansi langsung dengan keteraturan hidup. Barisan yang rapi di masjid melatih barisan batin dalam menghadapi dunia.
Sementara itu, Irsyadul Ibad mengingatkan bahwa sholat tidak boleh dikalahkan oleh urusan harta dan kesibukan (al-Malibari, tt). Pesan ini terasa relevan ketika kebersamaan umat sering berhenti pada kumpul-kumpul, tetapi belum naik kelas menjadi disiplin kolektif. Kita mudah hadir, tetapi masih berat untuk patuh pada ritme bersama.
Maka sholat berjamaah sesungguhnya sedang mengoreksi budaya iso kumpul tapi ora iso baris. Ia mengajarkan bahwa umat yang kuat bukan hanya yang ramai berkumpul, tetapi yang mampu berdiri sejajar, lurus, dan taat dalam satu barisan. Barangkali pertanyaannya bukan lagi seberapa sering kita hadir di tengah jamaah, tetapi sejauh mana kita siap menanggalkan ego agar bisa benar-benar berdiri rapi bersama.
_____________
Dr. Sismanto
Ketua PCNU Kutai Timur
Rujukan Kitab
1. Nawawi al-Bantani. (t.t.). Tanqihul Qaul (hlm. 18).
2. Asy-Syakiri, U. bin H. bin A. (t.t.). Durratun Nasihin (hlm. 31–34).
3. al-Malibari, Z. bin A. (t.t.). Irsyadul Ibad ilaa Sabil al-Rasyad.