Breaking News

Macan Ucul Soko Kandang

Loading

Tepat subuh, dipagi-pagi buta, dua puluh tahun yang lalu saya dan semua santri pondok pesantren al Fakhriyyah Lasem, Rembang dikagetkan dengan sebuah berita besar yang hampir semuanya tidak percaya bahwa kejadian itu akan benar-benar terjadi. Berita kehilangan seorang tokoh yang sangat saya kagumi, yang sangat saya tunggu fatwa-fatwanya, dan yang sangat saya tunggu maidloh hasanahnya.

Tepat subuh, di pagi buta dua puluh tahun yang lalu itulah kyai dan sekaligus pengasuh pondok pesantren kami "sedo" dan dipanggil Allah subhanahu wa ta’ala, Beliau adalah KH. Abdulrohim Abdullah. Saya dan para santri lainnya akrab memanggil Beliau dengan sebutan "Mbah Him", Seorang ulama, kiai, dan juga seorang pemuka agama yang sangat disegani pada masanya.

Mbah Him merupakan orang tua saya di pesantren yang mendidik dan mengajari para santrinya, Beliau yang mengajari dan membiasakan kepada saya dan para santrinya sholat subuh berjamaah, Beliau yang mengajari saya selain sholat wajib juga sholat tahajud. Berkat jasa dan bimbingan beliau saya hafal dan memahami makna dan kandungan beberapa ayat dan surat yang ada dalam al-quran. Berkat jasa Beliaulah pertama kali saya membedakan mana huruf yang harus dibaca panjang dan mana huruf yang harus dibaca pendek dalam kaidah tajwid al-qur’an.

Misalnya ketika beliau sangat tegas menyuruh saya membaca ملك الناس (dibaca pendek pada ma) pada surat Annas, bukan dibaca مالك الناس (dibaca panjang pada ma) sebagaimana kebiasaan saya membaca "ma" dengan nada yang panjang sebelumnya. Sebuah pembelajaran rutin Al quran bakda maghrib yang selalu saya ingat, yang selalu saya hafal, dan insyaallah yang akan selalu saya amalkan.

Tepat subuh, di pagi buta dua puluh tahun yang lalu setelah jenazah almarhum almaghfurllah dimandikan, kemudian diletakkan di ruang tamu keluarkan "ndalem", saya dan para santri putra berada di sebelah kanan jenazah almarhum, sementara di sebelah kiri para santri putri. Kegiatan yang saya lakukan bersama para santri waktu itu adalah membaca surat yasin tanpa kitab al quran, mengingat hampir semua santri pesantren kamu bakal surat Yasin. Saya masih teringat beberapa nama santri putri yang ada di seberang saya waktu itu. Misalkan ada mbak Jihan, mbak Istri Hastuti, mbak Endang Priyanti, Mbak Suntari, dan para santri putri lainnya yang namanya sudah hampir saya lupakan.

"Macane ucul soko kandang" begitu kira-kira ungkapan salah satu santri pesantren al fahriyyah Lasem, Kang Musthofa. Mengibaratkan tokoh yang saya kagumi, yang saya anutu, dan yang saya tunggu fatwa serta maidhohnya. Seorang macan yang "nyegoro" keilmuannya, yang sangat alim, dan santun tutur katanya. Sebuah ungkapan yang bisa saya pahami, mengingat saya dan santri lainnya sangat tawadhuk kepada Beliau.

Pagi harinya, tepat dua puluh tahun yang lalu bersamaan dengan kepergian Beliau, saya yang waktu itu kelas tiga di sebuah MTs Negeri Lasem akan menghadapi ujian sekolah/madrasah, sebuah ajang pemanasan sebelum evaluasi tahap akhir nasional (Ebtanas), yang dikenal dengan ujian nasional sekarang.

Pak shadikin, guru Al quran hadist di MTs dan juga guru qiraah saya di pesantren mengijinkan saya untuk tidak mengikuti ujian sekolah. Namun Bu Nuriyah, guru bahasa Indonesia sewaktu di MTs tidak mengijinkan saya dan teman-teman kelas tiga lainnya yang berada di pondok pesantren al fahriyah untuk tidak masuk mengikuti ujian sekolah, mengingat ujian sekolah merupakan sesuatu hal yang penting yang harus dilalui oleh siswa-siswa kelas tiga. Disamping itu, pada pagi hari itu juga saya dan teman-teman kelas tiga lainnya harus mengisi formulir keikutsertaan saya sebagai peserta ujian nasional tahun 1996.

Sebuah kejadian yang berat bagi saya dua puluh tahun lalu, di satu sisi sebagai seorang santri saya harus berada di pesantren untuk memberikan penghormatan terakhir kepada guru dan kiai saya, di sisi lain saya juga harus mengikuti ujian sekolah yang wajib saya lalui. Meskipun datang terlambat saya dan beberapa teman yang lainnya berangkat ke sekolah untuk mengikuti ujian sekolah dengan pikiran yang terbagi antara berada di pondok pesantren dan di sekolah. Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan ujian sekolah yang saya hadapi dua puluh tahun yang lalu. Secepatnya saya kembali ke pondok pesantren dan menyelesaikan tugas saya sebagai seorang santri yang taat kepada kyainya.

Kejadian dua puluh tahun yang lalu itu mengingatkan dan sekaligus memotivasi saya dan para santri yang lainnya. Meskipun saya dan para santri lainnya kehilangan seorang macan, saya tetap tegar, keluarga ndalem yang paling merasa kehilangan juga tetap tegar. Tugas saya dan para santri lainnya adalah mengembalikan para macan itu kembali ke kandangnya, menjaga marwah para kyiai sebagai ulama dan panutan para santri tetap terjaga.

"Tidak ada satupun orang yang boleh dan menghina marwah para kiai. Saya sebagai santrinya, siap menjaga para macan dan menjadi banper yang pertama..!!!"

About sismanto

Check Also

Senior Camp

After taking my wife to attend socialization at her school, Nala, my second son. I …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading