![]()
Perjalanan saya ke Bali ini dalam rangka memenuhi undangan panitia sebagai finalis lomba inovasi pembelajaran 2017 dan juga Ini merupakan perjalanan kedua saya ke Kota Denpasar Bali setelah tahun 2011 yang lalu manakala saya mengikuti simposium hasil penelitian kebijakan yang diadakan oleh pusat penelitian kebijakan (puslitjak) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Tinggal di Kota Sangatta selain anugrah terbesar bagi saya juga menjadi hal yang asyik dan menyenangkan bila saya ceritakan bila warga penduduk Kota Sangatta ingin berpergian ke luar daerah. Untuk mencapai bandara Sultan Haji Muhammad Balikpapan, saya harus menempuh perjalanan darat terlebih dahulu sekitar 8 jam. Sebenarnya perjalanan bisa ditempuh dengan menggunakan jalur udara yaitu pesawat Airborne milik PT Kaltim Prima Coal, namun tidak semua orang bisa menaiki pesawat jenis ini, dan bila menempuh perjalanan darat, maka akan menjadi perjalanan yang sangat melelahkan bila tidak diniati dengan ibadah ataupun liburan.
Bila menggunakan perjalanan darat, biasanya subuh para penumpang travel akan sampai di Balikpapan. Mengingat perjalanan saya ke Bali transit di Yogyakarta menggunakan Garuda pukul 12.40 maka saya tidak langsung ke bandara namun saya rehat sejenak di kantor banyumili travel yang ada di Balikpapan.
Tepat pukul 18.20 saya mendarat di Bandara Ngurah Rai Denpasar Bali dan saya sudah disambut oleh peserta inovasi pembelajaran 2017 lainnya, Ibu Elly Yuliana dan Daniarti dari Kota Pontianak Kalimantan Barat yang sudah terjalin lebih dahulu mendarat di Bandara. Barangkali Ibu Elly melihat cerita saya bahwa saya menggunakan perjalanan darat maka beliau berinisiatif mengajak saya terlebih dahulu untuk singgah ke tempat saudaranya di daerah Sukowati, Denpasar Timur.
Sesampainya di rumah saudaranya Ibu Elly, saya istirahat sebentar minum segelas kopi sebatang rokok untuk kemudian kami kembali lagi ke bandara I Gusti Ngurah Rai dengan menggunakan mobil Grand Max L 1938 AB untuk menjemput rombongan finalis dari Sulawesi yang berjumlah 6 orang, diantaranya Wasree Galuatry, Eril Maulid Latangka, Munawir Patilima, Dadang Rahman Shidieq, dan Zefrin Al Hasan.
Capek dan penat sebenarnya menyapa tubuh saya, secara sehari semalam saya melakukan perjalanan darat maupun udara hingga sampai di Denpasar Bali, namun semangat bertemu dengan guru guru hebat dari Sulawesi ini, maka saya putuskan untuk ikut ke bandara menjemput rombongan. Kami semua barangkali tidak menyangka bahwa 8 orang finalis lomba inovasi pembelajaran 2007 ditambah satu orang sopir akan muat masuk dalam mobil Grand Max, Tetapi setelah ditata bagian belakang diisi dengan bagasi kemudian di bagian depan dan tengah diisi 8 orang, maka semuanya dapat terangkut dalam suatu mobil.
Di tengah perjalanan menuju Sukawati Denpasar Timur tentu anda pasti bisa membayangkan apa yang kita bicarakan selain hal-hal lucu aneh dan tentu saja oleh-oleh cerita dari daerah masing-masing hingga saya dan rombongan sampai di daerah Sukowati Denpasar Timur.
Cerita ini saya tulis sebagai seorang saudara bukan sebagai seorang kompetitor dalam lomba inovasi pembelajaran 2017. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini menjadi pengingat dan pengikat kita bersama bahwa kita pernah sama-sama berada di kota Denpasar Bali, sebagai pengingat bahwa kita dianggap sebagai guru-guru hebat yang dapat membuat inovasi pembelajaran, sehingga kita diundang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan juga sebagai wasilah silaturahim saya bersama peserta-peserta guru guru hebat lainnya.
Denpasar, 3 September 2017
