Breaking News

Mbah Ahmad Mutamakkin Pati

Loading

Salah satu kegiatan yang menyenangkan bagi saya adalah mengajarkan agama sejak dini kepada anak-anak. Mengajarkan agama kepada anak di usia dini bisa dimulai dari hal yang sederhana dan ada pada kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitar.

Beberapa hari yang lalu saya bersama dengan kedua anak saya manakala mengunjungi saudara yang sedang belajar di pondok pesantren yang berada di desa Kajen Margoyoso Pati. Disamping mengenalkan dinamika dan kehidupan santri di pondok pesantren, saya sempatkan juga untuk berziarah di pesarean Kyai Ahmad Mutamakkin.

Bagi saya, tidak perlu takut mengajarkan kebaikan kepada anak-anak meskipun sebagian oeang menganggap sebagai kontradiksi, bidah tidak ada dalam tuntunan agama. Bagi saya, mengajarkan terhadap kebaikan dalam beragama, dalam hal ini berziarah kubur sangat perlu dikenalkan kepada anak-anak.

Dahulu Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam melarang umatnya untuk berziarah kubur, secara pada awal-awal perkembangan dakwah Islam masih banyak sahabat nabi yang imannya masih lemah sehingga ditakutkan berziarah kubur menjadi perbuatan syirik. Namun demikian, setelah dakwah Islam membumi dan umat Kanjeng Nabi Muhammad dirasa cukup pemahaman akidahnya, maka ziarah kubur sangat disarankan Kanjeng Nabi.

Pada saat berziarah di pesarean Kyai Ahmad Mutamakkin atau yang lebih dikenal dengan Mbah Mutamakkin, saya bertawasul sebagaimana yang ada pada kitab "Dalailul Khoirot" yang mana salah satu tawasulnya adalah ditujukan kepada Mbah Ahmad Mutamakkin. Setelah selesai tawasul sebagaimana dilakukan para khalayak, saya kemudian membaca surat Yasin dan tahlil singkat dan saya akhiri dengan doa. Selesai ritual berziarah di makam Mbah Mutamakkin kemudian saya menceritakan kepada kedua anak saya tentang siapa kah ulama yang sedang didatangi.

Dahulu ketika saya nyantri di Kajen Pati, kyai saya pernah menceritakan sebuah oral history salah satu karomah yang dimiliki Kyai Ahmad Mutamakkin, dan cerita itu masih saya ingat sampai sekarang. Mbah Mutamakkin hidup di masa pemerintahan kerajaan Islam pada masa Amangkurat IV sampai dengan Paku Buwono II, sekitar abad ke-18. Mbah Mutamakkin menyebarkan agama Islam di desa Kajen, Margoyoso, Pati. Dinamakan dengan desa Kajen dikarenakan dahulu daerah tersebut didiami seorang lelaki yang sudah berhaji yang bernama Haji Syamsudin.

Haji Syamsuddin merupakan orang pertama haji yang berasal dari desa tersebut. Atas dasar itulah daerah tersebut kemudian dikenal dengan nama Kajen (kaji Ijen: bahasa Jawa), yaitu Syamsuddin dikenal sebagau satu satunya orang yang sudah berhaji di desa tersebut. Mengingat kecocokan dan keilmuan yang dimiliki Mbah Mutamakkin, Haji Syamsuddin kemudian menyerahkan daerah tersebut kepada Mbah Mutamakkin untuk mendakwahkan agama Islam di desa Kajen.

Cerita oral history yang sangat masyhur tentang Mbah Mutamakkin adalah ketekunannya dalam mendalami agama Islam. Mbah Mutamakkin juga bersungguh-sungguh dalan belajar agama dibarengi dengan riyadlah. Riyadlah merupakan sarana "topo laku" untuk melatih jiwa dengan cara mengurangi hawa nafsu, kealiman dan kezuhudan seseorang bisa dilihat dari bagaimana dia mengendalikan hawa nafsunya. Banyak cara untuk melatih riyadlah, riyadlah mengurangi hawa nafsu yang dilakukan Mbah Mutamakkin diantaranya adalah dengan cara berpuasa mengurangi makan, minum, dan tidur.

Puncaknya, dalam rangka mengendalikan dan mengurangi hawa nafsu, Mbah Mutamakkin melakukan puasa 40 hari (tabarok). Pada hari ke-40 Mbah Mutamakkin melakukan "pati geni" dengan tidak tidur sehari semalam suntuk, kemudian Mbah Mutamakkin meminta istrinya untuk menghidangkan makanan yang paling enak dan lezat serta meminta istrinya untuk mengikat tubuhnya pada sebuah tiang di depan hidangan makanan tersebut.

Pada kondisi terikat dan berada di depan hidangan makanan tersebut, Mbah Mutamakkin mencoba untuk mengendalikan hawa nafsunya. Atas izin dan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala mbah Mutamakkin mampu mengendalikan hawa nafsunya, saat nafsu dan syahwat nya keluar ternyata menjelma menjadi dua ekor anjing.

Kedua ekor anjing tersebut ingin masuk kembali ke dalam tubuh tetapi ditolak Mbah Mutamakkin. Kedua ekor anjing tersebut dinamai "Abdul Qahar" dan "Qamaruddin", ada sebagian riwayat kedua anjing tersebut bernama "Samsuddin" dan "Qomaruddin". Pemberian kedua nama anjing inilah yang kemudian mendapat banyak pertentangan secara Mbah Mutamakkin menamai kedua ekor anjingnya serupa dengan nama manusia. Padahal yang dilakukan Mbah Mutamakkin adalah mengisyaratkan kepada manusia bahwa seseorang yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya sama halnya seperti anjing.

Atas dasar laporan seseorang yang bernama Komarudin yang dijamu saat makan di kediaman Mbah Mutamakkin. Saat bertamu di rumah Mbah Mutamakkin, Komarudin dijamu dengan makan makanan yang lauk pauknya berupa ikan asin. Dengan lahapnya Komarudin menghabiskan semua hidangan dan ikan asin. Ketika selesai menyantap hidangan, Mbah Mutamakkin dengan halus menyindir tamunya dengan mengatakan anjing saya saja tidak doyan ikan asin tetapi tetap saja dihabiskan. Kontan saja tamu tersebut naik pitam dan marah kemudian melaporkan ke pihak kerajaan.

Mendapat laporan tersebut, Mbah Mutamakkin sempat diadili dan mendapatkan hukuman obong atau dibakar dari pihak kerajaan. Mbah Mutamakkin dituduh melecehkan nama seseorang dengan memberikan nama manusia pada kedua ekor anjingnya.

Bara api sudah disiapkan oleh pihak kerajaan menyampaikan kepada Mbah Mutamakkin permintaan terakhirnya. sebelum dibakar Mbah Mutamakkin kemudian menyampaikan kepada pihak kerajaan bahwa dirinya siap dibakar dengan catatan apabila sandal teklek yang di bawanya bisa terbakar, sebuah sandal yang terbuat dari kayu yang banyak dipakai di kalangan santri. Atas izin dan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sandal teklek Mbah Mutamakkin yang dilemparkan ke bara api tidak terbakar. Kedua ekor anjing Mbah Mutamakkin kemudian lari masuk ke dalam bara api untuk mengambil sandal teklek

Sampai sekarang, nama Mbah Mutamakkin semakin harum dan pesarean nya yang berada di lokasi Desa Kajen Margoyoso Pati bersebelahan dengan perguruan Matholiul Falah semakin ramai dikunjungi warga yang berziarah. Kunjungan para peziarah ke makam Mbah Mutamakkin membuat roda perekonomian warga setempat semakin ramai dan maju. Mbah Mutamakkin tidak saja menjadi tokoh legendaris yang penuh kjarisma dan misteri di daerah Pati Utara, tetapi juga mampu membangkitkan roda perekonomian warga hingga sekarang.

#mbah_mutamakkin
#ulama_Pati

About sismanto

Check Also

Senior Camp

After taking my wife to attend socialization at her school, Nala, my second son. I …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading