
Sebagai seorang guru, saya sering merenungkan bagaimana kehidupan bisa berubah jika kita tidak berani bermimpi dan bertindak. Saya mengingat kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq, seorang sahabat Nabi yang tidak hanya dikenal karena ketakwaannya, tetapi juga kesuksesannya dalam bisnis. Ia memulai dari perdagangan kain yang diwarisi dari ayahnya, hingga menjadi seorang saudagar yang perjalanannya melintasi negeri-negeri jauh.
Namun, yang paling menggetarkan hati saya adalah bagaimana beliau menginfakkan hampir seluruh hartanya untuk perjuangan Islam, hingga saat hijrah ke Madinah, yang tersisa hanyalah sebagian kecil dari kekayaannya. Sebelum masuk Islam, ia memiliki kekayaan tunai sebesar 40.000 dinar (setara Rp94,35 miliar). Namun, setelah memeluk Islam, ia menggunakan sebagian besar hartanya untuk membebaskan budak Muslim yang disiksa, seperti Bilal bin Rabah. Ia juga menginfakkan hartanya untuk membantu dakwah Rasulullah, hingga saat hijrah ke Madinah, hanya tersisa 5.000 dirham (sekitar Rp981,75 juta).
Ketika Perang Tabuk, Rasulullah menyerukan infak besar-besaran untuk perjuangan Islam. Abu Bakar datang dengan seluruh hartanya yang tersisa. Saat Rasulullah bertanya, “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?”, Abu Bakar menjawab, “Aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya.” Jawaban ini membuat Rasulullah terharu, bahkan Umar bin Khattab pun mengakui bahwa ia tidak bisa menandingi keikhlasan Abu Bakar dalam berinfak.
Saat menjadi Khalifah, Abu Bakar tetap hidup sederhana dan menolak mengambil gaji besar dari Baitul Mal. Ia lebih memilih berdagang kecil-kecilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sebelum wafat, ia bahkan berwasiat agar seluruh gaji yang pernah diterima dari kas negara dikembalikan. Kisah Abu Bakar menjadi inspirasi bagi para pengusaha Muslim, bahwa kekayaan bukan untuk ditimbun, melainkan untuk membantu sesama dan memperjuangkan kebaikan.
Kisah ini sering saya jadikan cerminan. Saya, seorang guru dengan penghasilan terbatas, memiliki impian untuk memiliki bisnis sendiri. Namun, impian itu tampak seperti fatamorgana. Bagaimana mungkin saya bisa memulai sebuah bisnis tanpa modal besar? Setiap bulan, gaji saya hanya cukup untuk kebutuhan keluarga. Tidak ada warisan bisnis, tidak ada koneksi kuat di dunia usaha. Namun, dalam hati kecil saya, saya selalu percaya bahwa jika Allah mengizinkan, tak ada yang mustahil.
Saya mulai mencari inspirasi, membaca kisah para sahabat, dan bertanya kepada orang-orang yang telah lebih dahulu sukses dalam bisnis. Salah satu orang yang paling menginspirasi saya adalah Dr. M. Ali Wahyudi, seorang chairman dari Thursina IIBS Malang, yang membagikan prinsip pengelolaan keuangan sederhana tetapi sangat berdampak bagi mereka yang ingin memulai usaha.
Ali Wahyudi mengajarkan kepada saya satu hal yang sangat berharga: pengelolaan keuangan yang disiplin adalah kunci awal kesuksesan. Ia mengatakan bahwa setiap penghasilan harus dibagi dengan cermat agar kita tetap bisa hidup layak, beramal, dan tetap memiliki kesempatan untuk berkembang. Ia membagi penghasilan dalam beberapa porsi: 40-60% untuk biaya hidup, 2,5% untuk zakat, 7,5% untuk pengembangan diri, dan 30% untuk investasi atau bisnis.
Saya mulai menerapkan prinsip ini dengan hati-hati. Setiap bulan, saya menyisihkan sebagian dari gaji saya dan mengalokasikannya sesuai dengan persentase tersebut. Saya mulai belajar dari hal kecil—meminimalkan pengeluaran yang tidak perlu, menunda kesenangan sesaat demi masa depan yang lebih baik. Saya bahkan mencoba mencari penghasilan tambahan, menulis artikel, dan berdagang kecil-kecilan.
Namun, meskipun sudah berhemat dan menabung, modal yang terkumpul masih jauh dari cukup. Saat itu, saya merasa hampir menyerah. Tetapi saya kembali teringat kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq—bagaimana ia mengorbankan segalanya demi dakwah Islam. Jika beliau bisa menginfakkan hampir seluruh hartanya untuk agama, mengapa saya tidak bisa berkorban sedikit untuk mewujudkan mimpi saya?
Saya pun memutuskan untuk mengambil langkah yang lebih berani: memanfaatkan pinjaman koperasi sekolah. Dengan dana investasi 30% yang saya sisihkan setiap bulan, saya mengajukan pinjaman ke koperasi, dengan cicilan yang bisa saya bayar selama tiga tahun. Ini adalah keputusan besar, penuh risiko, tetapi saya yakin bahwa setiap langkah yang diiringi niat baik pasti akan diberkahi oleh Allah.
Dengan modal yang saya peroleh, saya memulai bisnis travel Banyumili. Saya memilih bidang ini karena melihat peluang besar di daerah saya—banyak orang membutuhkan jasa transportasi yang aman dan nyaman. Namun, perjalanan ini jauh dari kata mudah.
Hari-hari pertama dipenuhi dengan tantangan. Saya harus belajar dari nol: bagaimana mengatur operasional, bagaimana mencari pelanggan, bagaimana memastikan layanan tetap berkualitas meski sumber daya terbatas. Ada saat di mana saya hampir menyerah, terutama ketika mobil pertama saya mengalami kerusakan serius dan membutuhkan biaya perbaikan yang besar. Saya ingat saat itu, saya duduk sendirian di dalam mobil yang mogok di tepi jalan, air mata menetes tanpa bisa saya tahan. Apakah saya sudah membuat keputusan yang salah? Apakah saya seharusnya tetap menjadi guru dan melupakan impian ini?
Namun, Allah selalu punya cara untuk menguatkan hamba-Nya. Malam itu, saya membaca kembali kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Saya menemukan satu kutipan yang menggugah hati saya: “Janganlah takut kekurangan, karena sesungguhnya rezeki itu datang dari Allah, bukan dari manusia.”
Keesokan harinya, dengan tekad yang baru, saya mencari cara agar bisnis ini tetap berjalan. Saya mulai lebih aktif dalam promosi, lebih memperhatikan pelayanan pelanggan, dan lebih sering berdoa agar usaha ini membawa manfaat bagi banyak orang. Sedikit demi sedikit, kepercayaan pelanggan mulai tumbuh, dan Banyumili Travel mulai dikenal lebih luas.
Satu hal yang saya pelajari dari perjalanan ini adalah bahwa bisnis bukan hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga tentang memberi manfaat. Sejak awal, saya ingin bisnis ini tidak hanya sekadar usaha, tetapi juga ladang kebaikan. Saya berusaha menjalankan prinsip-prinsip Islam dalam setiap aspek bisnis—dari kejujuran dalam pelayanan hingga berbagi rezeki dengan orang lain.
Saya mulai melihat bagaimana keberkahan mengalir. Ada saat di mana seorang pelanggan datang kepada saya dan berkata, “Pak, terima kasih sudah menyediakan layanan ini. Saya tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada Banyumili Travel.” Kata-kata itu sederhana, tetapi menggetarkan hati saya. Itu adalah pengingat bahwa usaha yang dijalankan dengan niat baik pasti akan membawa dampak yang lebih besar dari sekadar keuntungan materi.
Saya juga melihat perubahan dalam kehidupan saya sendiri. Dulu, saya merasa sulit menyisihkan uang untuk sedekah, tetapi sekarang, justru saya merasakan kebahagiaan ketika bisa berbagi. Saya memahami bahwa ketika kita memberi, Allah akan menggantinya dengan cara yang tidak pernah kita duga.
Saat saya menulis kisah ini, saya menyadari bahwa perjalanan ini masih panjang. Banyumili Travel masih terus berkembang, dan saya masih terus belajar. Namun, satu hal yang pasti: perjuangan ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang keimanan, pengorbanan, dan keyakinan bahwa Allah selalu bersama mereka yang berusaha dan bertawakal.
Saya berharap kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang sedang berjuang merintis usaha. Jangan takut untuk bermimpi, jangan takut untuk memulai dari nol, dan jangan takut untuk gagal. Karena di balik setiap kesulitan, selalu ada hikmah yang Allah siapkan.
Seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menginfakkan hartanya demi agama, saya ingin bisnis ini menjadi jalan bagi saya untuk berbuat lebih banyak bagi orang lain. Dan jika suatu hari nanti saya harus melepaskan segalanya demi sesuatu yang lebih besar, saya berharap bisa melakukannya dengan hati yang ikhlas—seperti beliau.
Terima kasih, Abu Bakar, atas inspirasimu. Dan terima kasih, Allah, atas segala nikmat yang tak terhitung ini.
Aamiin.
Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .