![]()
“Nak, kamu jadi ini aja atau jadi itu aja. Jangan jadi anu!”
Demikian ungkapan orang tua yang sering terdengar di telinga anak. Orang tua seharusnya cukup mengarahkan saja bakat dan keinginan anak.
Biasanya, demi memuluskan keinginannya itu orang tua memasukkan pilihan ekskul di sekolahnya, padahal anak tidak menginginkan ekskul pilihan orang tuanya. Kalau kurang dengan pilihan ekskulnya di sekolah, orang tua lantas mendatangkan guru les untuk mengasah dan menambah kompetensi anaknya akan keinginannya itu. Jangan salahkan anaknya bila tidak semangat dalam belajarnya, tidak semangat mengikuti kegiatan ekskul di sekolah atau ogah-ogahan ketika guru lesnya datang ke rumah.
Untungnya, semasa kecil orang tua saya tidak terlalu membebani saya dengan cita-cita yang tinggi. Bagi beliau, cukup menjadi orang yang bermanfaat di dunia, negara, dan agama sudah cukup.
Padahal dalam hati kecil saya punya cita-cita menjadi guru besok kalau sudah besar. Cita-cita jadi guru itu terpatri dalam dada dan selalu saya ingat di setiap kali menjelang tidur, bangun tidur, dan berangkat ke sekolah.
Pernah juga cita-cita ini saya utarakan kepada teman sekelas, dan mereka semua memberikan sorakan dengan nada mengejek. “Masa , laki-laki punya cita-cita jadi guru?” ejekan beberapa teman sekelas itu tidak seratus persen saya salahan. Bisanya, kalau teman-teman sekelas ditanya Ibu/bapak guru maka mereka akan menjawab bahwa cita-cita mereka menjadi dokter, pilot, polisi, atau insinyur. Bagiku cita-cita menjadi guru adalah cita-cita yang mulia satu tingkat lebih baik menurutku setelah menjadi “ibu”.
Dengan bekal kebebasan pilihan atas cita-cita itu, saya ingin memberikan kepercayaan kepada orang tua saya bahwa saya akan mewujudkan cita-cita itu, saya akan tetap ingin selalu mewujudkan keinginan sederhana orang tua saya menjadi orang yang bermanfaat di dunia, negara, dan agama. Meski sekarang saya menjadi guru di sekolah dasar di Sangata – wilayah terpencil yang kurang punya akses – dan di suatu sekolah yang menampung anak-anak karyawan pertambangan.
Berawal menjadi guru di sanalah akan saya bangun mimpi-mimpi dan cita-cita orang tua saya yang secara spesifik tidak beliau sebutkan tapi tetap saya patri dalam dalam dalam kalbu sanubariku “menjadi guru bagi diri sendiri, sebelum menjadi guru orang lain”.
Berbekal motto ini, saya tidak ingin menggurui, saya tetap ingin menjadi pembelajar yang baik. Meskipun secara profesi saya sebagai guru, itu hanya masalah profesi tapi sejatinya saya tetaplah menjadi seorang pembelajar. Pembelajar yang selalu belajar dari anak didik-anak didik saya, temen-temen guru, dan belajar dari kehidupan nyata.

Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .