![]()
Oleh: Sismanto HS – Ketua PCNU Kutai Timur
Selasa, 5 Agustus 2025 | Musholla Al Qolam, Desa Sepaso Barat – Bengalon
Ada keharuan yang tidak bisa saya sembunyikan saat menyaksikan Musholla Al Qolam di Desa Sepaso Barat disulap menjadi ruang musyawarah penuh makna. Di tempat yang sederhana itu, cahaya ikhlas dan semangat jam’iyyah terpancar dari wajah-wajah peserta Konferensi MWCNU Bengalon. Bukan kemewahan tempatnya yang membuatnya istimewa, tetapi ketulusan niat yang terhimpun. Di sanalah kami mengukir sejarah kecil yang kelak berdampak besar.

Konferensi ini bukan sekadar agenda lima tahunan. Ia adalah ruang spiritual untuk menata ulang arah gerak NU di tingkat kecamatan. Forum ini menjadi ladang amal yang tenang, tempat kita tidak hanya memilih pemimpin, tetapi juga membangun kesadaran baru bahwa NU adalah milik bersama, dan khidmah adalah jalan yang tak boleh ditinggalkan.
Terpilihnya KH. Syifa Sirojudin sebagai Rais Syuriah dan Alfin Gunawan, M.Pd.I sebagai Ketua Tanfidziyah bukan hanya hasil dari pemungutan suara, tetapi pantulan dari kepercayaan kolektif. Keduanya bukan nama baru, tetapi jiwa-jiwa lama yang telah lama bekerja dalam diam, dalam gerak, dalam senyap yang berdampak. Kami percaya, kepemimpinan bukan tentang tampil di panggung, tetapi tentang siapa yang mau memikul beban di belakang panggung.
Yang membuat konferensi ini makin membahagiakan adalah kesepakatan bulat untuk menghidupkan Ranting NU di tiga desa. Saudara Andi diamanahi memimpin Ranting Sepaso, saudara Agus Subekti di Sepaso Barat, dan saudara Fijar di Sepaso Timur. Mereka bukan sekadar nama yang dicatat dalam SK, melainkan sosok-sosok yang bersiap menyalakan lentera NU dari akar rumput. Di tangan merekalah, dakwah akan menembus lorong-lorong rumah dan jalan-jalan kampung. Dari sanalah kemandirian NU disemai, dan dari sanalah kehadiran NU dirasakan.
Saya sampaikan dalam sambutan, bahwa konferensi ini adalah forum tertinggi dalam struktur MWCNU. Tapi lebih dari itu, ia adalah miqat ruhaniyah, titik awal keberangkatan kita sebagai jamaah dan jam’iyyah. Di balik musyawarah ini ada tugas peradaban: memilih pemimpin yang sanggup menerjemahkan tradisi dalam konteks zaman, dan membangun gerakan sosial yang relevan tanpa meninggalkan akar-akar nilai.
Sebagaimana dalam momen Sarari Lebaran PCNU, kita belajar bahwa kerja organisasi tak lepas dari spiritualitas kolektif. Atau seperti dalam silaturahim strategis bersama Kapolres Kutim, kita paham bahwa dakwah NU tidak berhenti di mimbar, tetapi menjelma menjadi kerja-kerja sosial yang konkret dan menjangkau lintas sektor.
Konferensi ini menjadi pengingat, bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari pusat. Kadang, justru dimulai dari tempat yang tampak sepi tapi penuh kesungguhan. Dari musholla kecil yang menyatukan niat-niat besar. Dari desa yang jauh dari sorotan, tetapi dekat dengan langit karena ketulusannya. Ketika Ranting hidup, maka MWC akan kuat. Dan ketika MWC kokoh, maka PCNU tidak akan rapuh.
Mari kita jaga semangat ini. Mari kita rawat nyala ini. Karena NU bukan soal siapa yang paling terlihat, tapi siapa yang paling konsisten menyalakan. Di Bengalon hari ini, saya menyaksikan sendiri: NU sedang menanam harapan, dari bawah, dengan cara yang sangat sederhana namun mulia. Dan dari sana pula, arah baru itu mulai disusun.
Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .