Breaking News

Pesantrenku Tergadaikan

Loading

Tahun 1992 merupakan awal saya menapakkan kaki memasuki dunia pembelajaran pondok pesantren. Sebuah pilihan melanjutkan jenjang pendidikan di pondok pesantren setelah lulus sekolah dasar mengantarkan saya memasuki pondok pesantren Badrul Munir.
Pondok pesantren Badrul Munir beralamatkan di desa Sekarjalak Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati, sebuah desa yang berada di sebelah timur desa Kajen, 13 km ke arah utara menuju kecamatan Tayu dari pusat kota Pati.
Sejarah tentang pondok pesantren Badrul Munir berawal ketika K. Ali Ahmadi pulang dari pondok pesantren di daerah Banten ingin mendirikan pesantren untuk mendidik agama warga sekitar. Seiring dengan berjalannya waktu ternyata perkembangan pondok pesantren Badrul Munir berkembang pesat santri-santrinya tersebar di berbagai daerah karisidenan Pati dan bahkan sampai luar pulau Jawa.
Pondok pesantren Badrul Munir memiliki satu unit bangunan mushola, satu tingkat asrama pesantren putra yang terdiri enam kamar dan bangunan terpisah yang memiliki dua kamar untuk pesantren putri. Saya ingat betul hari pertama saya memasuki pesantren ini, selepas magrib saya tiba diantar seorang tetangga yang juga saudara saya yang sudah nyantri di situ, saya mendapatkan kamar atas paling kiri yang berhadapan langsung dengan jalan.
Sebagai pondok pesantren pertama tentu menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Di pondok pesantren Badrul Munir inilah pertama kali saya belajar tentang ilmu tajwid dengan kitab muhtasor jidan dan juga belajar tentang fiqih dengan menggunakan kitab Fathul Qorib yang biasanya seminggu sekali juga diadakan bahsul masa’il dengan menggunakan kitab fiqih ini. Di pesantren ini pula saya mengenal berbagai ilmu kanuragan yang biasanya diamalkan para santri.
Setelah dirasa cukup saya menimba ilmu di pondok pesantren ini, saya kemudian pindah di pondok pesantren yang lain di daerah Lasem, Kudus, dan Malang. Dari awal perpisahan saya di pondok ini sampai dengan sekarang belum pernah satu kali pun saya bersilaturahim ke tempat Kiai, mengingat lokasi dan juga kesibukan saya sehari-hari yang belum memungkinkan untuk bersilaturrahim kembali di pesantren ini. Di pesantren ini pulalah saya banyak mengenal berbagai ilmu kanuragan yang khas dipelajari para santri.
Hingga akhirnya 25 tahun kemudian tepatnya tahun 2017 manakala Nala, anak laki-laki saya ingin jumpa pamannya atau adik saya paling ragil yang sedang menimba ilmu di salah satu madrasah salafiyah Matholiul Falah dan berada di pondok pesantren Al Husna 2 di daerah Kajen, Margoyoso, Pati. Saya menyempatkan diri menyusuri jalan-jalan di desa sekarjalak dan mencari lokasi pondok pesantren Badrul Munir. Saya masih ingat betul dimana lokasi pondok pesantren Badrul Munir berada, namun saya melewati jalan itu bolak balik selama empat kali tidak menemukan pesantren yang saya tempati 25 tahun yang lalu.
Rasa penasaran saya membuncah ingin mengetahui di mana letak sesungguhnya pondok pesantren badrul munir, hingga kemudian saya bertanya pada tetangga yang berada di sebelah kiri pondok pesantren yang saya ingat betul bahwa lokasi pondok pesantren berada di sebelah kanannya.
Berdasarkan informasi seorang tetangga yang berada di sebelah kiri pondok pesantren bahwasanya pondok pesantren Badrul Munir telah dijual untuk membiayai hidup Mbah kyai dan keluarganya. Tentu kita mafhum kebanyakan kyai tidak memiliki penghasilan tetap untuk menopang hidupnya, namun tetap saja mbah kyai rela mengajarkan agama tanpa pamrih dan dengan ikhlas yang penuh.
Hilangnya papan nama pondok pesantren ini membuat saya sebelumnya kebingungan mencari posisi pesantren sebenarnya berada. Pantas saja ketika saya melewati jalan di depan pondok pesantren bolak-balik sebanyak empat kali tidak saya temukan di manakah lokasi pondok pesantren itu berada.
Ketika tetangga sebelah kiri pesantren menceritakan tentang kronologi pondok pesantren, tanpa terasa ada butiran air mata di sudut mata saya yang hendak menetes, namun saat tahan kuat-kuat agar tidak jatuh. Saya amati dari kejauhan pesantren yang dulu saya tepati itu kini sudah tertutup dengan tembok yang tinggi, papan nama pondok pesantren Badrul Munir yang dulu pernah jaya yang pernah ter tempel berdiri tegak di depan pondok pesantren itupun telah tiada, sementara sang kyai yang dulu bermukim di pondok pesantren itu kembali ke rumah awalnya yang berada di depan pondok pesantren.
Ingin rasanya seketika itu pula saya beli pesantren itu dengan biaya saya sendiri, namun apalah daya bahwa saya tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli kembali pondok pesantren yang pernah saya tempati. Ingin rasanya setelah membeli pondok pesantren itu saya kembalikan lagi pada Mbah kyai agar dapat mengelola kembali pesantren dan mengajarkan ilmu agama kepada warga sekitar atau santri-santri yang bermukim di pondok pesantren.
Saat itu pula saya berjanji dalam hati dan saya patri dalam-dalam di dalam sanubari yang paling dalam mudah-mudahan suatu saat nanti pondok pesantren ini akan saya beli kembali untuk mengembalikan fungsi dan kebermanfaatan yang pernah ada pada pondok pesantren ini. Mohon bantuan doanya mudah-mudahan saya kuat dan mampu memenuhi janji seorang santri kepada kyainya, janji seorang santri kepada almamater pondok pesantrennya yang telah membesarkannya.
https://telegram.me/sismantohs

About sismanto

Check Also

Senior Camp

After taking my wife to attend socialization at her school, Nala, my second son. I …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading