![]()
Pesantren salaf merupakan pesantren tradisional yang banyak terdapat di pulau Jawa. Sebuah Pesantren dikatakan salaf dicirikan dengan adanya seorang kyai yang menjadi pengasuh pondok pesantren, pemondokan untuk menginap, dan juga adanya santri yang belajar agama.
Tradisi model pembelajaran bandongan maupun sorogan menjadi pelengkap ciri-ciri yang ditujukan pada pondok pesantren salaf. Pesantren model ini biasanya "diidentikkan" dengan istilah kumuh, sehingga tidak jarang para santri terkena imbas dari istilah kumuh sehingga banyak yang terkena penyakit kulit.
Beberapa penyakit kulit seringkali dimiliki oleh sebagian santri yang berada di pondok pesantren salaf, namun demikian tidak semua santri mengalami penyakit kulit. Para santri yang rajin menjaga dan merawat kebersihan dapat terhindar dari penyakit kulit.
Beberapa jenis penyakit yang sering di alami santri adalah mengalami gatal-gatal pada kulit, seperti panu, kudis, gudik, dan juga udon (bisul). Pengalaman menarik dan unik berkaitan dengan bisul ketika saya berada di pondok pesantren salaf saya temukan pada beberapa teman santri, dan bahkan saya sendiri juga mengalaminya.
Bisul merupakan salah satu penyakit dengan penyebab utama adalah bakteri Staphylococcus aureus. Bagi santri yang terkena bisul maka akan merasakan pada kulitnya benjolan merah yang terasa sakit dan berisi nanah. Hampir semua bagian tubuh pernah terkena bisul mulai wajah, leher, ketiak, bahu, bokong, dan paha. Hal Ini dikarenakan pada bagian-bagian ini sering mengalami gesekan dan berkeringat.
Saya juga tidak lepas dari penyakit bisul ini, parahnya lahi dalam satu bagian tubuh saya di lutut kanan dan kiri tidak hanya satu bisul yang ada tetapi saya hitung berjumlah dua puluh delapan buah, sehingga saya sangat kepayahan apabila berjalan.
Kala itu ada anggapan dari sebagian santri semasa saya nyantri di pondok pesantren, barangsiapa yang memiliki bisul maka disarankan untuk tidak menghitung berapa jumlah bisul yang sedang dialaminya. Bila seseorang menghitung bisulnya, maka dapat dipastikan dia akan memiliki bisul yang lebih banyak daripada sebelumnya.
Biasanya yang dilakukan para santri ketika memiliki penyakit bisul adalah menunggu bisul itu matang terlebih dahulu, yaitu kondisi nanah berada pada puncak bisul dan sekelilingnya sudah mengeras penuh. Teknik pengobatannya juga unik yaitu dengan cara dikop menggunakan gelas dengan terlebih dahulu membakar kapas tepat di atas bisulnya, ditunggu beberapa detik kemudian ditutup dengan gelas. Teknik ini bila dianalogikan dengan zaman sekarang bisa jadi disebut dengan bekam bedanya bila bekam dengan cara menusukkan jarum tetapi teknik "kop" ini tanpa menggunakan jarum.
Berkali-kali bisul saya yang sudah mengeras dan matang dikop tetapi tidak juga mengalami perubahan. Bisul terus bertambah dan berpindah-pindah tempat. Dua puluh delapan bisul yang saya miliki membuat saya semakin payah dan akhirnya saya pulang kampung.
Begitu sampai di rumah orang tua mengantarkan saya untuk berobat ke dokter. Ketika berobat ke dokter inilah salah satunya saya disarankan untuk menghindari makan makanan yang mengandung telur, padahal telur merupakan satu-satunya makanan favorit.
Tetap saja obat yang diberikan dokter dan menghindari makan makanan yang berasal dari bahan baku telur tidak membuat bisul Saya sembuh dengan total terus bertambah, bertambah, dan berpindah tempat.
Akhirnya alternatif terakhir adalah simbah putri mengobati bisul saya dengan suwok. Suwok yang digunakan simbah putri cukup unik, dengan cara menggunakan idu bacin (ludah yang diambil dari dalam mulut yang paling dalam atau ludah orang bangun tidur) dan sebuah kemiri.
Sambil komat-kamit membaca doa, idu bacin dioleskan tepat di ujung bisul yang sudah matang dan mengeras. Sementara sebuah kemiri ditanam pada abu depan mulut pawon, sejenis kompor dengan bahan bakar kayu. Ketika menanam kemiri di depan mulut pawon saya mendengarkan doa yang dibacakan "ojo tukul udune putuku, nek durung tukul kemiri iki", jangan tumbuh kembali bisulnya cucuku sebelum kemiri yang saya tanam ini tumbuh.
Sepintas saya tertawa di dalam hati, siapa pun akan paham bahwa biji tumbuhan apa pun bila ditanam di depan pawon tidak akan bisa tumbuh secara setiap hari kondisinya panas karena adanya bara api dan juga tidak adanya air sebagai sumber kehidupan yang menghidupi mulut depan pawon. Meskipun segala sesuatu yang musykil secara akal bisa terjadi kemungkinannya apabila Allah menghendaki, tetapi secara logika bahwa kemiri sampai kapanpun tidak akan pernah tumbuh.
Puji syukur dan alhamdulillah, ternyata bisul demi bisul yang saya miliki akhirnya sembuh dan tidak pernah tumbuh sampai sekarang. Barangkali ijabah dari barokah doa yang simbah putri bacakan ketika mengobati saya waktu itu. Anggapan saya waktu itu karena simbah membacakan doa yang dibacakan "ojo tukul udune putuku, nek durung tukul kemiri iki" sehingga bisul saya bisa sembuh, ternyata tidak.
Namun akhirnya saya tahu bahwa ternyata bukan karena bacaan itu bisul saya bisa sembuh, tetapi doa yang dibacakan sebelumnya ketika saya diolesi simbah dengan idu bacin. Entah doa apa yang dibacakan saya tidak tahu, yang pasti ketika seorang hamba meminta kepada Tuhan khaliknya dengan sepenuh hati dan mantep akan di kabulkan. Amin Allahumma amin.
Jangankan saya yang hanya manusia biasa, Nabi Musa alaihi salam juga pernah mengalami sakit. Ada sebuah cerita masyhur tentang sebuah cerita Nabi Musa pernah mengalami sakit gigi kemudian diminta Allah untuk mencabut rumput dan ditusukkan ke gigi yang sakit, seketika itu giginya sembuh. Pada lain hari giginya kumat lagi, ia langsung mencabut rumput dan menusukkan kegiginya yang sakit, ternyata giginya tidak sembuh. Jadi, yang menyembuhkan bukan metode, orang, dan atau alatnya, tetapi yang menyembuhkan adalah Allah.
#Suwuk
Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .