![]()

Semakin hari usia saya semakin bertambah, dan amal ibadah yang saya lakukan juga tidak seberapa. Bisa jadi lebih banyak dosa yang saya lakukan daripada amal kebaikan. Jika dihitung dengan jujur, mungkin saya lebih banyak menyia-nyiakan waktu daripada menggunakannya untuk hal yang bermanfaat.
Orang yang sukses dan bahagia adalah orang yang hari ini lebih baik daripada kemarin, dan besok lebih baik daripada hari ini. Tapi bagaimana jika hidup ini lebih sering berjalan stagnan, atau bahkan menurun? Pernahkah kita berpikir bahwa kehidupan kita mengalami defisit kebaikan?
Hitungan sederhana saja, jika sehari kita tidur 8 jam, maka di usia saya yang sekarang sudah 45 tahun, saya telah menghabiskan sekitar 15 tahun hanya untuk tidur. Itu baru tidur, belum dihitung waktu yang terbuang untuk hal-hal yang tidak bernilai ibadah.
Saya pernah mengalami satu momen yang membuat saya sadar betapa defisitnya saya dalam kebaikan. Suatu hari, saya sedang dalam perjalanan pulang dari acara keluarga. Di pinggir jalan, saya melihat seorang bapak tua dengan pakaian lusuh, duduk sendirian dengan tatapan kosong. Saya hanya melihatnya sekilas dan melanjutkan perjalanan. Namun, entah mengapa, wajahnya terus terbayang di benak saya.
Setelah beberapa menit, saya membalikkan mobil dan kembali ke tempat bapak itu duduk. Saya turun dan mendekatinya. “Bapak kenapa duduk di sini?” tanya saya pelan. Ia menoleh dan tersenyum lemah. “Saya kehilangan dompet, tidak bisa pulang,” jawabnya.
Saya mengulurkan selembar uang dan menawarkan tumpangan. Sepanjang perjalanan, bapak itu bercerita bahwa ia hanya seorang buruh harian yang ingin pulang ke kampung halamannya. “Kalau tadi tidak ada yang menolong, saya mungkin akan menginap di pinggir jalan,” katanya sambil tersenyum. Saya merasa malu. Jika saya tidak kembali, saya mungkin telah kehilangan kesempatan untuk berbuat baik.
Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Hadis ini menghantam saya tepat di hati. Jika kebaikan adalah timbangan amal, berapa banyak defisit yang sudah saya kumpulkan dalam hidup ini? Berapa banyak kesempatan berbuat baik yang saya sia-siakan?
Usia di atas 40 tahun adalah masa di mana seseorang seharusnya sudah lebih mapan, bukan hanya dalam materi tetapi juga dalam kebijaksanaan dan spiritualitas. Sudah seharusnya fokus kehidupan diarahkan pada akhirat. Karena pada akhirnya, yang kita bawa bukanlah harta, jabatan, atau ketenaran, melainkan amal kebaikan yang kita lakukan.
Mungkin saya dan panjenengan semua pernah mengalami situasi di mana kita menyesali kurangnya kebaikan yang kita lakukan. Namun, selama kita masih diberi kesempatan hidup, tidak ada kata terlambat untuk mengejar ketertinggalan itu. Marilah kita isi sisa usia ini dengan lebih banyak kebaikan, agar kita tidak mengalami defisit yang kelak membuat kita menyesal di hadapan Allah SWT.
Semoga saya dan panjenengan semua menjadi hamba Allah yang baik. Aamiin.
Waroeng Spesial Sambal
Malang, 20 Feb 2025
Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .