Breaking News

Defisit Kebaikan: Menjaga Wudlu di Tengah Ujian Adab dan Empati (Bagian 2)

~ Sismanto HS ~

Sejak kecil, saya dididik dan diajari untuk melanggengkan wudlu meskipun tidak sedang melaksanakan sholat. Sampai saat ini, ketika berangkat kerja pun saya membiasakan diri untuk berwudlu terlebih dahulu. Masalahnya kemudian adalah ketika bertemu dengan teman sekantor yang berlainan jenis yang mengajak bersalaman atau bertemu dengan anak didik perempuan yang sudah balighah yang mengajak musafahah.

Solusinya, terkadang saya bersalaman juga dengan mereka, lalu di waktu senggang berikutnya saya mengambil air wudlu kembali. Saya yakin dengan membiasakan berwudlu, ada keberkahan yang terselip di dalamnya. Saya percaya bahwa air wudlu bukan sekadar membersihkan fisik, tetapi juga menyucikan hati. Ada ketenangan yang meresap dalam dada setiap kali air itu menyentuh kulit saya, seakan mengikis dosa-dosa kecil yang tanpa sadar menumpuk sepanjang hari.

Namun, keyakinan itu diuji ketika saya menghadapi situasi yang membuat saya harus memilih antara adab dan kebiasaan yang saya junjung tinggi. Salah satu momen yang paling membekas dalam hidup saya adalah ketika saya mengajar di sebuah sekolah menengah pertama di Malang . Suatu hari, seorang siswi saya yang sudah balighah menangis tersedu-sedu setelah pelajaran selesai. Saya menghampirinya dan menanyakan apa yang terjadi. Dengan mata berkaca-kaca, ia berkata bahwa ia merasa terpuruk karena masalah keluarganya. Dalam tangisnya, ia mengulurkan tangan untuk bersalaman sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasih atas nasihat yang baru saja saya berikan. Saya terdiam.

Hati saya berkecamuk. Saya ingin mempertahankan wudlu saya, tetapi saya juga tidak ingin menyakiti hatinya dengan menolak jabat tangannya. Dalam kebingungan itu, saya tersenyum dan berkata, “Nak, saya selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga Allah memberikan kekuatan dan ketenangan dalam hatimu.” Saya meletakkan tangan saya di dada, memberi isyarat bahwa saya menghormatinya dengan cara lain.

Ia terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. Namun, air matanya semakin deras. “Pak, saya tidak pernah mendapat nasihat seperti ini sebelumnya. Saya merasa selama ini tidak ada yang peduli dengan saya.”

Saat itu, saya merasa hati saya diremas. Defisit kebaikan dalam hidupnya begitu nyata. Saya sadar bahwa mungkin bukan jabat tangan yang ia butuhkan, tetapi keberadaan seseorang yang benar-benar peduli. Sejak saat itu, saya berusaha untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Saya ingin setiap orang yang saya temui merasakan ketenangan dan harapan, sebagaimana yang saya rasakan setiap kali berwudlu.

Saya teringat sebuah kisah hikmah dalam Kitab Irsyadul Ibad karya Syeikh Zaynuddin bin Abdul Aziz al-Malibari. Kisah tentang Juned, yang matanya sakit dan diminta oleh seorang dokter Nasrani untuk tidak terkena air. Namun, Juned tetap menjaga wudlunya dan tetap membasuh wajahnya dengan air. Ketika kembali ke dokter, matanya justru sembuh. Keajaiban ini membuat dokter tersebut tersentuh dan akhirnya memeluk Islam.

Beberapa tahun berlalu, dan saya hampir lupa tentang kejadian itu. Hingga suatu hari, seorang wanita muda mengenakan jilbab rapi menghampiri saya di sebuah seminar. “Pak, masih ingat saya?” tanyanya. Saya mengerutkan dahi, mencoba mengingat. “Saya siswi yang dulu menangis setelah pelajaran Bapak.”

Mata saya melebar. Saya menatapnya, tak percaya dengan perubahan yang ada padanya. “Dulu, saya merasa dunia begitu gelap. Saya hampir kehilangan harapan. Tetapi sikap Bapak saat itu, meski sederhana, membuat saya berpikir ulang. Saya mulai mencari ketenangan, dan akhirnya saya menemukan Islam yang lebih dalam. Saya mulai belajar menjaga wudlu, seperti yang Bapak ajarkan secara tidak langsung kepada saya. Kini, saya merasa hidup saya lebih bermakna.”

Saya tercekat. Tanpa saya sadari, air mata menggenang di sudut mata saya. Dalam hati, saya bersyukur. Bukan karena saya telah mengubah hidup seseorang, tetapi karena saya diingatkan kembali bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu memiliki dampaknya sendiri. Mungkin kita tidak selalu menyadari efek dari tindakan kita, tetapi Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

Saya pun semakin mantap untuk terus membiasakan diri dalam keadaan suci, bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam niat dan hati. Karena saya tahu, defisit kebaikan hanya bisa diatasi dengan keberlanjutan amal, sekecil apa pun itu. baca lebih lanjut

Fave Hotel Malang, 21 Februari 2025

About sismanto

Check Also

Timbangan Amal

Manusia sering mengira bahwa amal dinilai dari apa yang tampak. Semakin besar pengorbanan, semakin tinggi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading