Breaking News

Fatayat, Bukan Lagi Pelengkap—Tapi Penentu

Oleh: Sismanto HS – Ketua PCNU Kutai Timur
Ahad, 27 Juli 2025 | Gedung PKK Bukit Pelangi, Sangatta

Ahad itu, di atas panggung sederhana Gedung PKK Bukit Pelangi, saya berdiri di hadapan perempuan-perempuan muda yang wajahnya memancarkan semangat. Bukan karena sorotan lampu, bukan pula karena makeup tebal—melainkan karena mereka membawa niat yang besar: niat untuk mengabdi, membangun, dan menyala.

Saya menyaksikan pelantikan PC Fatayat NU Kutai Timur, bersama PAC Fatayat Sangatta Utara dan Sangatta Selatan, bukan sebagai sebuah formalitas. Ia adalah tanda zaman. Sebuah takdir sejarah yang ditulis dengan kesadaran kolektif, bahwa gerakan perempuan muda NU tidak boleh sekadar menjadi pelengkap, melainkan harus tampil sebagai penentu arah. Fatayat hadir bukan hanya untuk mengisi ruang kosong dalam struktur organisasi, tetapi untuk menjaga nyala NU—dari sisi yang paling lembut namun paling kuat: jiwa perempuan.


Dalam NU, Banom bukan sekadar struktur tambahan. Ia adalah jendela cahaya. Dan di antara jendela itu, Fatayat adalah yang paling segar—karena berasal dari usia muda, semangat baru, dan wajah-wajah penuh harapan. Saya kerap bergurau, “Fatayat itu seperti sambal di meja makan NU—tanpanya, semua terasa hambar.” Tapi gurauan itu bukan tanpa makna. Karena sungguh, gerakan NU tanpa Fatayat tak akan pernah terasa lengkap.

Banner ucapan pelantikan Fatayat

Namun ada satu hal yang harus kita jaga bersama: semangat regenerasi. Kepemimpinan bukan singgasana. Ia adalah estafet. Maka, kami di PCNU Kutai Timur mendorong agar kepemimpinan di tubuh Banom cukup satu periode. Agar kader tidak terjebak dalam kenyamanan, agar organisasi terus bertumbuh, dan agar semangat muda tak kehilangan ruang untuk bergerak. Yang Ansor harus naik kelas menjadi NU. Yang Fatayat jangan terlalu betah hingga lupa beranjak ke Muslimat. Karena bila lift kaderisasi tak pernah bergerak ke atas, NU bisa kehilangan masa depannya.


Hari itu saya tidak meminta Fatayat untuk sempurna. Saya hanya mengajak Fatayat untuk segera bergerak. Jangan tunggu gedung. Jangan tunggu bendera. Jangan tunggu SK turun dari langit. Mulailah dari apa yang ada—dari komunitas kecil, dari silaturahmi antarsahabat, dari obrolan WhatsApp yang dibumbui semangat. Kami di PCNU siap menopang seluruh kebutuhan struktural. Tapi satu hal yang tak bisa kami suplai adalah api semangat. Dan api itu hanya bisa menyala dari hati yang yakin.

Kutai Timur ini luas. Tapi jangan biarkan gerakan kita tersebar namun tidak tertanam. Ada banyak guru perempuan, bidan, ASN, pengusaha kecil, aktivis komunitas, dan muslimah muda yang menanti disentuh. Mereka bukan sekadar potensi—mereka adalah kekuatan. Saya ingin Fatayat hadir tidak hanya di panggung-panggung pelantikan, tapi juga di pasar, sekolah, posyandu, bahkan di layar-layar digital. Suarakanlah gerakan perempuan muda NU di mana pun berada. Jangan malu jadi NU. Jangan lelah jadi Fatayat.

Fatayat bukan tempat pelarian. Ia bukan ruang basa-basi. Fatayat adalah tempat tumbuh. Tempat kader perempuan NU ditempa, ditemui, dan ditembangkan. Di sinilah ruang belajar kepemimpinan, ruang mengasah nurani, dan ruang mengelola potensi. Kita tidak sedang mengorganisasi orang—kita sedang menyusun kekuatan ruhani. Gerakan ini bukan hanya demi NU, tapi juga demi perempuan, demi keluarga, dan demi anak-anak masa depan yang akan lahir dari rahim ibu-ibu yang tercerahkan.


Saya berdiri hari itu bukan sekadar sebagai Ketua PCNU. Saya berdiri sebagai bagian dari sejarah yang sedang kita bangun bersama. Dan saya ingin menjadi saksi bahwa perempuan-perempuan NU di Kutai Timur sedang bangkit bukan hanya sebagai penonton sejarah, tetapi sebagai penulisnya—dengan pena kesabaran, tinta keberanian, dan lembaran perjuangan yang tak pernah selesai.

Foto bersama istri

Refleksi ini menjadi bagian dari perjalanan spiritual dan sosial yang tak jauh dari semangat yang juga saya rasakan dalam Isra Mi’raj: Bukan Sekadar Perjalanan Fisik, Tetapi Juga Pendakian Spiritual. Sama halnya saat saya menyaksikan PMKNU Angkatan I, di mana ruh khidmah menjadi pelita gerakan. Seperti pula silaturahim bersama Kapolres Kutim yang menguatkan bahwa kerja dakwah bukan hanya di mimbar, tapi juga di ruang-ruang dialog strategis.

Fatayat hari ini adalah bagian dari denyut dakwah tanpa lelah, bagian dari doa yang mengalir, dan bagian dari perlawanan kultural terhadap stagnasi.

Karena kita percaya, perempuan-perempuan fatayat NU bukan hanya pelengkap, tapi penentu masa depan.

About sismanto

Check Also

Timbangan Amal

Manusia sering mengira bahwa amal dinilai dari apa yang tampak. Semakin besar pengorbanan, semakin tinggi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading