![]()
Salah satu bentuk latihan manakala saya berada di pondok pesantren, tepatnya di pondok pesantren Al fakhriyah Lasem Rembang adalah adanya kegiatan yang namanya khitobah. Khitobah ini merupakan salah satu bentuk latihan yang diterapkan oleh pesantren untuk melatih santri-santrinya belajar berperan aktif, minimal menjadi seorang panitia dalam kepanitiaan pengajian atau kegiatan lainnya.
Bentuk susunan khitobah sebagaimana kalau kita lihat pengajian-pengajian yang diadakan di kampung-kampung. Ada yang bertugas menjadi MC, ada yang bertugas sebagai pembaca kalam ilahi (qoriah), ada yang bertugas sebagai pembaca tahlil, dan ada juga yang menjadi penceramah (dai). Kegiatan khitobah ini ditutup dengan pembacaan doa oleh santri senior, dan sampai saya lulus sebagai mutakhorijin di pondok pesantren belum pernah satu kali pun saya menjadi pembaca doa.
Bila diibaratkan sebuah sekolah, khitobah merupakan salah satu bentuk ekstrakurikuler yang ada di pesantren. Dikatakan demikian, mengingat kegiatan pokok utama seorang santri adalah membiasakan beribadah sejak dini dan mengkaji kitab-kitab klasik ala pesantren, dan juga tidak setiap hari dilakukan khitobah namun pada satu hari tertentu saja dalam setiap minggunya, khitobah itu dilakukan tepatnya pada malam hari Rabu.
Bagi seorang santri pemula seperti saya, malam Rabu adalah malam yang sangat mencekam dan menakutkan, apabila mendapatkan salah satu tugas berlatih menjadi salah satu pengisi acara khitobah tersebut. Apakah menjadi pembawa acara MC, pembaca tahlil, dan lebih-lebih apabila menjadi penceramah (dai).
Tidak semua santri suka menjadi pembicara dalam khitobah, mereka cenderung suka menjadi pendengar sebagaimana kebanyakan orang, tidak berani tampil di muka, dan berlatih menjadi seorang pembicara. Apabila ada yang tampil menjadi pembicara, materi yang disampaikan pun itu-itu saja, tidak jauh dari mencari ilmu. Dalil yang digunakan juga tidak jauh dari itu-itu saja "tholabul Ilmi faridhotun ala kulli muslimin wal muslimat" dan "utlubul Ilma Minal Mahdi Ilal lahdi".
Saya pun demikian ketika awal-awal ditugasi menjadi pembicara dalam kegiatan khitobah, maka materi yang saya sampaikan pun juga berkaitan dengan materi ilmu, tidak jauh dari dalil-dalil itu juga. dengan keringat sak jagung-jagung dan keterbatasan diksi dalam menyampaikan ceramah. Tentu hasilnya juga tidak bagus, tidak baik, yang terpenting bagi saya waktu itu adalah saya berani maju tampil di muka, saya berani menyampaikan sebuah orasi, berani menyampaikan sebuah gagasan dan berani tampil menjadi penceramah di muka teman-teman santri yang lainnya.
Seandainya waktu itu saya tidak dipaksa untuk berlatih menjadi seorang penceramah, maka tentu saat ini saya juga tidak akan berani tampil di muka, namun pondok pesantren memberikan wadah dan kawah candradimuka yang baik bagi santri-santri sebagaimana saya. meskipun saya bukan seorang penceramah yang ulung, bukan orator yang baik, tetapi minimal saya pernah berlatih bersama dengan orang-orang hebat, belajar dengan santri-santri senior, dan belajar di pondok pesantren yang telah membesarkan saya.
Dengan berlatih khitobah, saya bisa menjadi seperti yang sekarang ini. Berani tampil di muka dengan kata-kata sederhana, berani menjadi MC bila dibutuhkan, dan tentu saja berani dan mampu menjadi pemimpin tahlil apabila di lingkungan sekitar saya membutuhkannya.
Tentu keinginan kita minimal bisa belajar dari kegiatan khitobah ini, belajar menjadi MC yang baik, belajar menjadi orator yang baik. Saya yakin, seorang orator hebat yang pernah ada di negeri ini Ir Soekarno, tentu pernah berlatih menjadi seorang pembicara, berlatih bagaimana menjadi orator yang baik. Bila tidak, saya yakin sekelas Ir Soekarno pun, tidak akan mampu menjadi orator yang bisa menggetarkan Indonesia, yang bisa mengguncangkan dunia dengan kata-katanya,dan bisa memaparkan dengan baik falsafah Indonesia dengan Pancasilanya di seantero jagad dunia.
Semoga saya dan Anda pernah belajar dengan baik, sebelum tampil di muka publik menjadi seorang pembicara.
Semoga saya dan Anda pernah belajar dengan baik, sebelum tampil di muka publik menjadi seorang pembicara.
Selamat Harlah NU ke-94
#HarlahNU94
