![]()
Khutbah Pertama
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْـحَمْدُ لِلَّهِ، الْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، رَبُّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، نَبِيِّنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ خَيْرُ مَا يَذْخَرُهُ الْعَبْدُ لِيَوْمِ مَعَادِهِ. وَقَدْ قَالَ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita awali khutbah ini dengan memperbaharui niat dan memperdalam kesadaran akan pentingnya takwa dalam setiap detik kehidupan kita. Takwa adalah cahaya yang menerangi hati, penuntun dalam kegelapan zaman, dan benteng dari godaan duniawi yang mengikis nilai-nilai ruhani.
Pada kesempatan kali ini, izinkan khatib menyampaikan khutbah dengan tema: “Belajar Bertasawuf di Zaman Modern”.
Tasawuf bukanlah jalan alternatif, tapi esensi dari perjalanan iman. Ia mengajarkan bagaimana hati dibimbing menuju Allah, bagaimana akhlak dibangun atas dasar cinta, dan bagaimana kehidupan dunia dijalani dengan kesadaran akan akhirat.
Ibnu Athoillah as-Sakandari dalam al-Hikam menyatakan bahwa tasawuf mencakup empat hal penting: mengenal Allah secara hakiki, menghiasi diri dengan akhlak baik, melepaskan ketergantungan pada nafsu duniawi, dan menyadari bahwa segala sesuatu hanyalah milik Allah.
Demikian pula Abu al-Hasan al-Syadzili, seorang tokoh agung tasawuf, menekankan lima prinsip yang menjadi pondasi jalan ruhani:
takwa kepada Allah, ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ, tidak bergantung kepada makhluk, ridha terhadap semua takdir, serta selalu kembali kepada Allah dalam setiap kondisi, baik lapang maupun sempit.
Ma’mun Gharib, dalam kitabnya Abu al-Hasan al-Syadzili: Hayatuhu, Tasawwufuhu, Talamidzatuhu wa Atsaruhu, menegaskan bahwa tasawuf bukan ajaran menjauhi dunia, tetapi ajaran menyucikan hati dalam dunia. Syeikh Abu al-Hasan Asy-Syadzili dikenal sebagai sufi yang tampil rapi dan harum. Ketika ditanya muridnya, Imam Abul Abbas al-Mursi, mengapa ia tampil seperti hartawan, beliau menjawab dengan penuh makna: “Pakaianku berbicara: aku ini hamba Allah yang kaya. Tidak perlu dikasihani.”
Ini menunjukkan bahwa tasawuf sejati adalah hidup di tengah masyarakat dengan hati yang terhubung kepada Allah, bukan lari dari dunia, tetapi menaklukkannya dengan iman.
Jamaah sekalian,
Tasawuf mengajarkan kepada kita untuk melihat dunia sebagai ayat-ayat Allah. Seperti kisah seorang santri yang diminta ayahnya ke sawah setelah pulang dari pondok. Saat ditanya apa yang ia lihat, ia hanya menjawab: “padi, jagung, semangka.” Ayahnya lalu menyuruhnya kembali belajar, karena ia belum melihat kehadiran Allah dalam ciptaan-Nya.
Demikian pula kisah kiai yang mengadakan sayembara: siapa yang bisa menyembelih ayam di tempat yang tidak dilihat oleh Allah. Semua santri berhasil, kecuali satu. Ia berkata, “Saya tidak menemukan tempat yang tidak dilihat oleh Allah.” Inilah maqam muraqabah, merasakan bahwa Allah senantiasa hadir.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“الإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ”
Artinya: “Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
Inilah yang menjadi inti bertasawuf: hidup dengan rasa diawasi oleh Allah.
Di tengah zaman yang bising ini, kita butuh kejernihan hati. Di tengah derasnya arus informasi, kita butuh ketenangan ruhani. Di sinilah tasawuf menemukan relevansinya. Tasawuf menenangkan bukan dengan menjauh, tapi dengan menyucikan.
Sufisme bukan tentang gelar atau pengakuan. Banyak orang mengaku wali, padahal wali adalah rahasia Allah. Bahkan, satu-satunya yang disebut Rasulullah sebagai wali di zamannya adalah Uwais al-Qarni—seorang lelaki yang tak dikenal manusia, tapi dikenal langit karena baktinya kepada ibunya.
Seorang sufi sejati tidak sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain. Ia seperti orang yang berjalan membawa air dalam gelas di tengah keramaian pasar. Fokusnya hanya menjaga agar air tidak tumpah. Hatinya hanya kepada Allah, bukan kepada pujian manusia.
Allah berfirman dalam surah Al-Hadid:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”
Tasawuf mengajarkan kita untuk selalu merasa diawasi, mencintai ketenangan, dan menyeimbangkan antara syariat dan hakikat.
Tasawuf bukan klaim jalan khusus menuju surga, tapi upaya membersihkan hati dari sombong, riya’, dan cinta dunia berlebih.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” (HR. Muslim)
Semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat itu dan dijadikan bagian dari hamba-hamba-Nya yang bersih jiwanya, lurus jalannya, dan ikhlas amalnya.
Dan marilah kita akhiri khutbah ini dengan memperteguh keyakinan kita akan kasih sayang dan pertolongan Allah, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ، وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ.
Khutbah Kedua
الْـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَ بِالْإِتِّحَادِ، وَالِاعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَشُكْرِهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ أَمْرًا عَظِيْمًا، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلٰى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ:
“إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَارْضَ اللّهُمَّ عَنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ، وَالْغَلَاءَ، وَالْفَحْشَاءَ، وَالْمُنْكَرَ، وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً، وَمِنْ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا، وَلِوَالِدِيْنَا، وَلِمَشَايِخِنَا، وَلِمُعَلِّمِيْنَا، وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ، وَالْمُنْكَرِ، وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .