Breaking News

Kritik Disertasi: Pendidikan Islam Multikultural di Sekolah Dasar – Analisis dan Evaluasi Akademik

Judul Disertasi:
Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural pada Budaya di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Prima Swarga Bara 3 Sangatta Kabupaten Kutai Timur

Nama Penulis:
Sismanto

Program Studi / Universitas:
Program Doktor Pendidikan Agama Islam Multikultural
Universitas Islam Malang (UNISMA)

Tahun Penulisan:
2024

Promotor / Ko-Promotor:

  • Prof. Dr. H. Yaqub Cikusin, M.Si.
  • Prof. Dr. H. Junaidi Mistar, M.Pd.

URL:
https://pps.unisma.ac.id/s3-pai-multikultural-luluskan-doktor-ke-100-dan-ke-101/

Pendahuluan

Disertasi ini berangkat dari kegelisahan akan pentingnya menanamkan nilai-nilai Islam yang toleran, inklusif, dan multikultural sejak pendidikan dasar. Sismanto mengangkat konteks pendidikan dasar di Kutai Timur, wilayah yang sarat keberagaman etnis dan agama sebagai studi kasus yang merefleksikan realitas Indonesia secara umum. Dalam kerangka ini, pendidikan Islam tidak cukup hanya menyampaikan dogma normatif, melainkan juga harus mampu membentuk sikap keberagaman dan inklusi sosial.

Secara konseptual, pendidikan Islam multikultural dipahami sebagai integrasi antara nilai-nilai Islam universal (rahmatan lil ‘alamin) dengan praktik sosial yang menghargai perbedaan. Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Prima Swarga Bara 3 Sangatta dipilih sebagai locus karena memiliki dinamika budaya sekolah yang kompleks, dan menjadi lahan yang subur bagi penelitian nilai-nilai transformatif. Sismanto menelusuri bagaimana nilai multikultural Islam tidak hanya diajarkan secara kognitif, tetapi diinternalisasikan dalam budaya sekolah, keteladanan guru, dan interaksi sosial murid.

Fokus penelitian ini mencakup tiga aspek utama: (1) bentuk nilai-nilai pendidikan Islam multikultural yang ditanamkan; (2) strategi pembelajaran dalam menanamkan nilai tersebut; dan (3) peran budaya sekolah dalam memperkuat nilai multikultural. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi kualitatif, Sismanto berupaya menggali makna dari pengalaman, bukan sekadar mengukur dampak. Pendekatan ini tepat karena objeknya adalah nilai, sikap, dan budaya yang bersifat kontekstual dan tak mudah dikalkulasi.

Penelitian ini tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga menawarkan solusi konkret terhadap tantangan keberagaman di dunia pendidikan. Disertasi ini menunjukkan bahwa sekolah dasar bukan sekadar tempat transmisi ilmu, tetapi juga arena pembentukan karakter pluralistik yang Islami. Dengan kata lain, tesis ini menempatkan Islam sebagai kekuatan moral dan sosial yang mendorong peradaban damai di tengah kemajemukan bangsa.

Literatur Review

Fokus I: Nilai-nilai pendidikan Islam multikultural

Dalam tinjauan teoritisnya, penulis mengelaborasi nilai-nilai Islam yang bersifat universal seperti toleransi, keadilan, persaudaraan, dan penghargaan atas perbedaan. Nilai-nilai ini disandingkan dengan teori multikulturalisme dari tokoh seperti Banks, Nieto, dan Tilaar. Sismanto menekankan bahwa pendidikan Islam sejatinya memiliki akar multikultural sejak masa Nabi, ketika Islam hadir di tengah masyarakat Mekah-Madinah yang plural. Namun sayangnya, pendekatan literatur masih terlalu menekankan pada sumber normatif Islam dan belum memadukan secara utuh dengan kajian multikultural kontemporer dalam bidang pendidikan.

Penulis juga mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan ajaran Qur’an dan Hadis yang menekankan pentingnya dialog, kasih sayang, dan keadilan antar sesama manusia. Namun demikian, akan lebih kuat bila ditambahkan diskursus modern seperti pendidikan global citizenship dan pedagogi keberagaman yang berkembang di banyak jurnal internasional.

Fokus II: Strategi pembelajaran nilai Islam multikultural

Strategi yang diulas meliputi keteladanan guru, pembiasaan, integrasi dalam mata pelajaran, dan kegiatan ekstrakurikuler. Pendekatan ini cukup komprehensif, tetapi perlu didukung oleh kerangka teoritis dari pendekatan pembelajaran humanistik atau konstruktivistik yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam membangun sikap multikultural. Referensi pedagogik masih bersifat deskriptif, dan kurang disandarkan pada kerangka teori pendidikan progresif atau transformasional.

Penulis seharusnya dapat memperkuat argumentasi dengan merujuk pada teori seperti Experiential Learning (Kolb) atau Transformative Learning (Mezirow) untuk memberi kedalaman strategi yang digunakan guru dalam proses penanaman nilai.

Fokus III: Peran budaya sekolah dalam penguatan nilai multikultural

Dalam bagian ini, disertasi menunjukkan bahwa budaya sekolah memiliki peran signifikan dalam membentuk suasana inklusif. Misalnya, kegiatan bersama lintas agama, penghargaan terhadap bahasa daerah, dan simbolisasi ruang kelas yang non-diskriminatif. Sismanto berhasil menampilkan budaya sekolah sebagai alat yang “menghidupkan” nilai-nilai yang diajarkan secara formal.

Namun, diskusi teoretis mengenai budaya sekolah masih minim. Seharusnya disertasi ini mengadopsi teori budaya organisasi sekolah dari Schein atau Deal & Peterson agar analisisnya lebih kokoh. Dengan memasukkan konsep seperti “hidden curriculum” dan “school climate,” peran budaya sekolah akan lebih sistematis dibahas, tidak hanya sebagai latar, tetapi juga sebagai agen pembentuk nilai.

Hasil Penelitian

Disertasi ini menghasilkan temuan penting bahwa nilai-nilai pendidikan Islam multikultural telah berhasil ditanamkan secara integratif dalam proses pembelajaran dan budaya sekolah. Guru di sekolah tersebut tidak hanya mengajarkan secara verbal, tetapi juga menjadi teladan hidup dalam sikap toleran dan inklusif. Murid-murid diajak untuk aktif berdialog, menghargai teman berbeda agama dan budaya, serta membiasakan diri menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.

Strategi yang diterapkan meliputi integrasi dalam mata pelajaran PAI, kegiatan kebudayaan lintas suku, serta pembiasaan seperti doa bersama, gotong royong, dan proyek kelompok lintas latar belakang. Budaya sekolah juga menunjukkan iklim yang sehat, partisipatif, dan egaliter. Semua komponen—guru, kepala sekolah, orang tua berperan aktif dalam membentuk lingkungan yang mendukung nilai multikultural.

Analisis Kritis dan Evaluasi

1. Identitas Disertasi

Disertasi berjudul Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural pada Budaya di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Prima Swarga Bara 3 Sangatta Kabupaten Kutai Timur ditulis oleh Sismanto dalam rangka penyelesaian studi Program Doktor Pendidikan Agama Islam Multikultural di Pascasarjana Universitas Islam Malang (UNISMA) tahun 2024. Promotor dan ko-promotor yang membimbing adalah Prof. Dr. H. Yaqub Cikusin, M.Si., dan Prof. Dr. H. Junaidi Mistar, M.Pd. Judul tersebut secara eksplisit menunjukkan tema utama, metode pendekatan, lokasi penelitian, dan keterkaitan antara nilai-nilai Islam multikultural dan konteks budaya sekolah dasar. Judul ini tergolong representatif karena mampu menggambarkan cakupan fokus penelitian, yaitu pendidikan Islam dalam konteks masyarakat majemuk. Terlebih, lokasi penelitian yang berada di Kutai Timur wilayah yang dihuni oleh beragam suku, budaya, dan agama memberi dimensi lokal yang berdaya saing nasional. Identitas karya ini juga tercatat secara resmi di laman Pascasarjana UNISMA, yang memuat dokumentasi promosi doktor ke-101 bidang PAI Multikultural, memperkuat status keabsahan ilmiahnya.

Dari segi penulisan, disertasi ini menunjukkan keseriusan dalam membangun identitas akademik yang kuat. Penulis secara sistematis memosisikan dirinya sebagai bagian dari wacana baru pendidikan Islam yang mengedepankan inklusivitas. Dalam konteks ini, pemilihan judul juga sekaligus mencerminkan positioning ilmiah penulis yang berpihak pada penguatan nilai-nilai toleransi berbasis Islam. Hal ini penting karena identitas disertasi bukan hanya administratif, tetapi juga merupakan pernyataan ideologis dan epistemologis yang menjelaskan posisi penulis dalam tradisi ilmu yang dibangun. Dari sisi struktur, seluruh elemen penting, seperti judul, penulis, program studi, universitas, tahun penulisan, promotor, dan link validasi dokumen telah terpenuhi. Dengan demikian, identitas disertasi ini tergolong lengkap, terverifikasi, dan secara akademik dapat dipertanggungjawabkan.

2. Ringkasan Isi Disertasi

Disertasi ini mengangkat pentingnya pendidikan Islam multikultural di lingkungan sekolah dasar dalam rangka membangun karakter peserta didik yang toleran, inklusif, dan berakhlak Islami. Fokus kajian diarahkan pada tiga aspek utama: (1) bentuk nilai-nilai Islam multikultural yang ditanamkan, (2) strategi pembelajaran yang digunakan, serta (3) peran budaya sekolah dalam mendukung internalisasi nilai-nilai tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, bertujuan untuk menggali pengalaman, pemaknaan, dan kesadaran aktor-aktor pendidikan dalam menjalankan nilai multikultural secara nyata di sekolah. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles & Huberman.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam seperti toleransi, persatuan, keadilan, saling menghormati, dan kerja sama berhasil ditanamkan dalam praktik keseharian melalui pendekatan keteladanan, pembiasaan, dan penguatan budaya sekolah. Guru berperan besar dalam menghidupkan nilai-nilai tersebut baik melalui proses pembelajaran maupun dalam relasi sosial sehari-hari. Siswa dilibatkan dalam kegiatan lintas budaya, pembelajaran kontekstual, serta proyek sosial yang memfasilitasi internalisasi nilai. Budaya sekolah yang positif, partisipatif, dan terbuka memperkuat pembentukan iklim multikultural yang Islami.

Kesimpulan umum dari disertasi ini adalah bahwa pendidikan Islam multikultural sangat mungkin dikembangkan secara praksis sejak jenjang sekolah dasar, selama didukung oleh strategi pembelajaran yang inklusif, kepemimpinan sekolah yang visioner, dan budaya sekolah yang kondusif. Disertasi ini tidak hanya berhasil mendeskripsikan praktik yang terjadi, tetapi juga menyusun konstruksi model pendidikan Islam multikultural berbasis budaya lokal. Hal ini menjadikan karya ini memiliki nilai teoritik dan praktis sekaligus.

3. Kekuatan Disertasi

Salah satu kekuatan utama dari disertasi ini adalah keberhasilannya menjembatani antara nilai-nilai universal Islam dan konteks sosial Indonesia yang pluralistik. Penulis tidak terjebak pada dogmatisme, melainkan mengelaborasi nilai Islam dengan pendekatan multikultural yang berbasis pengalaman nyata di sekolah dasar. Konteks lokal Kutai Timur memberikan kekayaan data empiris sekaligus menjadikan temuan penelitian lebih membumi. Dalam hal ini, disertasi tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga menyentuh aspek kebijakan publik dan pendidikan praktis.

Kekuatan lain terletak pada konsistensi metodologis. Pendekatan fenomenologi dipilih secara tepat karena penelitian berfokus pada pemaknaan pengalaman aktor pendidikan. Teknik triangulasi data dilakukan dengan cermat, dan analisisnya cukup mendalam. Penulis mampu menyusun narasi penelitian yang reflektif sekaligus analitis, menjadikan disertasi ini tidak hanya informatif, tetapi juga menyentuh sisi transformasional pendidikan Islam. Integrasi teori multikulturalisme dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam menunjukkan keberanian penulis dalam merumuskan sintesis baru dalam studi Islam kontemporer.

Selain itu, gaya penulisan yang akademik namun komunikatif memudahkan pembaca memahami gagasan-gagasan utama yang ditawarkan. Sistematika bab dan penyusunan isi juga rapi, dengan pembagian subbab yang jelas dan urutan logis antara landasan teori, hasil, pembahasan, dan kesimpulan. Karya ini tidak hanya dapat digunakan oleh akademisi, tetapi juga sangat berguna bagi guru, kepala sekolah, pembuat kebijakan, dan aktivis pendidikan. Dari sisi konten, disertasi ini mampu menjadi pelopor dalam memperkenalkan model pendidikan Islam multikultural di tingkat dasar yang aplikatif.

4. Kelemahan dan Kritik Konstruktif

Meskipun disertasi ini memiliki banyak kekuatan, terdapat beberapa kelemahan yang perlu dicatat secara konstruktif. Pertama, dari sisi literatur, referensi yang digunakan masih didominasi oleh sumber lokal atau nasional. Keterlibatan literatur internasional dari jurnal bereputasi di bidang pendidikan multikultural global seperti Multicultural Education Review atau Journal of Moral Education masih terbatas. Hal ini menyebabkan analisis teoritiknya belum sepenuhnya menyentuh dinamika global pendidikan plural.

Kedua, metodologi fenomenologi yang digunakan belum dijelaskan secara utuh pada sisi teknisnya. Penjelasan tentang prosedur reduksi fenomena, epoche, dan validasi temuan dari perspektif fenomenologi Husserl atau Heidegger masih kurang diperinci. Hal ini berpotensi membuat pembaca dari latar belakang metodologi kualitatif mempertanyakan kedalaman filosofis pendekatannya. Selain itu, model analisis data Miles & Huberman lebih lazim digunakan dalam studi kualitatif umum daripada dalam studi fenomenologis murni, sehingga sebaiknya dijelaskan justifikasi pencampuran pendekatan tersebut.

Ketiga, dari sisi temuan, meskipun narasi lapangan sangat kaya, belum ada penyusunan model konseptual eksplisit sebagai hasil akhir penelitian. Padahal, penyajian model atau kerangka sintesis konseptual dapat memperkuat kontribusi teoritik disertasi dan membuka peluang replikasi studi di tempat lain. Penggunaan diagram atau bagan konsep juga akan membantu visualisasi gagasan. Keempat, pemetaan keterlibatan aktor seperti komite sekolah atau orang tua siswa belum dieksplorasi secara mendalam. Padahal dalam konteks pendidikan dasar, partisipasi orang tua dan masyarakat juga berpengaruh terhadap atmosfer multikultural di sekolah. Ini merupakan peluang untuk penguatan dalam pengembangan lanjutan karya ini.

5. Relevansi dan Kontribusi Ilmiah

Disertasi ini memiliki relevansi yang tinggi terhadap perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, khususnya dalam konteks masyarakat majemuk. Di tengah maraknya tantangan intoleransi, radikalisme, dan eksklusivisme agama, penelitian ini hadir sebagai alternatif yang menyatukan nilai-nilai Islam dengan semangat kebhinekaan. Hal ini senada dengan konsep pendidikan multikultural yang dikembangkan oleh Banks (2013), yakni pendidikan yang berupaya merekonstruksi sistem persekolahan agar menjunjung keadilan dan keberagaman. Dalam konteks Islam, pendekatan ini sejalan dengan spirit rahmatan lil alamin yang menjadi dasar normatif dalam menjalin kehidupan antarumat beragama.

Kontribusi teoretik disertasi ini cukup signifikan, terutama dalam merumuskan integrasi antara pendidikan Islam dan multikulturalisme. Penulis tidak hanya mengutip gagasan normatif, tetapi juga membuktikan bagaimana nilai-nilai tersebut diinternalisasi melalui praktik pembelajaran dan budaya sekolah. Pendekatan ini dapat memperkaya literatur pendidikan Islam kontemporer yang selama ini cenderung terfokus pada aspek fikih atau akhlak individual semata. Dengan memperkenalkan terminologi dan praktik “pendidikan Islam multikultural berbasis budaya sekolah,” Sismanto turut mengisi kekosongan dalam literatur pendidikan karakter Islami berbasis komunitas (Nieto, 2010).

Dari sisi praktis, temuan disertasi ini dapat dijadikan dasar bagi pengembangan kurikulum, pelatihan guru, dan kebijakan pendidikan nasional. Model pendidikan Islam yang inklusif ini sangat sesuai diterapkan di sekolah dasar, madrasah, dan pesantren yang berada di lingkungan heterogen. Penekanan pada keteladanan guru, pembiasaan sikap toleran, dan penguatan budaya sekolah yang dialogis dapat dijadikan kerangka acuan dalam merumuskan strategi pendidikan karakter secara nasional. Sejalan dengan gagasan Tilaar (2003), pendidikan berbasis budaya lokal yang diisi nilai universal akan melahirkan generasi beridentitas ganda: religius dan nasionalis. Maka dapat disimpulkan, kontribusi ilmiah disertasi ini mencakup tiga ranah: pengembangan teori, pemecahan masalah sosial, dan pembaruan praktik pendidikan Islam.

6. Saran Perbaikan dan Pengembangan Lanjutan

Sebagai bentuk pengembangan, disertasi ini sangat potensial untuk dilanjutkan dalam berbagai bentuk penelitian lanjutan. Salah satu saran utama adalah penggunaan pendekatan kuantitatif atau mixed-method guna melihat sejauh mana nilai-nilai pendidikan Islam multikultural yang ditanamkan berdampak terhadap perilaku siswa secara terukur. Hal ini akan memperkuat dimensi validasi empiris temuan, sebagaimana disarankan dalam studi dampak pendidikan karakter oleh Deal & Peterson (2009). Selain itu, model pendidikan yang telah diterapkan di SD Swarga Bara 3 juga bisa diuji pada jenjang pendidikan yang berbeda seperti SMP, SMA, atau bahkan di pondok pesantren multietnis, untuk melihat validitas lintas level dan konteks.

Diseminasi temuan ke bentuk modul pelatihan guru sangat disarankan. Guru sebagai ujung tombak pendidikan sangat membutuhkan panduan praktis yang dapat diadaptasi dalam pembelajaran harian. Penulis dapat mengembangkan panduan “Strategi Pembelajaran Multikultural Islam untuk Sekolah Dasar” berdasarkan temuannya. Selain itu, hasil disertasi ini dapat dikembangkan menjadi buku ajar atau artikel ilmiah di jurnal bereputasi seperti Indonesian Journal of Islamic Education, International Journal of Multicultural Education, atau Journal of Moral Education.

Saran lain adalah penyusunan model konseptual dalam bentuk diagram yang dapat diuji dalam konteks berbeda. Misalnya, kerangka integrasi nilai—strategi—budaya sekolah yang ditemukan dalam disertasi ini dapat dijadikan model teoretik untuk diuji replikasi di berbagai daerah. Model ini juga dapat digunakan untuk penelitian tindakan kelas (PTK) di bidang pendidikan karakter Islam. Terakhir, publikasi hasil disertasi dalam versi populer atau ringkas dapat memperluas akses pembaca non-akademik terhadap gagasan penting yang terkandung di dalamnya.

7. Kesimpulan Hasil Kritik

Disertasi karya Sismanto (2023) layak mendapatkan apresiasi tinggi karena berhasil memadukan nilai-nilai Islam universal dengan pendekatan multikultural dalam pendidikan dasar. Dengan pendekatan fenomenologis, disertasi ini menggali makna pendidikan dari pengalaman nyata pelaku pendidikan di sekolah dasar yang plural. Karya ini tidak hanya kuat dalam narasi empirik, tetapi juga menawarkan kontribusi nyata dalam ranah pengembangan kurikulum dan pembentukan karakter generasi muda. Dengan kata lain, Sismanto telah menghadirkan pendidikan Islam dalam wajah yang damai, inklusif, dan bersifat transformatif.

Kekuatan utama terletak pada keberanian mengangkat nilai multikultural dalam bingkai Islam dan menyusunnya dalam sebuah model implementatif di sekolah. Meskipun terdapat beberapa catatan pada aspek literatur dan penguatan metodologis, secara keseluruhan karya ini sangat bernilai. Ia tidak hanya dapat dijadikan referensi akademik di bidang PAI multikultural, tetapi juga menjadi panduan praktis bagi sekolah-sekolah yang ingin mengembangkan iklim pendidikan damai berbasis nilai-nilai Islam.

Sebagai langkah lanjut, disertasi ini sangat potensial untuk dipublikasikan ulang dalam bentuk buku ilmiah populer atau artikel jurnal internasional. Keunikan konteks lokal, pendekatan kualitatif reflektif, serta tema yang relevan dengan kebutuhan pendidikan nasional menjadikan karya ini memiliki potensi dampak ilmiah dan sosial yang luas. Karya ini bisa menjadi pintu masuk bagi wacana besar tentang pendidikan Islam progresif yang kontekstual dan responsif terhadap tantangan zaman.

Baca juga kritik disertasi Mengintegrasikan Tasawuf dalam Bisnis: Analisis Kritis Disertasi Sismanto 2024

8. Referensi

  • Banks, J. A. (2013). Multicultural Education: Issues and Perspectives. Wiley.
  • Nieto, S. (2010). Language, Culture, and Teaching: Critical Perspectives. Routledge.
  • Schein, E. H. (2010). Organizational Culture and Leadership. Jossey-Bass.
  • Deal, T. E., & Peterson, K. D. (2009). Shaping School Culture: Pitfalls, Paradoxes, and Promises. Jossey-Bass.
  • Tilaar, H. A. R. (2003). Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia. LP3ES.

About sismanto

Check Also

Timbangan Amal

Manusia sering mengira bahwa amal dinilai dari apa yang tampak. Semakin besar pengorbanan, semakin tinggi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading