Breaking News

Kritik Jurnal “Bridging the Gap”: Orkestrasi Pendidikan Tinggi untuk Indonesia Emas 2045

Menarik untuk dicatat bahwa jurnal ilmiah ini merupakan bagian dari disertasi doktoral Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang disusun di Program Studi Pengembangan Sumber Daya Manusia, Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga. Dengan menjadikan Resource Orchestration Theory (ROT) sebagai lensa utama, artikel ini tidak hanya mencerminkan kapasitas akademik penulis, tetapi juga komitmennya terhadap isu strategis pembangunan nasional, khususnya dalam konteks pendidikan tinggi dan transformasi ekonomi Indonesia menuju Visi Indonesia Emas 2045. Publikasi ini sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah karya ilmiah di level doktoral dapat memberikan kontribusi praktis bagi kebijakan publik dan perencanaan strategis bangsa.

Identitas Jurnal

Judul Artikel: Bridging the Gap: Orchestrating Indonesian Higher Education
Penulis: Agus Harimurti Yudhoyono, Fiona Niska Dinda Nadia, Mohammad Fakhruddin Mudzakkir, Fendy Suhariadi
Nama Jurnal: Journal of Theoretical and Applied Management
Volume & Edisi: Volume 17, No. 2
Tahun Terbit: 2024
Penerbit: Universitas Airlangga
URL/DOI: https://doi.org/10.20473/jmtt.v17i2.60737

Ringkasan Isi Jurnal

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana kesenjangan antara penyediaan sumber daya manusia Indonesia yang dihasilkan dari perguruan tinggi dengan kebutuhan industri nasional, dalam rangka mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif berbasis data sekunder dari Kementerian Pendidikan dan BPS, serta menggunakan Resource Orchestration Theory (ROT) sebagai lensa teoritis utama. Hasil penelitian menunjukkan ketidaksesuaian signifikan antara sektor industri dominan dengan ketersediaan program studi, baik secara nasional maupun regional. Artikel ini menyimpulkan bahwa diperlukan reformasi sistem pendidikan tinggi dengan mengarahkan program studi agar lebih responsif terhadap kebutuhan strategis industri di masa depan, termasuk restrukturisasi, penghentian program yang tidak relevan, serta pengembangan kapabilitas baru melalui proses orkestrasi sumber daya yang sistematis.

Kelebihan Jurnal

Jurnal ini unggul dalam membawa isu kebijakan publik dan perencanaan strategis pendidikan tinggi ke dalam ranah akademik dengan pendekatan konseptual yang segar. Penerapan Resource Orchestration Theory pada level nasional adalah kontribusi yang inovatif, karena selama ini teori tersebut lebih banyak digunakan dalam konteks organisasi atau perusahaan. Dengan memperluas cakupan teorinya, artikel ini memberikan perspektif baru dalam menyusun strategi pembangunan SDM nasional, sebuah langkah penting dalam literatur kebijakan pendidikan Indonesia. Nilai kebaruan ini menjadi kekuatan utama dari artikel yang ditulis dengan pendekatan lintas-disiplin.

Secara metodologis, artikel ini menggunakan data sekunder yang kredibel dari BPS dan Kementerian Pendidikan. Penyusunan data dilakukan secara sistematis dan dibarengi dengan klasifikasi regional yang memudahkan pembaca dalam memahami distribusi ketimpangan antara industri dan program studi. Penjelasan tentang mismatch di level provinsi memperlihatkan kompleksitas dan tantangan yang dihadapi pemerintah dalam merancang pendidikan tinggi berbasis kebutuhan lokal, tanpa kehilangan arah pembangunan nasional.

Pemaparan literatur juga disusun dengan rapi, mencakup teori-teori relevan tentang ekonomi berbasis pengetahuan, kapabilitas inovasi, hingga studi perbandingan antarnegara seperti China, Vietnam, dan Singapura. Hal ini menunjukkan bahwa penulis memiliki cakupan pandang luas dan mampu meramu teori serta praktik lintas konteks. Literatur yang digunakan pun bersumber dari jurnal-jurnal akademik bereputasi, termasuk kutipan terkini dari jurnal-jurnal Q1 yang memperkaya argumen.

Artikel ini juga menampilkan struktur penulisan yang sangat terorganisasi, dimulai dari latar belakang, rumusan masalah, tinjauan pustaka, metode, hingga hasil dan implikasi. Kehadiran tabel dan peta distribusi program studi menambah kejelasan analisis. Visualisasi data mendukung narasi dan memperkuat argumen, khususnya ketika membandingkan kontras antara sektor unggulan ekonomi dan relevansi keilmuan yang ditawarkan perguruan tinggi di berbagai wilayah.

Dari sisi kebijakan, artikel ini memberikan saran yang sangat operasional. Rekomendasi seperti penghentian program studi yang tidak relevan, penambahan program baru berbasis industri strategis, serta pelibatan LPDP dan diaspora Indonesia sebagai instrumen orkestrasi SDM sangat konkret dan aplikatif. Tidak hanya berhenti pada konsep, artikel ini berupaya mengisi kekosongan antara teori dan praktik kebijakan pendidikan.

Selain itu, artikel ini juga menunjukkan kontribusi praktis bagi aktor-aktor kunci seperti pemerintah pusat, LLDikti, rektorat perguruan tinggi, serta lembaga penyandang dana beasiswa. Artikel ini memberikan argumentasi mengapa perlu ada sinergi antara perencanaan makro ekonomi dan perencanaan akademik, serta bagaimana resource orchestration dapat digunakan untuk menyatukan keduanya dalam satu agenda pembangunan nasional. Penekanan pada pentingnya transformational leadership sebagai penggerak reformasi pendidikan menambah dimensi kepemimpinan ke dalam pembahasan, menjadikan artikel ini tidak hanya bersifat teknokratik tetapi juga normatif. Ini memperkuat pesan bahwa kebijakan yang berhasil tidak hanya bergantung pada instrumen, tetapi juga pada kualitas pemimpinnya.

Kritik Konstruktif

Meskipun jurnal ini sangat kaya secara konseptual, namun pendekatan metodologis yang digunakan relatif lemah dalam menyajikan kedalaman analisis empiris. Penggunaan data sekunder memang efisien, tetapi tidak cukup menggali dinamika aktual di lapangan, seperti pertimbangan rektorat dalam membuka program studi, atau aspirasi mahasiswa dalam memilih jurusan. Tanpa triangulasi data primer, kesimpulan yang ditarik menjadi terlalu general dan normatif.

Artikel ini juga tidak menjelaskan secara eksplisit mekanisme atau alat ukur dalam menentukan “ketidaksesuaian” antara industri dan program studi. Ketika dikatakan bahwa sektor industri A tidak didukung oleh program studi B, seharusnya ada indikator jelas: apakah berdasarkan tingkat penyerapan kerja, keterampilan teknis, atau kontribusi inovasi? Ketiadaan indikator kuantitatif ini membuat analisis menjadi kurang tajam dan rentan terhadap bias interpretasi.

Dalam aspek teoritis, ROT sebagai kerangka utama seharusnya dijelaskan lebih mendalam dalam konteks negara berkembang. Teori yang berasal dari manajemen strategis ini belum sepenuhnya ditransformasikan untuk menjawab kompleksitas sistem pendidikan tinggi yang sarat regulasi dan aktor publik. Ada peluang besar bagi penulis untuk mengembangkan model ROT versi kebijakan publik Indonesia, namun peluang tersebut belum dimaksimalkan secara maksimal.

Aspek representasi regional juga menjadi titik lemah dalam jurnal ini. Data yang ditampilkan cukup merata secara nasional, tetapi tidak memberikan kedalaman analisis di daerah-daerah luar Jawa, terutama Papua, NTT, atau Kalimantan Tengah. Padahal tantangan orkestrasi SDM di daerah tertinggal akan sangat berbeda dengan daerah metropolitan. Analisis spasial bisa ditingkatkan untuk memperkuat validitas rekomendasi.

Artikel ini juga terlalu mengandalkan narasi pemerintah pusat dalam menyusun strategi pendidikan, dan kurang menyoroti peran masyarakat sipil, sektor swasta, atau kampus itu sendiri. Padahal ekosistem pendidikan tinggi sangat kompleks dan tidak bisa dikendalikan hanya dari atas. Penulis seharusnya menyinggung pentingnya governance model kolaboratif agar orkestrasi SDM menjadi lebih partisipatif. Secara teknis penulisan, beberapa kalimat terlalu panjang dan mengandung jargon akademik yang bisa menyulitkan pembaca non-akademisi. Untuk publikasi yang juga ditujukan pada pembuat kebijakan, perlu penyederhanaan gaya bahasa agar rekomendasi lebih mudah ditransfer ke dalam instrumen kebijakan.

Relevansi dan Implikasi

Artikel ini sangat relevan bagi pembuat kebijakan pendidikan, terutama di era transformasi digital dan persiapan menuju Indonesia Emas 2045. Rekomendasi seperti restrukturisasi program studi, penguatan STEM, dan alokasi ulang dana pendidikan sangat strategis dalam menjawab tantangan mismatch antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri. Kementerian Pendidikan, Bappenas, dan LPDP bisa memanfaatkan artikel ini sebagai bahan penyusunan RPJP dan Rencana Induk Pendidikan Tinggi Nasional.

Bagi kalangan akademisi, jurnal ini memberikan kerangka teoritis alternatif dalam membaca dinamika reformasi pendidikan tinggi. Dengan mengintegrasikan ROT dalam konteks negara, artikel ini membuka ruang baru bagi riset interdisipliner antara manajemen strategis dan kebijakan publik. Dosen dan peneliti dapat mengembangkan model empiris baru dari ROT yang lebih cocok dengan karakteristik tata kelola pendidikan di Indonesia.

Artikel ini juga sangat berguna untuk kampus-kampus di daerah yang sedang menyusun rencana pengembangan program studi unggulan. Dengan menelaah hubungan antara sektor unggulan GRDP dan program studi, kampus bisa lebih tepat dalam menentukan arah prioritas akademik, termasuk pembukaan prodi baru atau penutupan prodi lama. Ini bisa menjadi dasar bagi rektorat untuk melakukan orkestrasi sumber daya kampus secara lebih strategis.

Dalam konteks daerah, pemerintah provinsi atau kabupaten dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk menyusun strategi pembangunan SDM berbasis potensi lokal. Misalnya, daerah dengan dominasi sektor pertanian dapat memperbanyak prodi agribisnis, teknologi pangan, atau rekayasa pertanian. Ini memperkuat koneksi antara pendidikan tinggi dan pembangunan ekonomi daerah secara simultan.

Kesimpulan

Artikel ini merupakan kontribusi penting bagi literatur pembangunan pendidikan tinggi di Indonesia. Dengan memperkenalkan resource orchestration theory dalam konteks kebijakan nasional, artikel ini mampu mengangkat isu mismatch antara pendidikan dan industri sebagai persoalan strategis jangka panjang. Meskipun masih memiliki kelemahan metodologis dan generalisasi, kekuatan artikelnya terletak pada narasi konseptual yang kokoh dan arah kebijakan yang jelas.

Artikel ini layak dijadikan referensi utama bagi siapa saja yang bergerak dalam bidang pengembangan SDM, baik di sektor pemerintahan, kampus, maupun organisasi internasional. Diperlukan studi lanjutan yang lebih empirik dan partisipatif untuk memperdalam dan menguji model ROT dalam konteks lokal Indonesia. Namun demikian, jurnal ini telah berhasil membuka diskusi penting yang selama ini jarang disentuh secara eksplisit.

Perbaikan pada aspek metodologi dan elaborasi indikator akan membuat artikel ini tidak hanya kuat secara naratif, tetapi juga andal secara teknis. Untuk publikasi lanjutan, akan sangat baik jika artikel ini dijadikan dasar untuk menyusun policy brief yang bisa dibaca oleh lintas aktor kebijakan, termasuk birokrasi daerah.

Referensi Tambahan

Sirmon, D. G., Hitt, M. A., Ireland, R. D., & Gilbert, B. A. (2011). Resource orchestration to create competitive advantage: Breadth, depth, and life cycle effects. Journal of Management, 37(5), 1390–1412. https://doi.org/10.1177/0149206310385695
Lee, K. (2019). The art of economic catch-up: Barriers, detours and leapfrogging in innovation systems. Cambridge University Press.
Sukoco, B. M. (2023). Orientasi Strategis Pendidikan Tinggi. Kompas.id. https://www.kompas.id/baca/opini/2023/11/09/orientasi-strategis-pendidikan-tinggi
UNDP. (2020). Human Development Report. United Nations Development Programme.
Florida, R., & Mellander, C. (2015). Talent, cities, and competitiveness. Oxford University Press.

sumber foto: https://unair.ac.id/agus-harimurti-yudhoyono-ahy-jalani-sidang-ujian-doktor-terbuka-unair

About sismanto

Check Also

Timbangan Amal

Manusia sering mengira bahwa amal dinilai dari apa yang tampak. Semakin besar pengorbanan, semakin tinggi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading