Breaking News
fb img 1586304245264

Pendidikan Islam Holistik: Makna Tarbiyah dalam Perspektif Dawud Tauhidi

Loading

Mengungkap makna tarbiyah dalam perspektif Dawud Tauhidi

Bagaimana seharusnya kita mendidik anak-anak Muslim di abad ke-21? Ini bukan sekadar soal kurikulum atau metode, melainkan panggilan untuk menakar ulang arah dan makna tarbiyah sebagai perjalanan ruhani dan intelektual. Pertanyaan-pertanyaan mendasar perlu kita ajukan dengan jujur: Di manakah posisi kita saat ini? Bagaimana kita bisa sampai ke titik ini? Ke arah mana seharusnya kita melangkah? Dan yang tak kalah penting: bagaimana kita merancang perjalanan itu agar tak kehilangan ruhnya?

Selama satu dekade terakhir, Proyek Tarbiyah yang digagas oleh Dawud Tauhidi telah menjadi salah satu upaya serius menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental ini. Fokus utama dari proyek ini bukan sekadar mengisi ruang kelas dengan materi, tetapi menyematkan makna-makna ilahiah ke dalam tubuh kurikulum modern. Proyek ini ingin menjadikan pendidikan Islam holistik sebagai jalan menuju penemuan jati diri, integritas pribadi, dan kesadaran sosial, bukan sekadar penguasaan keterampilan akademik.

Ketika membicarakan tarbiyah dalam Al-Qur’an, kita tidak sedang membahas semata-mata soal kurikulum atau metode pembelajaran. Kita sedang menyentuh nadi peradaban. Kata “tarbiyah” sendiri berasal dari akar kata “rabb”, yang bermakna Tuhan, Pemelihara, Pengasuh. Maka makna tarbiyah bukan sekadar mengajar, tetapi membimbing jiwa, menumbuhkan karakter, dan membuka potensi ilahiah dalam diri manusia.

Sebagaimana dijelaskan oleh Tauhidi dalam karya visionernya The Tarbiyah Project, tarbiyah adalah proses memelihara, mengasuh, dan menumbuhkan manusia secara menyeluruh: ruhiyah, akliah, jasadiah, dan sosial. Seorang pendidik dalam Islam adalah seorang murobbi: seseorang yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tapi mengasuh dengan cinta, membimbing dengan hikmah, dan memanusiakan dengan kasih. Tauhidi mengajak kita untuk melihat bahwa dalam makna tarbiyah, anak tidak dilihat sebagai bejana kosong yang perlu diisi, tetapi benih yang punya potensi fitrah untuk tumbuh. Pendidikan adalah pertumbuhan yang rabbani, sebagaimana bumi yang kering kembali hidup ketika diguyur hujan, seperti dalam QS Al-Hajj [22]:5.

Refleksi pribadi saya sebagai pendidik di Kutai Timur membenarkan bahwa perspektif ini sangat relevan dalam konteks Indonesia hari ini. Di tengah dunia yang serba instan, saya melihat anak-anak yang kehilangan jiwanya. Mereka mungkin lulus dengan nilai tinggi, tapi hampa makna. Di sinilah tarbiyah hadir sebagai pelita: bukan sekadar untuk cerdas, tapi untuk bertumbuh secara utuh.

Dalam Surat al-Isra’ ayat 24, Allah menyuruh kita berkata lembut pada orang tua: “…dan katakanlah: ‘Wahai Rabbku, sayangilah mereka sebagaimana mereka telah mendidikku (rabbayāni) di waktu kecil.'” Ini bukan sekadar perintah etis, tapi fondasi kosmologis: bahwa mendidik adalah bagian dari sifat ilahiah. Maka mendidik adalah meniru sifat Tuhan: kasih, sabar, pelan, penuh harap.

Tauhidi secara halus namun tegas menolak model pendidikan sekuler yang memisahkan ilmu dari nilai, kurikulum dari keimanan. Baginya, setiap ilmu harus membawa siswa lebih dekat pada Sang Pencipta. Dalam kelas, guru tidak hanya menyampaikan rumus atau teori, tetapi mengantarkan anak-anak kepada perenungan eksistensial siapa aku, dari mana aku datang, untuk apa aku hidup.

Al-Qur’an menggunakan akar kata tarbiyah dalam beberapa ayat penting. Dalam Surat al-Hajj (22:5), Allah menggambarkan bumi yang tandus lalu dihujani, sehingga ia menggeliat, hidup, dan menumbuhkan keindahan. Dalam Surat al-Syu‘ara (26:18), Fir’aun berkata kepada Nabi Musa, “Bukankah kami telah membesarkanmu (nurabbi-ka) sejak kecil di tengah kami?” Bahkan dalam Surat al-Isra’ (17:24), seorang anak diajarkan berdoa kepada Allah agar merahmati orangtuanya sebagaimana mereka telah mendidik dan merawatnya (rabbayāni) di waktu kecil. Semua ini menguatkan bahwa makna tarbiyah adalah proses ilahiah perjalanan pertumbuhan, penumbuhan, dan pendewasaan. Kata “Rabb” sebagai salah satu nama Allah berasal dari akar kata yang sama dengan tarbiyah. Maka Tuhan adalah Sang Pendidik tertinggi.

Tarbiyah bukan hanya metode, tetapi paradigma. Bukan sekadar proses mengajar, tetapi jalan hidup. Dalam dunia modern yang kerap menanggalkan aspek spiritual dari pendidikan, pendekatan tarbiyah menjadi jalan tengah yang menyatukan ilmu dan iman, akal dan ruh, dunia dan akhirat. Pendidikan bukan tentang mengejar ranking, tapi menumbuhkan kesadaran tentang siapa kita dan untuk apa kita diciptakan. Dalam praktiknya, sekolah Islam semestinya membangun kurikulum yang menyatu antara sains dan spiritualitas. Sains adalah jalan untuk mengenal Allah, bukan sekadar alat karir. Matematika melatih logika dan kejujuran. Bahasa melatih pemahaman dan empati. Semua ilmu punya jalur menuju Tuhan. Sebagai pendidik, saya sering merasakan titik lelah. Tapi setiap kali saya mengingat kembali makna tarbiyah, saya seperti dihidupkan kembali. Tugas kita bukan sekadar menyampaikan pelajaran, tapi menyampaikan cahaya.

Di tengah banjir informasi dan kurikulum, tarbiyah adalah seni memilih yang bermakna. Guru tarbiyah bukan robot pengajar, melainkan pelita. Ia hadir bukan untuk membentuk anak sesuai kehendaknya, tapi membimbing anak menemukan cahaya dalam dirinya.

Bagi Anda yang tertarik menggali refleksi pendidikan dan nilai-nilai Islam kontemporer lainnya, bacalah pula catatan kami:
Kritik Disertasi: Islamic Spiritual Entrepreneurship di Masyarakat Pesisir
Kritik Disertasi: Nilai Multikultural di Sekolah Islam


Referensi:
Dawud Tauhidi. The Tarbiyah Project: A Holistic Vision of Islamic Education. Tarbiyah Institute, 2007.

About sismanto

Check Also

Timbangan Amal

Manusia sering mengira bahwa amal dinilai dari apa yang tampak. Semakin besar pengorbanan, semakin tinggi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading