Breaking News
fb img 1595059470149

Menulis Adalah Jalan Pulang: Catatan dari Bandung

Bandung, 14 November 2017
Ada yang berbeda di kota ini. Udara Bandung tak hanya dingin, tetapi juga sarat makna. Di sinilah saya menjalani hari-hari penuh refleksi sebagai salah satu peserta Bimbingan Teknis Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Angkatan ke-2, yang diselenggarakan oleh P4TK IPA.

Hari-hari ini, saya bersama rekan-rekan guru dari seluruh Indonesia menyelami materi yang begitu berharga: Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), penyusunan karya tulis ilmiah, dasar-dasar menulis buku, strategi menembus penerbit, hingga bedah naskah dan pemasaran buku. Materi-materi itu bukan hanya memperkaya pengetahuan kami, tetapi juga menggugah nurani—tentang siapa kami sebagai guru, dan ke mana arah pengabdian ini harus dilanjutkan.

Yang menarik, fasilitator yang membimbing kami adalah mereka yang sudah terbukti mendedikasikan diri dalam pengembangan literasi guru, yakni tim dari Media Guru. Lembaga ini tidak hanya menerbitkan buku-buku karya guru, tetapi juga memfasilitasi ruang ekspresi digital melalui kanalnya. Saya sendiri sudah bergabung dengan platform tersebut sekitar enam bulan terakhir, meskipun baru beberapa tulisan yang berhasil saya unggah.

Selama empat hari ke depan, saya akan berada di Bandung, mengikuti serangkaian pelatihan intensif. Mungkin bagi sebagian orang ini terasa lama. Tapi bagi saya, inilah kesempatan langka. Bukan hanya untuk belajar menulis secara teknis, tapi juga menyelami lebih dalam: mengapa saya menulis, dan untuk siapa tulisan-tulisan itu saya lahirkan?

Kami dibagi menjadi dua kelompok: fiksi dan nonfiksi. Saya tergabung dalam kelompok nonfiksi bersama rekan-rekan yang lebih suka menggali realitas daripada membangun imajinasi. Di bawah bimbingan Pak Eko Prasetyo, saya merasa makin dekat dengan kebiasaan saya selama ini: menulis dari sekitar, dari hal-hal sederhana yang menyentuh hati dan pikiran.

Saya meyakini, menulis bukan sekadar keterampilan, melainkan bagian dari karakter. Sebagaimana pernah saya tulis di media sosial: “Jika ingin jujur, maka berkacalah pada tulisan.” Menulis memaksa kita melihat ke dalam diri sendiri. Menjadi saksi atas pikiran, nilai, dan kejujuran kita sendiri.

Kondite Menulis dan Jurus Istiqomah

Namun, saya juga tidak ingin memaniskan dunia menulis. Ada kalanya saya sangat produktif—dalam sehari bisa menulis delapan hingga sepuluh tulisan. Tapi ketika “kondite menulis” itu hilang, saya bisa berhenti menulis berhari-hari. Tidak ada paksaan dalam menulis. Ia harus lahir dari dorongan dalam, bukan tekanan luar.

Untuk menjaga kesinambungan, saya memakai jurus paling klasik namun paling mujarab: istikomah. Saya bertekad, minimal satu hari satu tulisan. Kata istikomah berasal dari bahasa Arab, yang berarti “tetap” atau “konsisten”. Jika dimaknai secara mendalam, istikomah dalam menulis mencakup dua waktu: hal (saat ini) dan mustaqbal (masa depan). Artinya: hari ini saya harus menulis satu tulisan, dan esok saya harus menulis lebih banyak lagi.

Ide-ide seringkali lahir dari kehidupan sehari-hari. Saya biasa “menjemput inspirasi” dengan keluar rumah, berinteraksi dengan tetangga, mendampingi anak bermain, atau sekadar duduk di beranda. Dalam kesederhanaan itulah ide-ide muncul. Saya segera mencatatnya di buku kecil, memotretnya dengan kamera HP, atau merekamnya dalam video singkat.

Menulis untuk Masa Depan

Menulis bukan hanya tentang hari ini. Ia adalah warisan diam-diam yang akan berbicara di masa depan. Setiap tulisan yang saya hasilkan akan saya kumpulkan, lalu saya bukukan sesuai tema. Saya membayangkan suatu hari nanti, rak buku saya akan penuh dengan karya sendiri. Dan semoga, itu juga menjadi warisan intelektual untuk anak-anak saya—dan untuk siapa pun yang ingin belajar menjadi guru yang menulis.

Saya percaya, sebagaimana yang sering saya sampaikan kepada murid-murid:
“Jika kamu ingin hidup abadi dalam sejarah, maka menulislah.”

Dan jika saya bisa memulai dari satu tulisan per hari, saya yakin Anda pun bisa. Karena menulis bukan tentang seberapa hebat kita, tetapi seberapa tulus kita ingin berbagi.


Baca Juga di Sismanto.ID:

About sismanto

Check Also

Timbangan Amal

Manusia sering mengira bahwa amal dinilai dari apa yang tampak. Semakin besar pengorbanan, semakin tinggi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading