![]()
Sebulan sekali guru-guru YPPSB mendapatkan asupan rohani yang bergizi dari berbagai asatidz, penulis buku keagaamaan maupun kyai. Biasany pelaksanaannya bertepatan dengan hari Jumat pada minggu pertama namun sekarang bergeser setiap Jumat pada minggu kedua.
Biasanya ustad-ustad yang memberikan siraman rohani berbicara tentang agama yang berbasis pada kajian tematik. Namun, ada yang berbeda dari kebiasaan di YPPSB pada hari ini khususnya bagi saya seorang santri yang tidak asing dengan model-model kajian para ustaz.
Ustaz yang bertugas memberikan siraman rohani pada Jumat kali ini yaitu Kyai Iffan Fanani yang kebetulan juga menjadi salah satu pengurus YPPSB memberikan materi yang menarik dan mengingatkan saya beberapa puluh tahun silam ketika nyantri di pondok pesantren salaf. Model-model kajian seperti ini menjadi ciri khas dan tradisi yang berkembang di pondok pesantren.
Pesantren salaf merupakan pesantren tradisional yang banyak terdapat di pulau Jawa. Sebuah Pesantren dikatakan salaf dicirikan dengan adanya seorang kyai yang menjadi pengasuh pondok pesantren, pemondokan untuk menginap, dan juga adanya santri yang belajar agama.
Tradisi model pembelajaran bandongan maupun sorogan menjadi pelengkap ciri-ciri yang ditujukan pada pondok pesantren salaf. Pesantren model ini biasanya "diidentikkan" dengan istilah kumuh, sehingga tidak jarang para santri terkena imbas dari istilah kumuh sehingga banyak yang terkena penyakit kulit.
Pesantren salaf merupakan pesantren yang memegang tradisi keilmuan, akademis berbasis teks-teks kontemporet sehingga sang Kyai (pengampu) tidak melenceng jauh pembahasannya dari teks yang sedang dibacakan. Meminjam bahasa yang sering digunakan oleh Gus Baha "ini penting saya utarakan" secara apa yang di dilakukan oleh Kyai Iffan Fanani dengan menggunakan metode bandongan membawakan teks literal salah satu kitab dasar yang diajarkan di pondok pesantren kitab ta’limul muta’alim.
Dengan metode bandongan ini biasanya sang Kyai membacakan kitab yang sedang dibacakan sementara para santri menyimak dan memberikan makna (arti) pada kitab yang sedang dibacakan. Namun Kyai Iffan Fanani cukup membacakan kitab dan transliterasinya yang ditampilkan pada layar infocus sehingga meskipun tanpa membawa kitab para guru dapat menyimak langsung di layar infocus yang disajikan.
Mengingat bab atau pokok bahasan yang ada dalam kitab ta’limul muta’alim تعليم المتعلم طريق التعلم berjumlah tiga belas bab, maka Kyai Iffan Fanani pada pertemuan pertama hanya menyajikankan biografi dari pengarang kitab ta’limul muta’alim Syekh Az-Zarnuji, muqoddimh kitab dan pokok bahasan pertama tentang hakekat ilmu, hukum mencari ilmu, dan keutamaannya (فى ماهية العلم، والفقه، وفضله).
Harapan saya model-model siraman rohani seperti inilah yang bergizi dan sarat makna dengan kajian tradisi keislaman yang berbasis teks kontemporer sehingga para asatidz yang menyampaikan keilmuan tidak melenceng jauh dari kerangka konsep yang dibuat.
Apalagi di tengah derasnya masyarakat milenial yang cenderung lebih suka hal-hal yang instan sehingga banyak ustad yang menyajikan model-model ceramah/siraman rohani yang serba instan pula. Diambil dari referensi sana sini kemudian disampaikan secara langsung. Hal ini sangat cocok disampaikan oleh ustad yang memiliki daya ingat yang kuat serta memiliki daya imajinasi untuk mengelaborasi kerangka konsep yang dibuatnya. Namun, yang menjadi catatan adalah bila ustad yang menyampaikan hal ini tidak memiliki kapasitas dan elaborasi konsep yang kuat sehingga ceramah yang disampaikan cenderung kaku dan monoton sehingga dampaknya pengajian menjadi kurang menarik.
Semoga Jumat kedua bulan mendatang model kajian ini terus dilaksanakan secara kontinu dan tidak hanya cukup pada satu bab saja melainkan dapat menghantamkan satu kajian yang utuh. Sehingga saya secara pribadi bisa menikmati sajian kajian yang bergizi dan sarat makna. Di samping itu, kerinduan yang mendalam masa-masa belajr di pesantren dapat terobati..
@Sismanto HS
Sangatta, 13 Maret 2020
Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .
