
Sebagai seorang roqy (praktisi ruqyah) saya dituntut untuk siap di segala medan, lokasi, dan waktu kapan pun dan dimana pun. Tidak jarang lokasi yang saya lalui begitu terjal dan waktu yang seharusnya saya gunakan untuk beristirahat dengan senang hati saya gunakan untuk berbagi bersama dengan marqy/marqiyah (orang-orang yang membutuhkan pengobatan dengan cara dibacakan ayat-ayat Alquran sebagai syifa). Sebagai misal, beberapa hari yang lalu seorang penduduk kampung nelayan yang diduga mendapatkan musibah penyakit berupa penyakit stroke, tangan mulai agak berat digerakkan dan kaki sudah tidak bisa digunakan untuk berjalan.
Perjalanan menuju lokasi membutuhkan kurang lebih satu setengah jam. Sesampainya di lokasi marqy, ternyata lokasi yang saya tuju berada di sebuah kampung nelayan. Pandangan mata saya nanar dan melihat sudut-sudut kampung nelayan ini. Sepintas tidak ada yang berbeda dengan kampung nelayan tempat saya dilahirkan, sebuah kampung yang terletak di pantai utara Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Pati. Setelah berjalan di atas lorong yang berupa gelaran papan ulin di pingir sungai yang berjarak kurang lebih 150 meter dari tempat parkir mobil akhirnya saya sampai di sebuah rumah yang saya tuju.
Ketika bertemu dengan marqy, hal pertama yang dilakukan oleh seorang roqy adalah bukan langsung meruqyah namun terlebih dahulu mendiagnosa sebab musabab penyakit yang diderita. Diagnosa ini berkaitan erat dengan metode apa yang tepat untuk digunakan dalam ruqyah. Apakah penyakit yang diderita oleh marqy tersebut murni penyakit medis, psikis atau kah penyakit yang diderita marqy berkaitan dengan masalah gaib. Berdasarkan hasil diagnosa ternyata marqy ini menempati sebuah rumah baru yang baru di tinggalinya selama tiga bulanan dan dua bulan terakhir marqy mengalami sakit stroke.

Di tengah percakapan dengan marqy dan keluarga, pandangan saya tertuju sebuah rumah yang terletak di seberang rumah yang ditempati oleh margi sekarang ini. Intuisi seorang roqy akan tergerak “menembus kisi-kisi dan menerobos cakrawala” seperti bahasa yang biasa digunakan Ary Lasso sang penyanyi mntan jebolan Dewa 19. Berdasarkan penuturan kerabat dan tetangga-tetangganya, sebelumnya marqy menempati rumah yang terletak di seberang rumah yang ditempatinya sekarang. Rumah itu persis berada di pinggiran sungai yang memiliki ketinggian tongkat kurang lebih satu meteran sehingga ketiga air nyorong maka air itu akan masuk di dalam rumah dengan ketinggian sekitar satu jengkal.
Istilah “nyorong” ini bila disamakan dengan istilah yang dipakai di kampung kelahiran saya adalah “moro”. Istilah nyorong dinisbatkan pada sebuah proses naiknya air laut yang disebabkan oleh pasang surutnya air laut. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh gaya tarik-menarik bulan ataupun pengaruh dari adanya angin laut yang membawa air menuju daratan. Sementara rumah itu akan aman dari genangan air bila kondisi “konda” sebuah kondisi air pasang naik yang tidak terlalu banyak dan cenderung airnya datar tidak bergerak. Pergerakan pasang surutnya air inilah yang kemudian menyebabkan keinginan dari marqy untuk pindah rumah dengan cara membuat rumah baru di seberangnya. Uniknya di kampung nelayan ini tanah tidak diperjualbelikan. Bagi siapapun yang ingin membangun rumah di situ dipersilahkan saja yang penting dihuni dan bukan untuk diperjualbelikan.
Setelah dirasa cukup diagnosa yang syaa lakukan, maka kemudian saya memilih metode yang tepat untuk digunakan dalam meruqyah. Seperti biasa bila dugaan penyakit yang diderita marqy adalah penyakit murni medis, maka yang akan say bacakan adalah ayat-ayat ruqyah standar. Sampai disini kegiatan ruqyah tidak ada tanda selesai, tidak ada reaksi apapun yang terjadi pada si marqy. Marqy hanya berteriak-teriak merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya sementara tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan.
Setelah ruqyah standar selesai dilakukan maka kemudian saya mendiagnosa lanjutan kepada keluarganya, latar belakang dan riwayat hingga sampai menempati rumah baru ini. Tidak ada tanda-tanda bahwa keluarga ini ini memiliki riwayat gaib. Pertanyaan serahkan kepada anak laki-lakinya, siapakah di rumah ini yang sering kepalanya pusing dan ternyata salah satunya adalah anak laki-laki tersebut. Berangkat dari sini sehingga memutuskan saya untuk meruqyah anak laki-lakinya dengan cara membacakan doa standar dan mendeteksi apakah ada buhul (media yang digunakan oleh penyihir) yang ada di rumah baru tersebut.
Anak laki-lakinya tersebut ternyata punya riwayat sakit pusing yang berkepanjangan sehingga begitu di ruqyah banyak hal gaib yang tampak dan bermunculan. Mulai berbentuk buaya, ular bahkan ada mengaku sebagai raja penghuni wilayah kampung nelayan tersebut. menurut pengakuan raja penghuni wilayah tersebut bahwa ia merasa terganggu dengan kehadiran rumah baru tersebut. kondisi yang frontal ini bagi orang awam biasanya akan panik tetapi bagi seorang roqy sejak awal diajari untuk tidak panik dalam menghadapi situasi apapun bahkan kami sudah terbiasa menghadapi satu lawan sepuluh orang dalam kondisi frontal bersamaan. Setelah saya islamkan semua, maka kemudian saya pindahkan semua makhluk-makhluk astral itu ke tempat yang lebih diridhoi allah, tak ketinggalan rumah baru itu juga sudah kita netralkan anne-marie pengaruh energi-energi negatif maupun makhluk-makhluk yang selama ini berada di rumah tersebut.
Alhamdulillah setelah melalui ruqyah yang panjang, ayahnya (marqy) sudah mulai membaik. Marqy sudah bisa diajak berbicara dengan santai meskipun masih belum dapat berdiri dan berjalan sebagaimana sebelumnya. Namun, saya sampaikan kepada marqy bahwa bukan saya yang menyembuhkan tetapi semua otoritas kesembuhan hanyalah Allah. Untuk itu, saya ajak bersama-sama untuk berdoa memohon kesembuhan kepada Allah semoga penyakit yang selama ini dideritanya agar segera di sembuhkan dan marqy mendapat kesembuhan yang sempurna. Amin (*)
Sangatta, 20 Desember 2020
Penulis adalah Ketua JRA Jam’iyah Ruqyah Aswaja Kutai Timur
Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .