Breaking News

Alquran Sebagai Obat Utama: Refleksi dari Ruqyah Massal di Masjid Al-Amin

SANGATTA — Malam itu, langit Kutai Timur seolah ikut menjadi saksi dari desir harapan yang diam-diam dikirimkan para pencari kesembuhan. Tak kurang dari 350-an jamaah memadati pelataran dan ruang utama Masjid Al-Amin, Jl. Sepakat Sangatta, Sabtu malam, 24 Agustus 2019. Mereka datang bukan untuk menyaksikan keajaiban, melainkan untuk berserah—menyandarkan diri kepada Yang Maha Menyembuhkan.

Acara ruqyah massal yang diselenggarakan oleh Rakuti—Jam’iyah Ruqyah Aswaja (JRA) Cabang Kutai Timur ini bukan sekadar forum penyembuhan. Ia adalah ruang perjumpaan batin, tempat air mata luruh dalam lirih doa, tempat tubuh-tubuh lelah berbaring dalam pasrah. Pesertanya datang dari berbagai penjuru Kutai Timur: dari Sangatta, Rantau Pulung, Teluk Pandan, Kaliorang, hingga Sangkulirang. Sebagian bahkan telah tiba sejak sore hari, padahal ruqyah baru digelar selepas Isya.

Saya sendiri menyampaikan satu hal yang selalu menjadi pondasi utama JRA: bahwa Alquran adalah obat pertama dan utama. Bahwa ruqyah bukan sekadar metode pengobatan alternatif, bukan pula pertunjukan spiritual. Ia adalah ikhtiar jiwa yang digerakkan oleh pasrah, yakin, dan niat tulus untuk kembali kepada Allah.

Antara Musa dan Rumput: Bukan Metode yang Menyembuhkan

Dalam tausiyah malam itu, saya mengutip kisah Nabi Musa ‘alaihissalam—sosok pilihan Allah yang juga pernah diuji dengan rasa sakit. Suatu hari, beliau mengadu kepada Allah karena sakit gigi. Allah memerintahkannya untuk mencabut rumput tertentu dan menempelkannya ke giginya. Seketika itu pula, giginya sembuh.

Hari berikutnya, rasa sakit itu datang lagi. Tanpa menunggu petunjuk, Musa langsung mengambil rumput yang sama dan menempelkannya. Tapi kali ini, giginya tak kunjung sembuh.

Musa bertanya, “Ya Allah, bukankah ini rumput yang sama?”

Dan Allah menjawab, “Bukan rumput itu yang menyembuhkan, Musa. Aku-lah yang menyembuhkan.”

Di sinilah ruh ruqyah Aswaja berpijak. Bukan pada bacaan, bukan pada praktisi, bukan pula pada metode. Tapi pada siapa yang kita jadikan tempat berharap. Dalam ruqyah, kita diajak untuk menyembuhkan luka yang kadang tak terlihat oleh mata—luka batin, rasa takut, kemelekatan dunia, dan hal-hal yang membuat hati kita terpisah dari Rabb-nya.

Ruqyah Aswaja: Bukan Suwuk, Tapi Dakwah yang Menyentuh

Sebagian orang mungkin menyamakan ruqyah dengan “suwuk”, seolah hanya sebatas mantra-mantra dan pengusiran jin. Padahal ruqyah dalam pendekatan Aswaja bukan hanya terapi, tapi juga edukasi akidah. Ia mengajak umat untuk tidak lagi bergantung kepada dukun, jimat, atau cara-cara mistis yang tidak bersandar pada syariat.

Ruqyah adalah dakwah. Dakwah yang masuk lewat luka, menyentuh lewat sakit, dan menyembuhkan lewat firman.

Kami, para roqy, bukan tabib sakti. Kami hanya perantara yang memohonkan kepada Allah atas nama mereka yang sedang diuji. Kadang, kami hanya datang dengan tangan kosong, tapi hati penuh harap. Lalu kami saksikan: ketika ayat-ayat Allah dibacakan, tubuh-tubuh bergetar, mata menangis, dan luka-luka mulai pulih. Bukan karena kami hebat, tapi karena Allah berkehendak menyembuhkan.


Menutup Malam dengan Doa dan Harap

Acara ruqyah malam itu ditutup dengan dzikir bersama dan doa memohon kesembuhan. Saya sampaikan kepada jamaah bahwa kesembuhan itu milik Allah, bukan milik JRA, bukan pula milik roqy. Maka, berdoalah. Mintalah. Mohonlah kepada-Nya, karena siapa tahu malam itu adalah waktu ijabah yang jarang disadari.

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan.”
(QS. Asy-Syu’ara: 80)

About sismanto

Check Also

Timbangan Amal

Manusia sering mengira bahwa amal dinilai dari apa yang tampak. Semakin besar pengorbanan, semakin tinggi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading