Ada kitab yang membangkitkan logika, ada pula yang membangkitkan rasa. Tapi kitab ini—membangkitkan keduanya.

Dalam rangka peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, saya akan menyampaikan satu karya agung yang tidak hanya mendeskripsikan perjalanan langit, tetapi juga menyinari relung jiwa: Sharh Ad-Dardir ‘Ala Qishatul Mi’raj, karya Imam Ahmad Ad-Dardir. Bukan sekadar teks sejarah atau tafsir hadis, kitab ini adalah mi’raj kecil bagi siapa pun yang ingin memperdalam ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah melalui kisah agung Nabi akhir zaman.
Imam Ad-Dardir, seorang ulama besar dari Mesir yang masyhur dalam fiqih Maliki, tasawuf, dan tafsir, menuliskan kisah Isra’ Mi’raj ini dalam bahasa yang sederhana, tetapi dalam setiap kalimatnya ada kedalaman makna yang menghentak hati. Ia tidak hanya menceritakan apa yang terjadi, tetapi mengapa peristiwa itu penting untuk hati yang sedang mencari Tuhan.

Isra’ Mi’raj adalah peristiwa yang diabadikan langit, tetapi ditujukan untuk hati manusia. Dalam kitab ini, Hijir Ismail bukan sekadar tempat awal keberangkatan, tetapi simbol ruang berserah. Buraq bukan hanya kendaraan langit, tetapi lambang kesiapan rohani yang didorong oleh keikhlasan. Dan Sidratul Muntaha batas semesta bukan hanya titik temu, tetapi juga titik patah bagi logika manusia yang diajak untuk takluk pada rahasia Ilahi.
Kitab ini menyadarkan kita bahwa shalat yang menjadi hadiah utama dari perjalanan itu bukan sekadar rutinitas. Ia adalah pertemuan, pengingat, penyejuk, sekaligus pijakan saat dunia goyah. Dalam satu tarikan napas takbir, kita diajak menyusuri jejak mi’raj Nabi. Dan dalam satu sujud yang penuh sadar, kita diberi ruang untuk kembali pulang.
Apa yang membuat karya Ad-Dardir ini istimewa adalah caranya menyampaikan peristiwa besar dengan kedalaman ruhani yang meresap. Kisah Isra’ Mi’raj dalam kitab ini dipenuhi dengan simbol-simbol spiritual: kisah para nabi yang ditemui Rasulullah, gambaran umat-umat terdahulu, gambaran surga dan neraka, serta peringatan tentang dunia yang melalaikan. Setiap bagian seolah menggugah kita, “Sudah sejauh apa engkau berjalan menuju Tuhanmu?”
Kitab ini juga menjadi pengingat bagi kita yang hidup di era percepatan dan kelelahan: bahwa mi’raj sejati tak butuh kecepatan, tapi kejernihan niat. Dan bahwa kesembuhan jiwa kadang datang bukan lewat terapi dunia, tapi lewat penghayatan ibadah yang khusyuk dan terhubung.
Saya bersyukur kitab ini akan saya bacakan dalam majlis Isra’ Mi’raj di Masjid Ar Rahman, Sangatta. Di kota yang jauh dari pusat ilmu, kadang kita ragu bisa menyentuh langit. Tapi justru di tanah-tanah sunyi inilah mi’raj bisa dimulai. Bukan karena kita tahu segalanya, tetapi karena kita siap untuk berpasrah dan belajar.
Semoga setiap huruf yang saya sampaikan, setiap ayat yang kita resapi, dan setiap hikmah yang kita ambil dari kitab Sharh Ad-Dardir ‘Ala Qishatul Mi’raj dapat menjadi wasilah untuk mi’raj batin kita masing-masing naik setingkat lebih dekat kepada Allah, lebih khusyuk dalam shalat, dan lebih lembut dalam memaknai hidup.
Mari kita simak bersama kisah yang tidak hanya membelah langit, tetapi juga membuka hati.
Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .