Breaking News

Mbah Wahab Chasbullah: Keteladanan dari Jalan Sunyi Seorang Ulama Pejuang

“Ziarah bukan hanya perjalanan menemu makam, tapi perjalanan kembali ke dalam diri—melihat arah hidup, menakar bekal, dan menghidupkan kembali semangat yang nyaris padam.”

Kami sampai di Jombang menjelang sore. Matahari menggantung rendah, cahayanya tidak lagi menyilaukan, justru terasa lembut—seperti hendak menyambut dengan tenang.
Bersama anak perempuan saya dan keluarga dari Magetan, kami melangkah menuju maqbaroh KH. Abdul Wahab Chasbullah, seorang ulama besar, pendiri Nahdlatul Ulama, dan tokoh yang namanya tak asing bagi para pecinta khidmah.

Ada hening yang tak bisa dijelaskan saat berdiri di depan pusaranya. Tidak ada tabuhan, tidak ada hiruk pikuk. Tapi justru di situ terasa getaran ruh yang dalam. Saya tidak sedang menemu sosok yang sudah tiada, tapi justru menyapa warisan semangat yang masih hidup. Ziarah ini menjadi titik balik kesadaran, bahwa sejarah bukan untuk dikenang saja, melainkan untuk dijalani ulang—dengan nilai dan semangat yang sama.

KH. Abdul Wahab Chasbullah, atau yang akrab disapa Mbah Wahab, bukan hanya seorang kiai kampung yang mengajar santri di pesantren. Beliau adalah arsitek pemikiran kebangsaan, penggerak sosial, diplomat ulung, dan intelektual Islam yang jauh melampaui zamannya. Saya membayangkan sosok beliau bukan dengan jubah kebesaran, tapi dengan langkah yang pelan, suara yang lembut, dan keberanian yang kokoh. Dalam sejarahnya, tercatat momen saat Mbah Wahab dikirim ke Mekkah oleh para ulama untuk menyampaikan penolakan terhadap rencana pembongkaran maqam Nabi Muhammad SAW.

Penguasa Wahhabi kala itu merancang tata ulang kota Mekkah dan Madinah, yang berpotensi menghilangkan situs-situs suci termasuk makam Rasulullah. Sebuah tindakan yang tidak hanya menyinggung perasaan, tapi juga melukai sejarah dan spiritualitas umat. Mbah Wahab tampil sebagai wakil ulama Nusantara, menyuarakan keberatan bukan dengan marah, tapi dengan argumentasi dan adab. Dalam ruang-ruang diplomasi internasional, beliau menunjukkan wajah Islam Indonesia yang tenang namun tajam, lembut tapi tak menyerah. Dan suara beliau didengar.

Dunia mungkin mengenang diplomat modern dengan jas dan dasi, tapi Mbah Wahab membawa diplomasi dengan sarung, sorban, dan ketajaman akal. Apa yang dibawa beliau ke dunia internasional bukan sekadar keberatan pribadi, tapi suara mayoritas umat Islam Indonesia yang mencintai Rasulullah dengan penuh penghormatan. Saya membayangkan: berapa banyak rintangan yang harus beliau hadapi? Bahasa, perbedaan mazhab, tekanan kekuasaan? Tapi beliau menembus itu semua—dengan akal jernih dan hati yang bersih. Ziarah ini membuka satu pintu kesadaran: bahwa umat yang besar bukan hanya dibentuk oleh jumlah, tapi oleh adab dan keberanian menyuarakan kebenaran dengan cara yang tepat.

Menggendong Anjing Van der Plas: Antara Lelucon dan Strategi

Ada satu kisah yang sering dibicarakan, bahkan dijadikan bahan candaan, namun sesungguhnya menyimpan kebijaksanaan mendalam: kisah Mbah Wahab menggendong anjing pejabat Belanda, Van der Plas. Waktu itu, NU hendak menyelenggarakan Muktamar ke-4 di Semarang. Izin sulit didapat karena ketatnya aturan pemerintah kolonial. Maka Mbah Wahab datang sendiri ke rumah Van der Plas. Saat sang pejabat sibuk dengan anjing peliharaannya, Mbah Wahab tanpa sungkan menggendong anjing itu dan bercanda ringan.

Apa yang terjadi setelah itu? Izin keluar. Muktamar berjalan. NU tetap tegak berdiri. Saya terdiam lama merenungi cerita ini. Di satu sisi, tindakan itu terasa nyeleneh. Tapi di sisi lain, itulah puncak dari diplomasi kultural: membaca situasi, menjinakkan ego lawan, dan tetap mencapai tujuan tanpa kekerasan. Bukan kompromi. Bukan tunduk. Tapi ketegasan yang diselubungi kebijaksanaan.

Saya menggenggam tangan anak perempuan saya lebih erat. Ia masih kecil, belum tahu siapa itu Mbah Wahab, belum paham makna perjuangan atau diplomasi ulama. Tapi saya ingin, dalam diamnya ia bisa menyerap getaran cinta dan hormat dari ayahnya kepada para pendahulu. Dalam hati, saya berbisik:
“Nak, jika kelak kau menghadapi hidup yang rumit, belajarlah dari ulama seperti Mbah Wahab. Jangan hanya belajar keras kepala, tapi juga lembutnya sikap. Jangan hanya ingin menang, tapi juga tahu kapan harus mengalah demi kebaikan yang lebih besar.”

Saya ingin anak saya tumbuh bukan hanya cerdas, tapi beradab. Bukan hanya tahu, tapi mampu menjaga marwah pengetahuan itu. Karena itulah inti dari perjuangan para ulama: menjaga agama tanpa kehilangan akhlak.

Kita hidup di zaman yang ramai sorak, tapi sering kehilangan arah. Banyak yang lantang bicara, tapi minim keberanian bertindak. Banyak yang ingin tampil, tapi lupa bahwa keberkahan perjuangan justru ada pada jalan sunyi yang tak semua orang kuat tempuh. Mbah Wahab bukan tokoh yang sibuk mencari panggung. Tapi sejarah mencatat namanya karena beliau memilih jalan pelayanan, bukan pencitraan. Dan itu yang membuat beliau abadi dalam ingatan umat. Ulama bukan selebritas. Ulama adalah pelita. Ia hadir bukan untuk ditonton, tapi untuk menerangi.

Saya pulang dari ziarah ini dengan hati yang dipenuhi tanya. Apakah kita sudah cukup menghormati warisan para muassis? Apakah kita sudah menjadi bagian dari perjuangan mereka, atau hanya numpang nama? Menjadi ulama, bagi saya, bukan melulu soal gelar atau status. Tapi tentang cara hidup menjaga ilmu, mencintai umat, berani mengambil risiko demi kebenaran.

Dan di titik ini, saya merasa kita semua bisa belajar menjadi “ulama kecil” dalam lingkup masing-masing: menjadi guru yang tulus, pemimpin yang adil, ayah yang mendidik, atau bahkan warga yang jujur. Karena perjuangan bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana. Satu hal yang saya bawa pulang dari maqbaroh Mbah Wahab: bahwa perjuangan belum usai. Bahwa masih banyak ruang yang harus kita isi dengan nilai dan keteladanan. Zaman boleh berubah. Teknologi boleh melaju. Tapi akhlak dan kecerdasan spiritual tetap menjadi fondasi utama bangsa ini bertahan.

Terima kasih, Mbah Wahab. Bukan hanya karena engkau mendirikan NU. Tapi karena engkau mengajarkan bahwa menjadi pejuang bisa dilakukan dengan kesantunan, keberanian, dan cinta yang tak mengharap tepuk tangan.

Bacaan Terkait di Sismanto.ID:

About sismanto

Check Also

Timbangan Amal

Manusia sering mengira bahwa amal dinilai dari apa yang tampak. Semakin besar pengorbanan, semakin tinggi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Sismanto

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading