Tidak banyak yang tahu, bahwa sosok sederhana di SDN 1 Biromaru—sebuah sekolah dasar yang terletak di Jalan Tondei, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah—pernah mewakili provinsinya sebagai Guru Berdedikasi Tingkat Nasional pada tahun 2002. Namanya Rizal. Pria kelahiran 7 Agustus 1976 ini kini menjadi teladan di kalangan pendidik, namun siapa sangka perjalanannya menuju dunia pendidikan dimulai dari tempat yang sama sekali berbeda.

Sebelum menapaki jalan sebagai guru, Rizal adalah makelar kendaraan bermotor. Sejak tahun 1995 hingga 2005, ia bergelut dalam dunia jual-beli mobil dan motor, mengandalkan selisih komisi dari setiap transaksi yang ia jembatani. Dari hasil itulah, ia menyisihkan rupiah demi rupiah untuk membiayai kuliahnya. Tahun 2003 menjadi titik balik ketika ia mendaftar di program D2 PGSD Universitas Tadulako Palu. Modal nekat dan kerja keras adalah bekal utamanya.
Rizal awalnya bercita-cita menjadi polisi—sebuah impian yang diwarisinya dari sang ayah, Ndese, seorang pensiunan Bripka. Namun takdir berkata lain. Impian itu kandas. Tekanan keluarga justru mendorong Rizal ke jalan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: menjadi guru. Enam orang saudara kandungnya telah lebih dulu menjadi PNS. Hanya dia yang belum. Ketika peluang kuliah terbuka, keluarga tak sekadar mendesak, tetapi memberi motivasi. Dan Rizal, meski sempat ragu, akhirnya menempuh jalan itu.
Tak disangka, dunia pendidikan rupanya begitu dekat dengan jiwanya. Sejak SMP hingga SMA, Rizal dikenal sebagai siswa berprestasi—juara kelas, tekun membaca, dan selalu haus pengetahuan. Setelah menyelesaikan D2, ia mencoba peruntungan ikut seleksi CPNS guru formasi umum. Tahun 2006, Rizal resmi diangkat sebagai guru dan ditempatkan di Dusun Bambu, wilayah terpencil Kecamatan Biromaru, selama delapan tahun.
Semangat belajarnya tak luntur. Antara mengajar dan mengasuh keluarga, Rizal kembali kuliah. Ia menyelesaikan program S1 PGSD pada 2010, lalu melanjutkan S2 di Universitas Tadulako. Tahun 2014, ia lulus sebagai magister pendidikan dengan predikat cumlaude. Bagi Rizal, menuntut ilmu adalah bagian dari tanggung jawab moral sebagai guru.
Puncak pengakuan nasional datang kembali pada 2017, saat ia terpilih sebagai salah satu peserta Bimbingan Teknis Nasional untuk penyusunan karya tulis ilmiah. Ajang ini diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (P4TK IPA). Dari ribuan guru se-Indonesia, Rizal berhasil lolos dengan proposal penelitian tindakan kelas berjudul “Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Siswa Kelas 4 SDN 1 Biromaru dengan Menggunakan Model Pembelajaran Guided Discovery Learning”.
Di sana, Rizal mendapatkan pengalaman yang luar biasa: dikenalkan dengan konsep Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), pelatihan menulis buku, strategi publikasi, hingga bedah naskah dan pemasaran. Dari situlah ia merajut mimpi barunya: menjadi penulis buku pendidikan yang abadi dalam sejarah.
Baginya, menulis bukan sekadar menorehkan kata, tetapi merekam jejak perjuangan dan menyuarakan nilai. “Sehebat apapun seseorang, jika ia belum menulis, maka ia akan hilang dari sejarah,” ujar Rizal, mengutip kalimat dari tokoh idolanya, Pramoedya Ananta Toer.
Kepada murid-muridnya dan generasi muda di seluruh Indonesia, Rizal berpesan,
“Untuk sukses dalam hidup, kalian harus punya impian. Impian adalah jembatan yang akan membawa kalian menyeberang menuju masa depan. Jadilah seperti pohon pisang—ia tidak akan mati sebelum berbuah.”
Baca juga:
Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .