![]()
Majelis Al-Hikam, Rabu 3 September 2025
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah yang telah mengumpulkan kita dalam majelis yang mulia ini, untuk memperingati hari kelahiran manusia agung, Sayyid al-Kawnayn, Nabi Muhammad SAW. Sebagai Ketua PCNU Kutai Timur, saya bersyukur dapat hadir dan menyampaikan beberapa butir hikmah dalam acara Maulid Nabi di Majelis Al-Hikam pada Rabu, 3 September 2025. Di tengah tantangan zaman yang terus bergerak cepat, peringatan Maulid tetap menjadi penanda bahwa cinta kepada Nabi bukanlah nostalgia, tapi jalan hidup yang membentuk kita sebagai pribadi, sebagai umat, dan sebagai bangsa.
Pertama, saya ingin mengajak kita kembali menengok sejarah Islam klasik di tanah Andalusia. Di sanalah peradaban Islam pernah mencapai puncak keilmuan. Dari negeri itulah lahir ulama besar seperti Imam Abū Isḥāq al-Syāṭibī, penulis al-Muwāfaqāt, serta Ibnu Mālik, penyusun Alfiyah Nahwu. Dua karya ini hingga hari ini masih dipelajari secara mendalam di pesantren-pesantren kita di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa cahaya ilmu dari masa lalu terus menyinari generasi hari ini—selama kita mau membaca, menghormati, dan meneladaninya.
Kedua, kita menyaksikan bahwa dakwah Islam di dunia ini memiliki banyak jalur. Di Andalusia dan wilayah Barat, Islam kadang berkembang melalui ekspansi politik dan kekuatan militer. Namun, di Nusantara, Islam justru hadir dengan kelembutan, melalui pendekatan budaya, sastra, seni, dan keteladanan. Dakwah seperti ini tidak meninggalkan luka, tapi menyuburkan persaudaraan. Inilah model dakwah yang diwariskan para Wali Songo, yang menjadikan tembang, wayang, ukiran, dan bahkan arsitektur masjid sebagai alat dakwah yang menyentuh.
Ketiga, saya ingin mengingatkan kembali bahwa tradisi Maulid memiliki akar sejarah yang kuat. Pada masa Dinasti Ayyubiyah, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi menyelenggarakan lomba penulisan sejarah Nabi untuk menumbuhkan kecintaan umat. Dari situlah lahir karya Al-Barzanji, yang hingga kini masih rutin dibacakan di musholla dan masjid seluruh Nusantara, setiap malam Senin dan Jumat. Bahkan beliau menyampaikan kepada para jamaah haji agar membawa tradisi Maulid pulang ke kampung masing-masing. Dari situlah lahir ragam peringatan Maulid yang khas daerah: kirab budaya, pengajian akbar, hingga tradisi Grebeg Maulud di Jawa dan Yogyakarta. Semua ini adalah ekspresi kecintaan yang disatukan dalam semangat persatuan umat.
Keempat, Islam di Indonesia tidak hanya besar karena jumlah penganutnya, tetapi karena tradisinya yang mengakar: tahlilan, yasinan, selametan, hingga peringatan Maulid—yang semuanya mengikat ukhuwah, memperkuat gotong royong, dan menjaga spiritualitas masyarakat. Tradisi ini tidak perlu dilawan. Justru harus kita jaga agar nilai-nilai luhur Islam tetap hidup dalam bentuk yang membumi.
Kelima, dalam hal sholawat, kita juga menyaksikan kekayaan ekspresi umat Islam Nusantara. Di Jawa ada gamelan dan tembang-tembang sholawat. Di Banjar ada hadrah. Di Padang ada rabana. Di Bugis-Makassar ada irama lokal yang menyentuh. Semuanya adalah manifestasi cinta, semuanya adalah bentuk syi’ar yang menggugah. Dan semua itu, pada hakikatnya, berasal dari hati yang mencintai Rasulullah SAW.
Maka, peringatan Maulid bukan hanya acara tahunan. Ia adalah energi kolektif umat Islam untuk meneladani akhlak Nabi, memperkuat iman, Islam, dan ihsan dalam hidup sehari-hari. Bahkan simbol-simbol kecil seperti telur hias pada batang pisang pun memiliki makna: bahwa dalam tubuh ini, harus tertanam iman, Islam, dan ihsan sebagai tiga pilar risalah.
Sebagai penutup, saya ingin mengajak hadirin sekalian: jangan lelah mencintai Nabi. Jangan ragu melestarikan tradisi. Jangan pernah takut menjaga identitas budaya Islam kita. Karena dari cinta yang sederhana inilah, tumbuh kekuatan yang mampu menyatukan umat di tengah zaman yang makin bising dan terbelah.
Maulid adalah jalan kita mencintai, mengenal, dan meneladani. Mari teruskan semangat ini—dengan syair, dengan doa, dengan budaya, dan tentu saja, dengan akhlak.
Wassalāmu ‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Sismanto Kumpul dan Berbaris . . .